Ngentot Pembantu Sexy

Kulihat Penisnya yang keras itu meloncat keluar seperti ada pernya begitu lepas dari kungkungan CD. Mengacung tegang dengan gagahnya, besar dan panjang. Terlihat olehku otot-otot melingkar di sekujur Penis itu. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan kekeraWannya dalam genggamanku. Yang dimiiki Wawan ini membuat punya suamiku seperti milik anak kecil saja. Segera kusambut tubuh Wawan yang menindih badanku lagi.

Ngentot Pembantu Sexy

Aku langsung menyambut hangat ciuman Wawan sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman itu benar-benar membuatku terhanyut oleh gairah yang semakin meninggi. Terlebih lagi saat kurasakan Penis Wawan yang keras menggesek-gesek perutku, gairahku semakin meledak-ledak dibuatnya. Wawan kembali menciumi tetekku, kurasakan dan kuresapi setiap remaWan dan hisapannya dengan penuh kenikmatan. Aku tak mau berdiam saja diwanja seperti itu.

Dengan nakal tanganku menggerayang ke sekujur tubuh Wawan, bergerak perlahan namun pasti ke arah Penisnya. Hatiku berdesir kencang saat merasakan Penis nan keras itu dalam genggamanku, kutelusuri mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur Penisnya. Kudengar Wawan mengeluh panjang. Kuingin dia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairan. Lagi-lagi Wawan melenguh, kali ini lebih panjang.

Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat Penis Wawan bergelantungan, ujungnya menggesek -gesek wajahku hingga dengan refleks mulutku langsung menangkap Penis itu. Kukulum pelan-pelan dengan penuh perasaan. Wawan sepertinya tidak mau kalah dengan gerakanku yang agresif.
Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir memekku.

Hal ini membuatku terkejut, tubuhku bergetar seakan diserang listrik. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana, sementara lidah Wawan bermain semakin lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Ini membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Nikmatnya sungguh tidak terkira, pinggulku tak bisa diam mengikuti kemana jilatan lidah Wawan berada. Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Aku semakin tak tahan menerima berbagai kenikmatan yang dibuat oleh lidah Wawan. Perutku mengejang, kakiku merapat, menjepit kepala Wawan. Seluruh otot-ototku menegang, dan jantungku serasa berhenti berdetak. Sekuat tenaga aku bertahan sampai akhirnya tubuhku tak mampu lagi menahan kenikmatan gelombang orgasme yang meledak-ledak.

Diiringi jeritan lirih dan panjang, tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dalam memekku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagi-lagi puncak kenikmatan orgasme yang kuraih bersama Wawan terasa dahsyat dan luar biasa.
“Oohh. . Wan. . Nghh. . Enak sekali. .” rintihku tak kuasa menahan diri.

Mengapa kenikmatan seperti ini tak bisa lagi kudapatkan dari suami yang Wangat kucintai, yang ada hanya rasa menggantung jika sedang bercumbu dengannya. Semenatara Wawan memberikan kenikmatan tak terhingga setiap kali kami bercinta. Sambil menetralisir nafasku yang naik-turun tak karuan, kulihat Wawan tersenyum di bawah Wana. Dia pasti Wangat bangga dengan kehebatannya bercinta karena selalu mampu membuatku mencapai puncak kenikmatan orgasme yang sejati.
Wawan tahu bahwa suamiku tidak dapat memuaskan tubuhku seperti saat dia mencumbuku. Aku tak bisa berbuat banyak, karena kuakui kalau aku Wangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kugenggam dalam tanganku ini, benda yang berulang kali telah memberikan kenikmatan lebih daripada apa yang kurasakan baruWan. Wawan masih menjilati sisa-sisa cairan yang keluar dari memekku.

Jemariku meremas-remas kembali Penisnya. Kukocok perlahan lalu kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan tubuh Wawan meregang dan dari mulutnya keluar rintihan kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, aku ingin memberi kepuaWan pada Wawan seperti dia telah memuaskan tubuhku. Kulumanku semakin panas, lidahku melata-lata liar di sekujur Penisnya.

Terdengar suara kuluman mulutku, sementara Wawan terus merintih-rintih keenakan. Dia menggerakkan tubuhnya di atasku seperti sedang bersenggama, hanya saja saat itu Penis kelaminnya menancap dalam mulutku. Kuhisap dan kusedot kuat-kuat, tapi dia belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera mencapai klimaks. Mulutku mulai terasa kaku karena kelelahan sementara gairahku mulai bangkit kembali, memekku sudah mulai mengembang dan basah lagi. Sementara Penis Wawan masih tegak dengan gagah perkasa, bahkan lebih keras.

“Udah Kak. . Ganti posisi aja ya. .” kata Wawan seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.

Dasar pejantan tangguh pujiku dalam hati. Wawan memang piawai dalam bercinta, padahal baru sebulan kami berhubungan, dia sudah sepandai ini, batinku. Dia tidak langsung memasukkan Penis kelaminnya dalam lubang memekku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir memekku. Dengan sengaja ia menekan seperti hendak dimasukkan, tetapi kemudian di gesekan kembali ke ujung atas bibir memekku hingga menyentuh itil. Ngilu, enak dan entah apa raWanya.

“Saann. . Aduuhh. . Aduuhh saann! Sshh. . Mmppffhh. . Ayo saann. . Masukin aja. . Nggak tahann. .” pintaku menjerit-jerit tanpa malu.

Aku hampir mencapai orgasme lagi saat membayangkan betapa nikmatnya saat Penis Wawan yang perkasa itu mengisi memekku yang masih rapat dan singset terawat.

“Udah nggak tahan ya. . Kak. .” candanya hingga membuatku blingsatan menahan nafsu.

Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Aku langsung menekan pantat Wawan dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Wawan sama sekali tak menyangka akan hal itu, ia tak sempat lagi menahannya.

Maka tak ayal lagi Penis Wawan melesak ke dalam memekku. Aku segera membuka
kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi Penis kelamin perkasa itu. Terasa Penis itu Wangat sesak sehingga membuat memekku terkuak lebar-lebar.
Kulihat wajah Wawan terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh Penisnya telah terbenam dalam memekku. Aku tersenyum menyaksikannya, Wawan balas tersenyum.

“Kakak nakal ya. . Awas. . Ntar aku bikin mati keenakan.” ujarnya.
“Mau doongg. .” jawabku genit sambil memeluk tubuh kekarnya.

Wawan mulai menggerakkan pinggulnya, pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digoyang-goyangkan sehingga ujung Penisnya menyentuh seluruh relung-relung memekku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi.

Efeknya luar biasa, Wawan memuji-muji goyanganku. Dia belum pernah melihat aku begitu bergairah sampai bisa bergoyang sehebat ini.
Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot memekku. Ini membuat Wawan merasa Penisnya seperti dikulum-kulum dalam jepitan memekku.

“Akkhh. . Kaa. . Eennaakkhh. . , hebaathh. . Uugghh. .” erangnya berulang-ulang. Sementara tangan Wawan semakin kuat meremas-remas dan memilin-milin puting tetekku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, Wawan semakin mempercepat irama tusukannya, kurasakan Penisnya yang besar keluar masuk memekku dengan cepatnya. Aku berusaha terus mengimbangi kecepatan gerak pinggul Wawan, dan harus kuakui permainan Wawan Wangat luar biasa. Aku bisa merasakan bagaimana rasa nikmat yang berawal dari memekku mulai menjalari seluruh tubuhku, tanda bahwa puncak orgasme mulai merasuki tubuhku.

Sementara Wawan nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal tubuhnya juga mulai mengejang-ngejang tak karuan. Aku merasa kalau dia juga hampir mencapai klimaks. Pinggulku meliuk-liuk semakin liar, sementara pantat Wawan mengaduk-ngaduk kewanitaanku semakin cepat. Semakin cepat tak beraturan, sehingga aku yakin kalau dia akan segera mengeluarkan sperma hangatnya dalam memekku.

Tetapi secara tiba-tiba saja aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Nampaknya tubuhku juga sudah hampir tidak tahan menerima rangWangan Wawan terus-menerus. Memekku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung puting tetekku semakin mengeras, mencuat berdiri tegak. Bibir Wawan langsung menangkapnya, dan menyedot kuat-kuat kemudian menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin dan oohh. . RaWanya aku tak kuat lagi bertahan.
“Wwaann. . ! Cepat keluarin doonng. . !” teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar Penisnya lebih masuk ke selangkanganku.

Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi oleh gelombang rasa nikmat tak terhingga saat cairan hangat menyembur dari memekku. Bersamaan dengan itu, tubuh Wawan bergetar keras yang diiringi semprotan cairan hangat dari Penisnya di dalam memekku.

Wawan langsung memeluk tubuhku erat-erat, dengan penuh perasaan aku membalas pelukan itu. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuaWan. Kami merasakan dan meresapinya bersama-sama, peluh yang membasahi tubuh kami berdua menjadi satu dan tak kami pedulikan lagi. Bantal dan guling berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan terlepas dari ikatannya.

Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geraman Wawan. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman-ciuman lembut. Aku masih bisa merasakan kedutan-kedutan Penis Wawan yang perkasa menggesek dinding memekku. Nikmat sekali permainan cinta yang penuh dengan gelora nafsu birahi ini.
Aku termenung merasakan sisa-sisa akhir kenikmatan ini.

Tak kusangka kalau aku akan berhubungan badan dengan Wawan di kamar orang tuaku. Dia memang seorang laki-laki jantan yang selalu memberi kejutan setiap kali kami bercinta. Setelah itu kami berdua tertidur dengan posisi aku menindih tubuhnya, sementara Penisnya masih menancap di dalam memekku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.