VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Ngentot Saat Daftar Kuliah

VIMAX ASLI Obat Kuat

Pengalaman ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Saya baru saja lulus SMA dan sedang persiapan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Saya termasuk pria yang bertampang lumayan, cukup pintar, dan berperawakan sedang. Panggil saja saya, Fikri. Selama di SMA, saya mempunyai kelompok teman yang selalu bermain bersama. 3 anak laki-laki dan 4 anak perempuan.

Ngentot Saat Daftar Kuliah

Sebagian besar teman-teman saya melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri karena memang sekolah saya termasuk sekolah elite di kota J yang menghasilkan siswa-siswi dengan hasil lulusan yang cukup baik. Karena saya berasal dari keluarga ekonomi menengah, pilihan sekolah ke LN menjadi tidak mungkin. Dari kelompok kami hanya tersisa 3 teman perempuan dan saya.

Kami bingung mau melanjutkan ke mana, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk ke kota B yang mempunyai beberapa universitas swasta dan negeri yang cukup terkenal. Saya, Dilla, Febby, dan Indri memutuskan untuk mendaftar bersama ke kota B.

Di sinilah petualangan kami dimulai. Kami berkumpul bersama di rumah Indri dan orang tuanya meminjamkan mobil mereka untuk kami pakai. Kami memang sering pergi berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang sampai menginap beberapa hari di luar kota. Jadi pada saat kami pergi, orang tua teman-temanku tanpa curiga mengijinkan putri-putri mereka berangkat ke kota B dan menginap tiga malam di sana. Sekalian liburan kata kami.

Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kami menghadapi ujian masuk dengan kepercayaan tinggi. Maklum, kami semua termasuk berotak encer. Sore hari kami setelah selesai ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuknya di sekitar kota B. Kami menyelesaikan administrasi dan segera masuk ke kamar. “Wah! Ternyata kamarnya besar juga yah! Ada ruang tamunya lagi,” kataku. “Fikri, kamu tidur di sofa aja yah!

Kita berdua ambil ranjangnya!” sahut Febby. “Yah… Curang… kan baru kali ini saya menginap bareng perempuan dalam satu kamar! Siapa tahu….” komplainku. “Maunya..” kata Indri sambil mendorong diriku ke arah sofa. Kami semua menjatuhkan pantat di sofa sambil melepas lelah. Setelah berbincang selama setengah jam mengenai soal-soal Ujian masuk tadi siang, kami pun bergantian mandi menyegarkan badan.

Kami pun memesan makan malam dari room service karena kami terlalu lelah untuk keluar mencari makan. Dilla akan menyusul besok pagi dan ketemuan di kota B. Dia sudah menghadapi ujian masuk seminggu lalu. Pilihan universitasnya berbeda. Oh iya, saya belum menjelaskan penampilan teman-teman saya. Dilla : Gadis ini pemalu dengan badan kecil yang sangat indah. Saya tahu ini karena Dilla sangat suka memakai baju yang menunjukkan lekuk badannya. Dadanya berukuran sedang saja 36.

Senyumnya manis sekali. Febby: Gadis ini juga berbadan kecil tetapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar daripada milik Dilla. 34C ukuran BHnya. Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang membeDillan senyum menggoda. Hampir semua anak laki-laki di sekolahku mengejar dia. Manis dengan dada besar. Siapa yang tidak tertarik? Indri: Gadis bertubuh jangkung yang senang memakai kaos longgar dan berjiwa bebas. Asyik diajak bertukar pikiran, pintar, dan sedikit tomboi.

Senang sekali olahraga dan sangat jago bermain volley. Paling enak jadi lawan mainnya di lapangan. Posisiku sebagai tosser sering membuatku berada di depan net dan berhadapan muka dengan Indri. Posisi siap menerima bola dan kaos longgarnya sering mengganggu konsentrasiku di lapangan.

Ngentot Saat Daftar Kuliah

Indri : “Mau ngapain nih? Baru jam 6 sore kita dah selesai makan malam.” Febby : “Kita main kartu aja yuk” Fikri : “Memangnya bawa?” Febby : “Bbawa kok. Dilla, ayo dikeluarin. Kita main poker aja.
Pakai uang bohongan aja. Biar seru ada taruhannya.” Kami pun bermain selama satu jam ketika Febby menyeletuk. Febby : “Tidak seru nih.. bosan.. gimana kalau dibuat lebih seru?” Fikri : “Maksud kamu, Dill?” Febby : “Strip poker!!” “Gila kamu, Dill!” Febby : “Kaga berani?” Saya lagi terpatung dengan keberanian ide Febby. Indri : “Siapa takut? Berani kok walau ada Fikri!” Pipi saya jadi memerah dan berasa panas. Ada rasa malu juga. Glek.. saya menelan ludah.. Ada kemungkinan dua gadis muda cantik akan telanjang di depanku. Febby : “Berani tidak, Fik? Diam aja. Malu yah telanjang di depan cewek-cewek?’ Wah, otakku langsung berputar cepat. Harus memikirkan semua kemungkinan. Jangan sampai saya kalah dan tidak melihat gadis-gadis telanjang. Fikri : “Berani dong! Tapi nanti kalian curang, kaga berani buka beneran!” Febby : “Kalo ada yang kaga berani buka, kita semua yang paksa buka! Setuju tidak?”

Kita semua menganggukkan kepala menandakan persetujuan. Jantungku makin berdebar kencang dan kelaminku mulai mengeras karena kemungkinan kejadian di depan mata. Fikri : “Ya dah.. Aturannya gimana nih Dill?” Febby : “Kita semua punya modal 1000. Taruhannya setiap kelipatan 10 dan paling besar 100. Kalau modal 1000 habis, gadaikan pakaian dengan harga 500. Setuju?” Kami semua setuju. Fikri : “Kita main sampai kapan? Sampai satu orang bugil atau sampai semua bugil?” Febby : “Sampai semua bugil dong! Biar adil!!” Indri: “Ok deh. Tapi kasihan Fikri dong. Dia kan paling cuma punya 3 potong baju. maksudnya cuma kaos, celana dan celana dalam. Kita cewek-cewek kan kelebihan BH.” Febby : “Iya yah… ya udah biar adil, kita semua lepas BH deh.” Febby langsung dengan cekatan melepas BH merah mudanya tanpa melepaskan kaos dan melemparkan BHnya ke mukaku. Harumnya BH langsung memenuhi hidungku. Tanpa kusadari BH kedua pun mendarat di mukaku. Ini milik Indri. BH dengan warna cream kulit. Hahahahaha… kamipun tertawa bersama. Febby : “Ayo mulai! Sudah adil kan, Fik?

Kita masing-masing cuma punya 3 modal.” Fikri : “Sebentar.. pakaian yang sudah ditanggalkan bisa dipakai lagi ga?” Febby : “Hmm… TIDAK BOLEH! Yang sudah lepas, tidak boleh dipakai lagi!” Fikri : “Kalau yang sudah bugil kalah lagi gimana? Kan modalnya habis!!” Febby : “Banyak nanya yah kamu, Fik! Gimana Ind?” Indri : “Boleh dipegang-pegang deh sama yang menang. Dipegang-pegang selama 1 menit!” Wah asyik nih peraturannya… tetapi otakku sudah mulai pindah ke kelamin nih.. “Pegang doang kaga seru ah, gimana kalo dadanya dihisap-hisap!” Febby : “Ih kamu, Fik…. Mau dong!!”

Dengan suara manisnya sambil melirik nakal ke arahku!” Indri dan Febby tertawa terbahak-bahak. Febby : “Tapi kalau kamu yang sudah bugil dan kalah gimana, Fik? Saya hisap tititnya yah!!” Indri : “Wah saya juga mau hisap titit Fikri!” Benar-benar tidak disangka! 3 tahun bersama di SMA, saya tidak menyangka teman-temanku ini nakal juga. Permainan pun dimulai. Keahlianku bermain strip poker di komputer ternyata sangat bermanfaat. Indri segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya. Indri hendak membuka celananya, tetapi dicegah oleh Febby. Febby :”Wah kaga boleh sendiri yang nentuin buka celana. Fikri, mau suruh Indri buka apa?” Wow, thanks Febby! Aku teringat kalau mereka sudah lepas BH, tentunya dengan melepas kaos, dada Indri akan terbuka. Fikri : “Tentu saja kaos dong. Kapan lagi bisa lihat payudara dari dekat!” Indri dengan malu-malu mulai melepas kaosnya dan dengan segera menutupi puting payudaranya dengan satu tangan. Saya terkesima dengan pandangan indah di depan mata. Animasi strip poker di permainan komputer tidak seindah pemandangan di depan mata.

Febby : “Ind.. mana boleh ditutupin dadanya. Buka dong!” Febby menggaet tangan penutup payudara dengan segera. Indri sedikit memberontak sambil memerah wajahnya. Indri tertarik tangannya, memperlihatkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek.. saya menelan ludah. Indri : “Fik, tutup mulut dong.. Masa sampai menganga terbuka gitu melihat dada gue.” Indri dan Febby tertawa. Ini membuat Indri jadi relaks dan pasrah dadanya terpampang jelas. Wah kalo mereka serius kayak gini, mendingan saya kalah saja. Mengingat kalau kalah terus, tititku akan dihisap selama 1 menit setiap kekalahan. Hahahaha.. otakku kotor juga. Maka dilanjutkanlah permainan.

Dengan segera saya menjadikan diri telanjang. Celana dalam saya buka perlahan-lahan memperlihatkan titit yang sudah mengeras sejak tadi. Saat itu, Febby, dengan payudara montoknya pun tinggal celana dalam saja. Kedua gadis ini memperhatikan celana dalamku dengan seksama sambil menahan napas menunggu tititku seluruhnya terlihat. Febby : “Wah sudah keras yah, Fik! Bagus lho bentuknya!” Fikri : “Gimana tidak keras… ngelihat dua pasang payudara yang bagus-bagus!”

Rupa-rupanya Febby sudah tidak tahan lagi. Aku langsung ditabraknya dan tititku langsung dipegangnya. Dengan gemas Febby mulai mengocok tititku sambil sesekali dijilatnya. Tentu saja saya tidak tinggal diam. Tanganku mulai meremas-remas payudara Febby yang cukup besar. Tidak cukup dengan remasan, akhirnya aku meraup payudara kiri dan mulai menghisapnya. “Ahh.. Enak banget, Fik! Terus hisap..” Sambil menghisap payudara Febby, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya.

Karena saya tidak mau melepaskan hisapan, tentu saja melepaskan celana dalam jadi lebih sulit. Febby membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri. Tititku yang menjadi lepas dari pegangan Febby, langsung disambut Indri dengan kulumannya. Mimpi apa semalam. Dua gadis sudah mengulum tititku. Kami pun pindah ke ranjang. Saya berbaring di ranjang dengan titit menjulang langit.

Febby melanjutkan membeDillan payudaranya untuk saya hisap dan Indri kembali mengulum tititku. Tangan saya mulai bergerilya ke vagina Febby. Basah. Licin. Saya pun mulai menggesekkan jari ke clitorisnya. Licin sekali. Febby pun mendesah dengan kenikmatan yang dialaminya di bawah. Indri yang melihat Febby mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke sebelah mukaku. Badan indjangnya memang membuat posisi hampir 69 tersebut sangat mudah terjadi. Tanganku pun menggosok vagina Indri yang juga sudah sangat basah. Tangan kiri di vagina Indri, tangan kanan di vagina Febby. Kukocok keduanya dengan kelembutan yang lama-lama bertambah cepat.
Indri dan Febby blingsatan dibuatnya. Indri berguncang hebat sampai melepaskan hisapan di tititku dan mengeluarkan lenguhan panjang yang sangat seksi. Febby menyusul dengan teriakan yang tidak kalah seksinya. Keduanya terjatuh di kiri kananku dengan lemasnya. Aku yang sudah tegangan tinggi tidak mau tinggal diam.

Aku menghampiri Febby dan membuka lebar-lebar selangkangannya. Terlihat vagina bersih yang sangat indah. Bulu- bulu halusnya sangat seksi. Aku mulai menggesekkan kepala tititku ke vagina Febby. Ah….. licin dan enak. Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini. Febby yang mulai merasakan kenikmatan, mulai bereaksi dengan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama gesekan.

Febby semakin meracau…”Oohhh… aahhh… ohh..my… God…..Enak banget Fik” “Terus Fik… Enak… ahhh… aahhHHH….AAAHHHHHH…Gila.. enak banget Titit lu Fik!! Gue dah sampe nih” “Baru digesek aja dah enak gini yah, Fik… gimana kalo dimasukin yah? Masukin deh Fik..” “Serius lu, Dill? Lu mau gue perawanin? Gue sih dah nafsu banget nih.” “Iya, Fik… Gue pengen ngerasain titit lu di dalam gue… di luar aja dah enak, apalagi di dalam.” Aku tidak pikir panjang lagi.. langsung berusaha merangsek ke dalam vagina Febby. “Oww.. pelan-pelan Fik.. Sakit tahu!!” “Ok, Dill.. gue pelan-pelan nih” Pelan-pelan kepala titit gue mulai terbenam di vagina Febby. Terasa mentok.

Aku yang tidak pengalaman berpikir kok tidak dalam yah? “Dill, udah masuk belom sih?” Febby yang mulai meringis menahan sakit, “Kayaknya sih belom deh… tapi terusin aja.” “Lu yakin, Dill? Kayaknya lu kesakitan gitu.” “Terus aja, Fik. Gue pokoknya mau titit lu di dalam gue.” “Ya udah kalo gitu.. Gue terusin nih..” Dengan tiga sodokan keras yang disertai rintihan Febby, akhirnya tititku masuk juga sepenuhnya. “Wah.. Febby… kayaknya titit gue dah masuk semua nih” “Iya.. Fik…” sambil menahan sakit “diam dulu, Fik.. jangan digerakin dulu..gue masih rada sakit..” Ahh.. nikmatnya vagina perawan.. tititku berasa banget diremas-remas oleh vagina sempit Febby.

Tanpa kusadari, aku mulai menggerakkan pelan- pelan pantatku. Keluar masuk secara perlahan. Febby pun mulai bernafas secara teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya. “Pelan-pelan yah Fik… masih sakit tapi dah mulai enak nih… vagina gue berasa penuh banget diisi titit lu” Indri yang dari tadi menonton menunjukkan ekspresi tidak percaya. “Gila lu berdua.. beneran ngentot yah?” Indri pun mendekati TKP dan memperhatikan dengan seksama. “Gila.. gila.. titit lu beneran masuk ke vaginanya Febby, Fik!” “Iya Ind.. Enak banget vagina Febby.. gue bisa ketagihan ngentot nih.” Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai.. kupercepat goyanganku. Febby pun semakin mendesah menggila.

 “Ahhh… Ohhh…Ahhh…Ohhh…Fik.. gue mau sampe lagi nih” “Barengan Dill.. gue juga mau sampe..” Di kepalaku tidak teringat lagi pelajaran Biologi, kalau sperma ketemu sel telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi. “Ayo.. Fik… kita bbaaareeennggg….” Croootttt…croottt.. croottt…Tiga kali aku menyemprotkan mani ke rahim Febby. Ahh… ini perasaan yang luar biasa… kenikmatan berhubungan badan dengan seorang gadis muda yang cantik. Beda banget sama masturbasi. Hubungan langsung lebih nikmat. Aku langsung terjatuh lemas di sebelah Febby. Indri yang melihat pertunjukkan langsung bagaimana berreproduksi mulai mendekati tititku lagi dan menghisapnya dengan lembut.

Nafasku yang tersengal-sengal perlahan-lahan menjadi teratur seraya menikmati hisapan- hisapan Indri. Dikocoknya perlahan tapi pasti membuat tititku menjadi tegang kembali. “Fik, jangan dimasukin yah. Ini pengen gue gesek-gesek ke vagina.” “Iya, Ind.” Indri pun mengambil posisi WOT dan mulai menggesek-gesek vaginanya di atas tititku. “Enak banget, Ind”

Goyangan lembut Indri membuat payudaranya bergoyang-goyang secara anggun. Pemandangan yang sangat indah. Indri merupakan salah satu wanita impianku. Tinggi, berdada montok, atletis, senang bercanda, dan baik hati. Sekarang dia sedang menggesekkan kelaminnya dengan kelaminku. Ah.. kepengen masukin d. Segera kubalikkan posisi sehingga aku sekarang di atas. Kakinya kubuka lebar-lebar. Terlihat vagina yang sangat indah. Bahkan lebih indah daripada punya Febby.

Mulus, hampir tanpa bulu. Warnanya pink dan telah basah mengkilap. Tititku langsung berkedut-kedut melihatnya.
Kuarahkan tititku ke vaginanya. “Fik, jangan dimasukkin yah!” “Kenapa Ind? Sudah tidak tahan nih” “Jangan Fik… jangan sekarang.” suaranya lembut meluluhkan hati. Entah kenapa aku berhenti memaksakan kepala tititku. Akhirnya aku hanya menggesek-gesekkan kepala tititku di muka vagina Indri. “Ah… iya Fik.. Begitu saja… gesek saja terus… Ahh… Ahhh” Indri mulai lebih relaks dan lebih melebarkan posisi kakinya.

Melihat itu, aku semakin cepat menggesekkan titit. Semakin cepat gesekan, semakin keras desahan Indri. “OOhhhh… AHhhhh..enak Fik… Teruss.. Terusss.. Lebih cepat lagi… Tee..teeeruussss…. AHHHHHH.” Indri mendapatkan orgasmenya dan cukup banyak cairan O-nya yang keluar. Kasur menjadi basah sekali. Aku melihat Indri mengalami orgasme yang sangat seksi sampai aku terdiam terkesima. Indri cantik sekali…Aku benar-benar terpesona.. Sepertinya aku jatuh cinta dengan Indri.
Febby yang telah cukup beristirahat dan melihat Indri telah lemas mengambil alih situasi.

Dipegangnya tititku dan dikocoknya perlahan. Tititku yang masih belum puas dengan Indri membuat otakku segera beralih ke Febby dan menyuruhku untuk melampiaskannya ke Febby. Lagi pula tititku bisa coblos ke dalam Febby. Dengan segera kubalikkan Febby dan kucoba Doggy style di sebelah Indri yang masih terbaring lemas. Ternyata Doggy style membeDillan sensasi yang berbeda. Rasanya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.. Hanya nikmat..

Walaupun Febby yang sedang aku sodok, tatapanku tidak lepas dari Indri. Indri membuka matanya dan menatapku dengan penuh kemesraan. Senyumnya yang manis membuat hatiku bingung. Di sini aku sedang jatuh cinta dengan Indri, tetapi tititku sedang menikmati pelayanan Febby, dan Indri tersenyum kepadaku.

Ah bingung….. Aku pun tersenyum balik ke Indri sambil semakin keras menyodok Febby. Sodokan kerasku yang terus bertubi-tubi dari belakang membuat Febby tidak dapat menahan diri lagi dan dia mendapatkan orgasme lagi. Aku memperlambat sodokanku agar Febby bisa menikmati orgasmenya. Indri bangun dan membeDillan payudaranya ke mukaku. “Hisap Fik! Biar lu tambah seru!”
Ah.. nikmatnya tetek Indri.. Kenyal tetapi kencang. Tentu saja akibat tetek Indri yang nikmat, goyanganku ke Febby semakin bertambah cepat. “Gila lu Fik, enak banget sih dientot dari belakang sama lu… gue.. mauuuuu… Ahhhhh…” Febby pun orgasme lagi. Aku pun tidak tahan nikmatnya menghisap tetek Indri sambil doggy ke Febby dan akhirnya.. croott…croott… dua kali aku semburkan spermaku. “Fik enak banget disemprot elu… Rasanya nikmat.. kayak mandi air hangat.. tapi ini rasanya di dalam.’ Posisi kami belum berubah.. aku masih menancapkan titit ke dalam vagina Febby sambil terus menyemprotkan sisa-sisa sperma dan mulutku terus mengulum, menghisap dan menggigit-gigit payudara Indri.

“Enak yah Fik, isap tetek gue dan ngentot-in Febby” “Iya Ind! Cuma impian bisa threesome kayak gini tapi gue bisa ngerasain kejadian benernya.” “Udah dong Fik, cabut titit lu. Pegel nih nungging melulu” timpal Febby. Kucabut tititku tetapi pandanganku terus menatap mata Indri. Kelihatannya aku benar-benar jatuh cinta. Malam itu kami tidur bertiga dalam keadaan bugil. Indri di kananku, Febby di kiriku.

 Tok tok tok.. Pintu kamar hotel diketuk. Febby yang telah bangun lebih dulu membuka pintu dan Dilla terlihat telah sampai dihantar oleh orangtuanya. “Eh.. Dilla” Febby panik “Bokap Nyokap lu mana?” “Tenang Febby, mereka cuma menghantarku kok.. tadi langsung jalan lagi ke kota C.” “Wah… lega.. gue pikir mereka mau masuk ke dalam.”

 “Memangnya kenapa Dill? Eh… lu kok kaga pake BH?” “Itu dia Rik.. takut ketahuan.. Gue kemaren berhasil nih” “Berhasil apaan sih, lu?” “Gue kasih perawan gue ke Fikri!!” “Haahh?? Yang bener lu? Indri juga? Kita semua kan memang kepengen banget dientot Fikri!!” “Indri belum.. masih perawan dia.. kayaknya takut.. tapi udah main juga sama si Fikri, cuma belum dimasukin aja.” “Gue jadi horny nih, Dill. Fikri di mana? Mau gak yah dia?” “Masih tidur tuh.. lu bangunin aja.. laki-laki kalo dikasih perawan mana ada yang nolak.” “Hahahaha…bener juga lu!” “Tuh lihat, Dilla.

Ada yang menonjol di selimut. Dia masih telanjang lho. Kita kemaren tidur begitu gayanya.” “Indri mana, Dill? Kok kaga ada?” “Lagi di kamar mandi. Tuh lu urus si Fikri aja. Pagi-pagi dah tegak gitu. Lu hisap aja dulu tititnya.” Dilla pun menghampiri ranjang dan segera menarik selimut sehingga tititku terbuka dengan leluasa.

 Aku yang masih tidur tidak sadar apa yang sedang terjadi hanya mengetahui kalau tititku mengalami kenikmatan. Perlahan-lahan kubuka mataku berpikir Febby atau Indri sedang mengulum si junior. “Hah? Dilla? Ngapain lu?” tanyaku tanpa berusaha melepaskan diri. Lagi enak kok masa melaDillan diri. Betul gak? “mmlammggii hissmmmaaapp mttiimmtiitttmm mmlu” Jawab Dilla dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.

 “Hahahaha” Febby tertawa geli. “Lanjutin aja Rik, si Fikri kaga nolak tuh.. cuma ngeliatin lu sambil merem melek gitu.” Indri yang mendengar tertawanya Febby, segera melongok keluar dan cukup kaget melihat Dilla sedang mengulum tongkat kenikmatanku. “Eh.. Dilla… baru sampe langsung sarapan aja nih” tukas Indri dengan nada yang menunjukkan kekagetan. Indri keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya. Body Indri memang luar biasa.

Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu. “Fikri.. jangan ngeliatin gue aja dong.. Dilla dah nafsu tuh… puasin gih… kayak lu puasin kita berdua kemarin. Iya gak Dill?” “Iya Ind.. Ayo Fik.. Puasin Dilla.. Perkosa dia.. hahahaha..” “Kaga usah diperkosa.. orang gue mau secara sukarela kok” timpal Dilla. Mendengar jawaban Dilla, aku segera beraksi.

Kucium bibirnya dan kami melewatkan beberapa menit melampiaskannya sambil bertukar air liur. Dilla badannya kecil sehingga dengan mudah kuangkat dari tepi ranjang dan meletakkannya di ranjang. Kudekati Dilla dan menciumnya lagi. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Payudara Dilla aku pijat dan remas-remas halus. Kaos ketatnya segera kubuka memperlihatkan tetek mungil yang kencang. Pentilnya telah keras menjulang ke atas. Pentil yang bagus dan segera kulumat. “Ohh.. enak banget Fik.. terus Fik….aahhh.. ahhh..” Dilla meracau kenikmatan. Hisapan dan kulumanku pun bertambah keras. Tititku sudah sangat kencang sekali. Dengan sedikit agak kasar kulepaskan semua pakaian yang masih melekat di Dilla. Wow.. ternyata Dilla mempunyai bulu jembut yang sangat lebat. Lebat tapi terlihat sangat rapi dan terawat.

Kudekati vaginanya dan tercium wangi vagina yang merangsang. Tapi Indri punya lebih wangi. Ah.. Indri lagi.. ini ada gadis yang sukarela membeDillan perawannya, kok masih mikirin perempuan lain. Kulirik Indri dan kulihat dia tersenyum penuh pengertian. Kujilat vagina Dilla sambil terus melihat Indri. Indri pun tersenyum terus dan membeDillan anggukkannya seakan-akan mengerti kalau aku sedang bertanya bolehkan aku menjilat memek perempuan lain. “ Ohh…oohhh… enak banget Fik.. baru dijilat aja gue dah kayak gini..” “Suruh Fikri ngentotin elu, Rik… Pelan-pelan yah Fik.. Kemaren gue cukup sakit lho” Febby menghangatkan suasana. “Iya Fik.. masukin dong buruan.” “Yakin lu, Rik?” Aku bertanya kepada Dilla tetapi tatapanku kembali ke Indri. Indri pun mengangguk kembali. Aku pun segera membuka lebar selangkangan Dilla.

Vagina Dilla terlihat sangat imut, karena memang Dilla orangnya cukup kecil. Tinggi badannya hanya di bawah bahuku sedikit. Perlahan-lahan aku dorong tititku ke dalam vagina Dilla. Dilla yang sudah sangat basah hanya bisa mendesah. Kepala tititku sudah masuk sepenuhnya tetapi seperti ketemu tembok.

“Siap Dilla? Ini dah di depan selaput dara nih. Tinggal gue sodok masuk” Entah kenapa sekali lagi aku melirik ke Indri dan Indri pun tersenyum kembali. Senyum yang sangat manis. “Iya Fik.. sodok aja.. perkosa gue.. bikin gue hamil.. gue mau anak dari lu.” Dilla sudah lupa daratan. Kupegang pinggul Dilla dengan erat dan kudorong dengan penuh kekuatan. Blesss.. masuk sudah. Dilla menitikkan air mata menahan sakit. “Lanjut Rik?” “Iya Fik. Dah mulai terbiasa nih. Rasanya penuh banget vagina gue” Proses menyetubuhi Dilla pun segera berlangsung. Keluar.. masuk…keluar… masuk..pelan-pelan tetapi pasti vagina Dilla semakin basah. “Gila….Enak..banget….Tahu gini… dari kemaren… gue…ikutan…nginep….”Dilla semakin larut dalam kenikmatan.

 “Ohh…ooohh…enak… aahh.. terus.. Fik.. yang cepat.. Fik!” Kuturuti kemauannya. Semakin cepat aku menggoyang Dilla, payudaranya pun semakin liar tergoncang-goncang. “Bareng yah Dilla.. gue juga dah mau nyemprot..” “Ayo Fik.. bikin gue hamil.. semprot yang banyak…AAARRRHHHH” Kami berdua pun orgasme luar biasa. Vagina Dilla memeras semua sperma yang ada di tititku. Kucabut tititku dan terlihat tetesan darah perawan merembesi sprei. Noda darah perawan Dilla dan Febby terlihat bersebelahan. Wah aku harus membeli sprei ini dari hotel. Kenang-kenangan pikirku. Indri menghampiriku dan menciumku di bibir dengan ciuman yang sangat lembut.

Tiba-tiba ada perasaan bersalah di hatiku. Sepertinya Indri tahu karena dia bilang, “Tidak apa-apa Fik. Kita semua memang ingin menikmati titit lu.” dan kemudian dia menciumku lagi.
Ciuman yang penuh mesra. Febby mengganggu ciuman kami dengan mengambil tititku dan menghisapnya. Indri mengganguk kembali dan merebahkan tubuhku. Febby terus menikmati permainannya di bawah. Indri menduduki kepalaku dan membeDillan vaginanya untuk kuhisap. Ah.. nikmatnya memek Indri. Kujilat dan kujilat terus sambil kami terus bertatapan mata.

Aku benar-benar jatuh cinta. Pagi itu aku digilir tiga perempuan cantik. Indri tetap hanya meminta digesek-gesek saja.
Febby dan Dilla berhasil membuatku menyemprotkan sperma di dalam mereka sebanyak dua kali. Kami baru selesai ketika kami sudah kelelahan dan kelaparan. Sudah waktunya makan siang. ****** Epilog: Kami berempat berhasil masuk universitas di kota B dan sepakat untuk mengontrak rumah untuk tinggal bersama. Orang tua kami tidak ada yang curiga.

Mereka pun setuju mengontrak rumah lebih enak daripada kos-kosan. Bisa masak dan cuci baju sendiri. Tidak takut ada barang yang hilang. Empat tahun kuliah, sehari pasti minimal sekali aku menyetubuhi salah satu dari tiga wanita cantik tersebut. Dengan Indri, selalu hanya gesek-gesek. Dengan Dilla dan Febby, tentunya celup-celup dong. Tidak ada yang hamil karena kami menghitung kalendar dengan sangat disiplin. Sesudah lulus pun kami masih sering berkumpul untuk “bermain”.

Febby bertemu dengan suaminya di tempat kerja. Dilla bertemu dengan suaminya di kuliah S2. Indri akhirnya menjadi isteriku. Perawannya baru dibeDillan pas malam pernikahan. Kami berdua punya dua orang anak. Indri sering mengundang Febby dan Dilla untuk bermalam di rumah kami. Saking seringnya, aku berhasil menghamili Febby dan Dilla. Anak kedua Febby dan anak ketiga Dilla mirip sekali denganku. Untung suami mereka tidak pernah ada yang curiga. Alasannya karena sering bergaul denganku, jadi mirip deh anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.