VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan

VIMAX ASLI Obat Kuat

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan

Joko bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek Mbah Jayeng. Mbah Jayeng adalah dukun kondang daerah Njombang. Keahliannya sangat tersohor. Dari pengelaris sampai jabatan, dia tiada bandingannya. Ruang prakteknya yang dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian kemenyan serta sesaji bagi makluk sesembahannya menambah keangkeran dukun berumur sekitar 57 tahunan dengan jenggot lebat dan panjang memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya adalah Nyonya Handayani dan diantar oleh anaknya Indah. Nyonya Handayani adalah wanita berumur 45 tahun yang sangat anggun.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan

Dia sengaja datang ke Njombang selain untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dia minta antar puterinya, karena kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan perjalanan bisnis ke Eropa. Hijab kuning yang membungkus kepalanya menambah kanggunan wanita berparas cantik ini. Di sampingnya adalah anak sulungnya Indah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Menurun dari ibunya, Indah 22 tahunan ini juga memiliki kecantikan yang tidak kalah dengan Ibunya. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang ramping.

“Silahkan duduk Nyonya Handayani dan Dik Indah….” ujar Mbah Jayeng mempersilahkan kedua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di depan meja praktiknya.

Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar dua makhluk ini. Mulus, berdada montok, dan ah….ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Mbah Jayeng pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua wanita cantik ini.
Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan kemampuan Sang Dukun menebak nama-nama mereka. Mbah Jayeng kembali berujar.

“Nyonya Handayani tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?”
“Be..benar…Mbah Dukun. Gimana Mbah bisa tahu maksud saya?” tanya Nyonya Handayani makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun.

Nyonya Handayani memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir.

“Hahahaha…setan dan jin mengetahui semua maksud di hati.” ujar Mbah Jayeng bangga.
“Tapi, ini tidak gampang, Nyonya….” ujarnya lagi.
“Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan saya lakukan untuk itu Mbah.” ujar Nyonya Handayani tidak sabar.
“Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tidak keluar. Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak perlu kuatir.”

Kali ini Mbah Jayeng mulai ngawur. Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari dua wanita cantik ini.

“Kamu dan puterimu harus total mengikuti ritual yang akan saya siapkan. Sanggup?”
“Sanggup,Mbah”
“Dik Indah sanggup membantu Mama?” tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya.
“Sanggup,Mbah.” Sahut Indah demi sang mama tercintanya.

Mulailah Mbah Jayeng komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi ganas.

“Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin.” Mbah Jayeng menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang sangat kuat.

Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di sebelah ruang praktik utama terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Mbah Jayeng menyuruh Nyonya Handayani masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah agar Indah melihat dari depan pintu ruangan.

“Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. ” lanjut Jayeng.

Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Handayani. Air kembang pun dalam sekejap membasahi Hijab dan gamis hitam Nyonya Handayani. Semakin memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga.
“Gila..tegang juga penis gua lihatnya.” batin Mbah Jayeng.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari ujung kepalan Nyonya Handayani yang masih terbalut Hijab kuning, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Handayani. Sempat Nyonya Handayani terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru dia konsentrasi lagi dengan rapalannya.

“Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan sampai gagal, karena akan percuma ritual kita…Sekarang lepas baju Nyonya biar ramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya.”

Perintah Mbah Jayeng yang langsung dituruti oleh Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini. Nyonya Handayani benar-benar telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih kencang. Melihat mangsanya dalam kendali, Mbah Jayeng semakin berani. Badannya dirapatkan, agar penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok. Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Handayani. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Handayani, memainkan Memek Sang Nyonya. Setelah sekitar 15 menit, tampak tubuh Nyonya Handayani bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang sudah mulai bekerja. Mbah Jayeng menuntun Nyonya Handayani ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang semakin tidak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan tidak mampu berdiri karena melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya.

Setelah membaringkan mangsanya, Mbah Jayeng meneruskan rangsangannya. Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang membuat nafsunya semakin tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir Memek Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Mbah Jayeng sesaat setelah melihat Memek Nyonya Handayani. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat. Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Jayeng memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Mbah Jayeng tertancap lebih dalam.

“Eeeemmm….”Desah Nyonya Handayani penuh kenikmatan.
“Ini saatnya.” Pikir Mbah Jayeng membuka pakaian dan celananya dengan buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Handayani.
“Apa yang Mbah lakukan pada Mama?”Tiba-tiba semua perhatian Mbah Jayeng terbelah oleh pertanyaan Indah. Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Indah tentu saja masih sangat sadar.
“Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu tidak sia-sia bukan,Nduk?”
“Iya,Mbah.”
“Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan tadi….” perintah Mbah Jayeng sambil mengembalikan konsentrasinya pada penisnya yang sudah berdiri tegak.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Urat-urat penisnya semakin membesar, pertanda sudah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Mbah Jayeng yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di bibir Memek Nyonya Handayani. Bibir Memek yang sudah basah karena cairan itu merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Mbah Jayeng mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus Memek Nyonya satu ini ternyata cukup sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk Memek Nyonya Handayani. Baru kepala penisnya yang mampu masuk.

“Aaaaah…seret juga milikmu,Handayani sayang. penis suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat…” bisik Jayeng pada telinga Handayani.
Di lingkarkannya tangan mbah jayeng pada pantat montok Nyonya Handayani. Dadanya bersandar pada dua payudara Handayani. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Jayeng melesak masuk.

“Eeeeemmmphmm,…mm..mm.”Desah Handayani sambil merem melek.
Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar biasa bagi Handayani. Jayeng pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Handayani masih lebih legit. Mungkin karena orang kota pandai merawat diri, pikir Jayeng sambil menikmati pijatan Memek Handayani.

“Plok…plok…plok…plak…plak…plak..” suara perut Mbah Jayeng bertemu kulit putih Handayani. Sesekali Mbah Jayeng menelan ludahnya sendiri melihat batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk Memek Handayani yang putih mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa.
“Ooooh…Mbah.” Handayani mengeluh panjang.

Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin Jayeng. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Jayeng. Jayeng mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia sengaja membiarkan Handayani menggelinjang dalam orgasmenya.
“Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak ada yang bisa tahan…”Bisik Mbah Jayeng sambil tersenyum setelah melihat orgasme Handayani sudah reda.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan

Mbah Jayeng mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Handayani pun mengikuti irama genjotan Mbah Jayeng. Sesekali sengaja dia tarik penisnya hingga hanya menyisakan kepalanya. Membuat pantat Nyonya Handayani terangkat seakan tidak rela barang besar itu keluar dari Memeknya. Mbah Jayeng menarik tubuh Handayani hingga mengubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Handayani, Jayeng meneruskan sodokannya. Handayani pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Handayani membuat penis dukun tua itu seperti diremas-remas. Karena hasratnya yang sudah memuncak. Nyonya Handayani mendorong Jayeng rebah. Dan kini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap.

“Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…” Dalam gerakan liarnya pun Handayani tidak lupa membaca manteranya.

Mbah Jayeng tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Handayani yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Handayani mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru kali ini dia alami seumur hidupnya.

“Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…j agaaaad…aaaah” Handayani semakin meracau tak karuan.

Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan kenikmatan dahsyat ini. Handayani terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya.

“Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita sampai bareng, Handayaniku….hhhhmmpphh..”Mbah Jayeng pun merasakan penisnya mulai berkedut.
Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Handayani. Mbah Jayeng membantu mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Mbah Jayeng mulai menegang. Dan sambil bangkit mendekap Nyonya Handayani, Mbah Jayeng mengeluh keras.

“Aaaaaaaaagghhh…ghh…Handayani…”
“aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah.”Nyonya Handayani pun menyambut pelukan Sang Dukun.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Handayani mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun ambruk didekapan Jayeng yang masih merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini. Dua-tiga menit ia memeluk Handayani, membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Handayani. Setelah menidurkan Nyonya Handayani yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan penisnya dari Memek Nyonya Handayani. Ia bangkit dari dipan dan menghampiri Indah yang mandi keringat menyaksikan mamanya disetubuhi dengan hebat tadi. Kaos ketat Indah yang basah keringat menampakan kemolekan gadis yang baru merekah ini.

“Hong Silawe…Silawe…mamamu sudah melakukan ritual paling beratnya, Cah Ayu. Biarkan dia istirahat dulu.” ujar Mbah Jayeng sambil menggamit tangan Indah yang masih terpaku dengan apa yang baru dia lihat tadi.

Mbah Jayeng menuju karpet besar di area meja praktiknya. Ia kemudian meneguk air teh dalam gelas seng yang besar di mejanya. Dipandanginya Indah yang duduk di karpet. Benar-benar sangat cantik daun muda ini. Rambutnya yang dipotong pendek dengan tubuh yang langsing dan padat, memperlihatkan energi muda dari gadis yang sporty ini. Dengan masih telanjang, Mbah Jayeng mendekati Indah yang duduk memandangnya. Batang penisnya mulai menegang lagi, ingin merasakan nikmatnya Memek belia ini.

“Indah, dengarkan aku. Tinggal selangkah lagi. Dan semua ritual ini bergantung kamu sebagai puterinya. Kamu ikuti saja perintahku. Kita tuntaskan ritual agung ini.Siaap?”
“I…i…ya..Iya Mbah…” Indah menjawab, gadis ini agak tergagap karena pandangannya yang terfokus pada penis Mbah Dukun yang kembali perkasa.
Kilatan bekas cairan Memek mamanya masih nampak dari batang penis Mbah Jayeng.
“Hong Silawe…Silawe…kemari Nduk. Hisap kontol ini dengan mulutmu. Lakukan dengan benar ya Cah Ayu.” perintah Mbah Jayeng sambil menyodorkan penisnya di depan mulut mungil Indah yang masih duduk bengong di karpet tebal ruang praktiknya.

Indah masih terdiam terpaku. Dadanya naik turun, dengan nafas masih memburu. Terasa Memeknya basah karena cairan. Ada perasaan aneh menyaksikan pergumulan Mama yang begitu dicintainya dengan lelaki tua itu. Pergumulan itu begitu membuat rasa keingintahuannya muncul, meskipun rasa takut begitu dominan saat ini. Pengalaman pertama yang justru didapatkannya dari mama dan lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya itu.

“Nduk, ayo, keburu roh gaib yang mau membuka tirai penghalang cita-cita mamamu pergi..” ujar Dukun Jayeng mendekat.

Penisnya yang berdiri begitu tegak dengan urat-urat besar dan warna hitam pekat, terlihat begitu menakutkan bagi sang dara. Bandot tua ini sudah tidak tahan untuk mencicipi tubuh anak kota yang begitu terawat. Begitu putih seperti mamanya. Begitu langsing dan terawat.

“Indah takut Mbah…” desah Indah perlahan, sambil kedua telapak tangannya saling meremas.
Mbah Jayeng menghela nafasnya. Dia mengelus rambut hitam mangsanya dengan senyum manis.
“Tidak usah takut Cah Ayu. Semua tidak menyakitkan. Kamu harus melakukannya sebelum pengorbanan mamamu dan Mbah percuma. Kamu sayang mamamu, bukan?” Sang Dukun pun menebar jebakan mautnya membuat Indah tidak memiliki pilihan kecuali menganggukkan kepala.
Dan dengan sigap, Mbah Jayeng mendekatkan penisnya di depan bibir mungil itu. “Jangan sampai kena gigi ya Cah Ayu. Kulum, sedot dan pakai lidahmu…begitu ritualnya.”

Masih dengan ragu-ragu Indah memegang penis yang hingga begitu besarnya tidak cukup dalam genggamannya. Mbah Jayeng segera mendorong kepala Indah maju mundur.

“Hong Silawe…Silawe…setan belang, jangkrik monyong….terus Nduk.” ujar Jayeng keenakan.
Indah terus mengulum batang penis Jayeng. Setiap sedotan membuat lelaki bejat itu merem melek. Terkadang, saking tidak sabarnya Jayeng mendorong terlalu keras hingga separoh batangnya menyodok masuk ke dalam tenggorokan Indah. Air liur Indah membasahi hangat penisnya, menggantikan sisa-sisa cairan kemaluan mamanya sendiri.

“Hoooo oooh…bener gitu caranya Cah Ayu…”

Mbah Jayeng makin kelojotan, batang penisnya semakin membesar sehingga nyaris membuat Indah kesulitan bernapas tiap kali dukun cabul itu memaksa batangnya memenuhi mulutnya. Tangan Jayeng meremas-remas rambut pendek Indah.

“Ah, beruntungnya aku. Anak ini cantiiiiik banget. Mirip artis sinetron Agnes Monica. Mungil, namun seksi,” pikir Jayeng.
“Sekarang jilati kantong bola kontol Mbah sayang….di situ tempat semua pengasih untuk membuka tirai penghalang Mama…” lanjut Jayeng.

Dan Indah pun menurut. Dua buah zakar Jayeng dikulumnya bergantian. Membuatnya tidak kuasa menahan semua kenikmatan ini. Dia pun menjadi semakin bergairah dan bernafsunya.

“Sekarang giliran Mbah….” tanpa ba-bi-bu karena diselimuti nafsunya.
Tangan-tangan dan lidah Jayeng berebutan menjamah tubuh gadis cantik yang baru tumbuh-tumbuhnya ini.
“Mbah, Indah malu…” Ketika dua tangan Mbah Jayeng berusaha melucuti kaos ketatnya.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Tangan-tangan mungil Indah berusaha menahannya. Namun, Jayeng tidak peduli lagi. Diserangnya ketiak kiri-kanan sang gadis sambil menarik kaosnya. Breeet….terlihatlah dada putih mulus dengan dua gundukan yang indah bentuknya masih dalam perlindungan Bra putihnya. Tidak sebesar mamanya memang, tapi bentuknya begitu paripurna, pikir Jayeng. Belum pernah dijamah laki-laki. Masih bentuk alami yang mengundang tangan-tangan kasarnya meremas dengan gemas.

“Demi mamamu sayang….demi mamamu.” Jayeng membaringkan tubuh Indah yang didera kebingungan dan rasa nikmat yang pertama kali dia rasakan itu ke karpet.

Ciuman dukun itu memborbardir bibir mungil Indah, dan seluruh bagian lehernya. Dan dua tangannya yang lebih kuat menarik lepas BH itu dari dua payudara yang ingin disentuhnya langsung. Kulit ketemu kulit. Jayeng berhenti sejenak. Pemandangan yang luar biasa membuatnya tertegun. Bahkan ketika malam pertamanya saat mengambil kegadisan isteri pertamanya, tidak pernah dia menemukan sensasi sehebat ini.

“Hong Silawe…Silawe. Kamu cantik sekali Nduk. Dua payudaramu ini harus disedot untuk mengeluarkan hawa penolong mamamu….”

Seperti tak sabar, bibir tebal Jayeng pun menyerbu dua puting payudara Indah bergantian. Tangannya pun bergantian meremasnya. Kadang gerakan halus melingkar searah jarum jam di sekitar puting, kadang remasan terhadap semua bagian payudara Jayeng.

“Aaaahh…Mbah.”

Indah mulai terhayut dalam permainan Mbah Jayeng yang begitu membuat dirinya melambung. Dua putingnya sudah mancung karena rangsangan hebat Sang Dukun yang kaya pengalaman ini. Setelah kurang lebih 20 menitan dicumbu. Tubuh Indah menggeliat namun dengan kaki masih terkatup. Sang Mbah pun menggelar serangan kilat tahap berikutnya. Salah satu tangannya mulai mengarah ke selangkangan Indah. Dibelainya selangkangan gadis itu dari luar. Mulut dan tangan Jayeng mulai bergeser posisi turun, ke perut dengan dua tangannya masih bergantian memutar-mutar puting Indah. Indah pun makin menggelinjang. Memeknya pun semakin basah.

“Mbah, sudah jangan Mbah…”Indah tiba-tiba tercekat dalam sadarnya.

Tangannya memegang dua tangan Jayeng yang sudah berhasil membuka kancing dan resliting celana jeans yang membungkus bagian bawah tubuhnya. Sial, hebat juga kesadaran bocah ini, pikir Jayeng. Rupanya penaklukannya menjadi tidak mudah sekarang.

“Kamu mengacaukan semuanya!!!!” bentak Jayeng dengan membuat mimik wajah paling angkernya. “Roh marah dan pengorbanan mamamu sia-sia malam ini…Sudahlah, lenyap mimpi mamamu!!!”
Indah yang terduduk sambil meringkuk pada dua pahanya tertegun melihat akting top markotop sang dukun. Perasaan bersalahnya mulai muncul. Diliriknya tubuh mamanya di dipan yang masih mandi peluh karena percintaan hebatnya tadi.

“Ah, mama sudah berjuang keras, dan tak pantas aku menghancurkannya,” batin Indah.
Melihat lawannya bingung, Jayeng pun semakin memasang akting cuek dan marah. Dan ia membalikkan badannya menuju meja persembahannya. Indah pun terlihat mulai panik.

“Maaf,Mbah. Indah cuma takut. Nggak pernah Indah seperti ini….”Indah pun menubruk tubuh Mbah Jayeng dari belakang. Tak sengaja dua tangan mungil itu bersentuhan dengan penis Mbah yang sudah lapar ini. Jayeng pun tersenyum…..
“Masih bisa diatur asal Indah benar-benar siap dalam upacara ini. Sekarang Mbah bersila di sini. Indah berdiri tiga kaki dari posisi Mbah. Lakukan perintah Mbah….” ujar Mbah Jayeng dengan nada tinggi. Indah menurut.

“Apa perintah Mbah…?”Tanya Indah setelah berada di jarak yang diinginkan Jayeng.
“Kamu bisa menari Nduk? Liukkan tubuhmu, menarilah untuk menggoda sang roh gaib datang lagi…..yak, terus raba badan neng sendiri. Yah, begitu….mulai lepas celana jeans itu!”
Jayeng menikmati Abg cantik ini menari begitu erotisnya, meliukkan pinggulnya yang ramping, dengan dua payudara yang bergantung bebas naik turun mengikuti gerakan Indah.
“Rebahkan tubuhmu di karpet itu,Nduk…” ujar Jayeng lirih sambil menahan nafsunya yang sudah melambung.

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Tubuh seksi Indah yang mengkilap basah oleh keringat dan air liur Jayeng rebah tidak jauh dari Jayeng. Lelaki tua ini pun merangkak menghampiri ibu jari kaki Indah. Dengan lembut dikulumnya jari-jari kaki Indah, terus bibirnya menelusuri betis, dan terus menaiki paha sang dara jelita ini.

“Uuuuugh…”Terdengar desisan tertahan dari Indah. Jayengtidak menyia-nyiakan keadaan.
Lidahnya pun menyodok-nyodok Memek Indah yang terlindung dibalik celana dalam merahnya itu. Indah semakin kelojotan. Dan dengan cepat, tangan Jayeng menarik turun celana dalam Indah dan melemparnya ke karpet.

“Jangan takut Nduk. Semua akan lancar” bisik Jayeng ketika Indah menunjukkan keraguan.
Selanjutnya, lidah Jayeng menyibak rambut Memek Indah yang tertata rapi ini. Menerobos masuk, menjilati klitoris Indah. Indah benar-benar melayang menikmati permainan lidah yang dahsyat dari Sang Dukun. Melihat Indah mulai menggelinjang, Jayeng terus melanjutkan serangannya. Lidah Jayeng menusuk-nusuk liang Memek Indah yang semakin banjir itu. Tanpa bisa mengontrol dirinya, tanpa terasa tangan Indah sudah menjambak rambut panjang sang dukun. Dan semakin dekat dengan kenikmatan, semakin keras tangan Indah menarik rambut Jayeng.

“Aaaaaahh…hhh..Mbah..” lenguh Indah.

Tubuhnya bergetar. Perasaan yang luar biasa. Dia mengalami orgasme pertamanya dalam hidupnya sebagai wanita. Jayeng tersenyum. Dia membiarkan sekian detik Indah menggelepar dalam kenikmatan. Jayeng pun merangkak mendekati bibir Indah, dan menciumnya lembut.

“Sekarang saatnya upacara utama,Nduk. Kamu siap?”

Mangsanya terdiam, masih dalam kenikmatan luar biasa yang tidak pernah dirasakannya. Jayeng pun mengarahkan kepala penisnya yang mirip jamur besar itu di bibir Memek Indah. Indah melenguh saat bibir Memeknya membuka perlahan, saat penis raksasa itu mulai menembus Memeknya.
“Indah takut,Mbah…” desis Indah melihat penis besar yang terasa tidak mungkin bisa masuk ke dalam lubang Memeknya itu.

“Sabar Cah Ayu. Sakit cuma di awal. Pengorbanan untuk mamamu…”Jayeng begitu lihai memainkan perasaan sang dara ini.
Dia pun mempersiapkan pergerakan penisnya. Perlahan kepala penis Jayeng mulai masuk.
“Aaaah…sakiiiiittt…ttt..tt..,Mbah.” teriak Indah.

Mbah Jayeng sudah tidak begitu menggubrisnya. Dia dan senjata pamungkasnya sudah begitu sibuk menikmati sensasi menembus keperawanan gadis seksi ini. penis Jayeng pun terus bergerak pelan namun pasti diiringi rintihan kesakitan Indah.

“Sabar,sayang…..Heeeeeehhh…hhhh…”Mbah Jayeng pun menghentakkan pinggulnya dengan kekuatan penuh.
“Aaaaaahhh…..Mbah…Sakiiiit.”

Cerita Seks Demi Sebuah Jabatan – Bleeeeessss…seluruh batang penis Jayeng yang besar itu tenggelam dalam Memek Indah yang begitu terasa sangat sempit. Air mata Indah mengalir di sela dua matanya merasakan perih selaput daranya dirobek benda besar yang tidak pernah dibayangkan bisa berada dalam liang Memeknnya. Setelah sejenak membiarkan Memek Indah beradaptasi, Mbah Jayeng mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Tampak batang besar penis Jayeng keluar masuk dengan kokohnya. Cairan Memek bercampur darah perawan Indah. Rapatnya Memek Indah membuat Dukun sableng ini merem melek menikmati semua kenikmatan yang mungkin sebelumnya hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Indah kelojotan menerima hantaman penis Jayengyang terus menerjang tanpa ampun seolah ingin membongkar rapatnya Memek perawan Indah. Peluh membasahi dua insan yang berjauhan usia itu.

“Uuuuugh…hh..eeeemph.”Indah melenguh ketika Mbah Jayeng menarik tubuhnya dalam posisi duduk. Seperti insting alamiah, tubuh Indah seakan paham untuk mengambil peran dalam pergumulan posisi ini.

Pantat Indah naik turun, pinggulnya meliuk memperkuat remasan Memek Indah terhadap batang penis Jayeng. Jayeng pun menyambut dari bawah dengan sodokan terhebat penisnya.
“Hong Silawe..Silawe…weee…wwweee…wenaaaakkk,Nduk.” Mbah Jayeng meracau penuh kenikmatan. sekitar 20 menitan dalam deru nafas Indah semakin ga karuan. Tangannya memeluk Mbah Jayeng.
“Aaaaahhh…hhh…..hhh..Mbaaaaah..” Indah orgasme untuk kedua kalinya

Jayeng menyambut pelukan Indah dengan lembut. Mengurangi daya sodokan untuk memberikan kesempatan gadis ini menikmati pengalaman orgasme keduanya yang indah, Jayeng memberi kecupan hangat di bibir gadis cantiknya.

“Gimana,Nduk? Siiiiiiap dengan ritual kenikmatan berikutnya sayang?” bisik Jayeng diiringi anggukan lemah Indah.

Dengan sigap Jayeng menidurkan tubuh Indah dengan tetap memegang pinggul gadis cantik itu dengan dua tangannya yang kuat. Lalu ia mengangkat dua kaki Indah dan meletakkannya ke pundaknya dengan posisi penis masih di dalam liang senggama Indah.

“Eeeeemmphh…phh..aaahh…” Indah mendesah ketika dalam posisi barunya Mbah Jayeng mempercepat genjotannya.

Semakin cepat batang Jayeng keluar masuk, diiringi naik turunnya payudara Indah. Cairan Memek Indah semakin memberi pelumas bagi rudal raksasa ini untuk mengaduk-aduknya, memaksimalkan kenimatan dua insan itu.

“Aaaaaah…enak sekali Memekmu Cah Ayu.” bisik Jayeng sambil meraih puting Indah dengan bibirnya di sela genjotan itu.

Setelah sekitar setengah jam Mbah Jayeng tanpa kenal lelah terus menyetubuhi gadis cantik itu. Peluhnya bahkan menetes jatuh di perut langsing Indah, bercampur dengan keringat sang gadis. Kulit Indah terlihat semakin mengkilap karena peluh yang membasahi semua bagian tubuhnya. Nafas keduanya saling bersahutan dengan sesekali diiringi erangan penuh kenikmatan. Hingga entah sodokan yang ke berapa ratus kali, tubuh Indah kembali mulai menunjukkan tanda-tanda orgasme bakal kembali melanda.

“Eeeeergghh..aaaaahh…Mbah…Indah ga tahan lagi.” desah Indah sambil mencengkram karpet dengan kuku-kuku tangannya.
“Saaaabaar, sayang….aaaahh..aahh..Mbah juga mau sampai.” Jayeng mempercepat genjotannya. Urat-urat penisnya berkedut tak mampu dibendungnya.

Dengan semua kekuatannya yang tersisa, dihentakkannya penisnya dalam-dalam hingga mentok ke dasar rahim Indah. Diiringi teriakan orgasme yang dahsyat.

“Aaaaaahhhhh……aaaahhh….Indah….Silawe…Aaahhh..Hoong… Indahaaa….”

Indah pun mengejang hebat, cairan Memeknya muncrat bertumbukan dengan tumpahan sperma Mbah Jayeng yang sepertinya memenuhi liang kenikmatannya. Tubuh Jayeng roboh di atas pelukan Indah. Lemas, puas, dan nikmat. Jayeng pelan-pelan mencabut penisnya dari Memek Indah. Senyuman kemenangannya tersungging di pipinya saat melihat sisa-sisa spermanya menetes keluar dari Memek gadis cantik itu, berbaur dengan cairan Memek dan darah perawan.

“Mandilah, di kamar mandi itu. Upacara kita sukses Nduk. Mamamu akan mendapatkan semua yang diinginkannya.” ujar Jayeng sambil melemparkan kaos dan jeans pada Indah yang masih terlentang di karpet.

Gadis ini masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Dipungutnya pakaiannya, dan dengan langkah kaki yang masih lemas dia masuk ke bilik kamar mandi di mana sang mama masih lelap dalam kebugilannya.

                                                                                                                                                              Cerita Seks Terbaru, Cerita Seks Spg Bohay, Cerita Seks Abg Binal, Cerita Seks Daun Muda, Cerita Seks Terpanas, Cerita Sex Tante Jablay, Kumpulan Cerita Seks Bebas, Cerita Seks Tante Girang, Cerita Seks Abg Birahi, Cerita Seks perselingkuhan, Cerita Seks Birahi Perawat, Cerita Sex Abg 17 Tahun, Kumpulan Cerita Seks Seru, Cerita Seks Memek Ibu Kost, Cerita Seks Kenangan, Cerita Seks Kenikmatan, Cerita Seks Teman Sekantor, Cerita seks dewasa, Cerita Seks Darah Perawan, Cerita Seks Anak Kos, Cerita Seks Ayam Kampus, Cerita Seks Janda Hot, Cerita Seks Abg Sange Berat, Cerita Seks Abg Hot, Cerita Seks Model, Cerita Seks Pemerkosaan, Cerita Seks Janda Kembang, Cerita Sex Didalam Mobil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.