Cerita Seks Memek Ayam Kampus

Cerita Seks Memek Ayam Kampus

Malam itu setelah rapat organisasi, aku segera mengambil motorku untuk pulang. Rasanya pengin sekali segera sampai di rumah, makan, lalu tidur. Tetapi baru saja sampai di gerbang depan kampus seseorang menyapaku, dan ketika aku toleh arah suara itu ternyata Ajeng, anak fakultas ekonomi. Ngapain anak ini sendirian di gerbang?

Cerita Seks Memek Ayam Kampus

“Belum pulang, Jeng?”
“Belum Ga, habis nungguin bis lewat, lama amat.” Jawabnya sambil berkedip-kedip genit.
“Bis lewat ditungguin, gue antar deh?”
“Bener situ mau nganteJeng?”
“Yah, pokoknya nggak gratis. Situ tau sendiri deh.” Ujarku menggoda.
“Ah, bisa aja.”

Ajeng mencubit kecil pinggangku lalu segera naik ke boncengan. Tangannya melingkat erat di pinggangku, lalu melajulah motor di ramainya jalanan. Lama-kelamaan si Ajeng malah menempelkan dadanya di punggungku. Tau nggak, rasanya benar-benar empuk dan hangat. Wuih, terasa bener kalau dia nggak pake beha. Sebagai laki-laki normal, wajar dong kalo batang penisku tiba-tiba menegang.

“Ga, gimana kalo kita mampir ke taman kota? Aku Gagar ada dangdutan di sana.” Bisik Ajeng dekat di telinga kiriku.
“Seleramu dangdut juga ya?”

Ajeng kembali mencubit pinggangku, tapi kemudian mengelus-elus dadaku. Tengkukku mulai meJengding. Ada maunya nih anak, pikirku waktu itu. Mungkin aku sedang dihadapkan salah satu ayam kampus, nih. OK, siapa takut!

Cerita Seks Memek Ayam Kampus – Aku segera membelokkan sepeda motor ke taman kota. Lalu mencari tempat yang agak remang tapi cukup strategis untuk menikmati isi panggung yang terletak di tengah taman kota itu. Panggung yang kira-kira berukuran 9X9 meter itu tampak meriah dikelilingi ratusan pengunjung. Irama dangdut menggema memekakkan telinga.

“Ga, sini dong? Sini, duduk sama aku.”
Aku duduk di belakang Ajeng yang masih duduk di boncengan motorku. Gadis itu nampaknya asyik benar mengikuti irama dangdut. Sedang aku lebih tertarik memelototi tubuh penyanyinya dibanding suaranya yang menurutku biasa saja.

Beberapa orang penyayi bergoyang hot membangkitkan gelora birahi para pria yang memandangnya, termasuk aku. Pandanganku beralih kepada Ajeng. Sayang aku hanya bisa memandang ubun-ubunnya saja. Aroma wangi menebar dari rambutnya yang bisa dibilang bagus, aroma yang eksotik. Kalau saja ada kesempatan, desahku.

“Ga, kok diam saja? Belum pernah lihat orang goyang ya?”
“Bukannya gitu, cuman gila aja mandang tuh cewek. Berani bener joget kayak gitu,”
“Ah, segitu saja. Coba kemarikan tanganmu!”

Aku mengulurkan tangan kananku. Astaga, gadis itu memasukkan tanganku di balik bajunya sehinga tanganku benar-benar bisa merasakan Besarnya dadanya. Keringat dinginku tiba-tiba merembes, dadaku bergemuruh.

“Jeng, apa-apaan kamu ini?” Ujarku lirih tanpa menarik kembali tanganku.
“Kamu nggak suka ya?” Tanya Ajeng kalem.
“Engh.. Bukannya begitu..anu” Jawabku tergagap.
“Aku tau kamu suka. Aku juga suka Ga, jadi nggak ada masalah kan?” Kata Ajeng menoleh ke padaku.
“I..iya sih.”

Yah, begitulah. Akhirnya aku punya kesempatan. Tanganku membelai-belai dada Ajeng Gagan bebasnya. Mempermainkan putingnya Gagan gemas, kupelintir kesana kemari. Gadis itu bukannya kesakitan, tapi malah mendesah-desah kegirangan. Aku sendiri sudah nggak tahu berapa kali menelan ludah. Rasanya ingin memelintir puting itu Gagan mulutku. Rupanya tangan kiriku mulai iri, lalu segera menyusul tangan kananku menerobos masuk di balik baju Ajeng. Meremas-remas kedua bukit yang tak terlihat itu.

“Ga, Yoga.. tangan-tanganmu benar-benar nakal. Hoh.. aduh.. geli Ga,” Desah Ajeng menjambak rambutku yang cukup gondrong.
“Jeng, aku suka sekali.. bagaimana kalau kita..”
“Uhg.. heeh, iya.. aku mau.”

Aku segera menghentikan kegiatanku mengobok-obok isi baju Ajeng. Lalu kami segera menuju sebuah hotel yang tak jauh dari taman kota. Tiada kami peduli Gagan beberapa pasang mata yang memandangi kami Gagan sejuta pikiran. Masa bodoh, yang penting aku segera bisa mengencani Ajeng.**

Cerita Seks Memek Ayam Kampus – Segera aku bayar uang muka sewa kamar, lalu kami melenggang ke kamar 51. Ajeng yang sedari tadi memeluk tubuhku kini tergeletak di atas spJenggbed. Matanya yang sayu bagai meminta, tangannya melambai-lambai. Aku langsung saja membuka kancing bajuku hingga bertelanjang dada.

“Ga.. sudah lama aku inginkan kamu,”
“Oya? Kenapa tak bilang dari dulu?” Ujarku sambil melepas kancing baju Ajeng.

Benarlah kini tampak, dua bukit kenyal menempel di dadanya. Tangan Ajeng membelai-belai perutku. Rasanya geli dan uh.. lagi-lagi aku meJengding. Kutekan-tekan kedua putingnya, bibir gadis itu mengulum basah. Matanya yang semakin memejam membuat birahiku semakin terkumpul menyesakkan dada.

“Ga.. ayo.. kamu tak ingin mengulumnya? Ayo masukkan ke mulutmu.”
“Heh.. iya, pasti!”

Aku segera mengangkangi Ajeng lalu berjongkok diatasnya, lalu menunduk mendekati dadanya. Kemudian segera memasukkan bukit kenyal itu ke dalam mulutku. Aku hisap putingnya perlahan, tapi semakin aku hisap rasanya aku pingin lebih sehingga semakin lama aku menghisapnya kuat-kuat. Seperti dalam haus yang sangat. Ingin rasanya aku mengeluarkan isi payudara Ajeng, aku tekan dan remas-remas bukit gemuk itu penuh nafsu. Ajeng meJengtih-Jengtih kesakitan.

“Ga.. hati-hati dong, sakit tahu! Perlahan.. perlahan saja Ok? Heh.. Yah, gitu.. eeh hooh..”

Busyet, baru menghisap payudara kiri Ajeng saja spermaku sudah muncrat. Batang penisku terasa berGayut-Gayut sedikit panas. Ajeng bergelinjangan memegangi jeans yang aku pakai, seakan ingin aku segera melorotnya. Tapi aku belum puas mengemut payudara Ajeng. Aku pingin menggilir payudara kanannya. Tapi ketika pandanganku mengarah pada bukit kanan Ajeng, wuih! Bengkak sebesar buah semangka. Putingnya nampak merah menegang, aku masih ingin memandanginya. Tapi Ajeng ingin bagian yang adil untuk kedua propertinya itu.

“Ayo Ga, yang adil dong..” Katanya sambil menyuguhkan payudara kanannya Gagan kedua tangannya.

Aku memegangi payudara kanan Ajeng, mengelusnya perlahan membuat Ajeng tersenyum-senyum geli. Ia mendesah-desah ketika aku pelintir putingnya ke kanan dan ke kiri. Lalu segera mencomot putingnya yang tersipu Gagan mulutku. Puting itu tersendal-sendal oleh lidahku.
“Yoga.. dahsyat banget, uaohh.. enak.. ayo Ga.. teruss..”

Ajeng menceracau tak karuan, tangannya menjambak-jambak rambut gondrongku. Kakinya bergelinjang-gelinjang kesana kemari. Binal juga gadis ini, pikirku. Aku berpindah menyamping, menghindari sepakan kaki Ajeng. Jangan sampai penisku terkena sepakan kakinya, bisa kalah aku nanti. Justru Gagan menyamping itulah Ajeng semakin bebas. Bebas membuka resleting jeans yang dipakainya. Tapi dasar binal! Gerakannya yang tak karuan membuat kami berguling jatuh di lantai kamar. Dan payudara kanannya lolos dari kulumanku.

“Gimana sih, Jeng? Jangan banyak gerak dong!” Ujarku sedikit kesal.
“Habis kamu ganas banget sih..” Hiburnya Gagan tatapan menggoda.

Untuk mengobati kekesalan hatiku Ajeng segera membuka semua pakaiannya tanpa kecuali. Jelaslah sudah tubuh mungil Ajeng yang mempesona. Air liurku segera terbit, inginnya mengganyang tubuh mungil itu.

Cerita Seks Memek Ayam Kampus – Tubuhnya yang meliuk-liuk semampai, dua payudaranya yang nampak ranum bengkak sebesar buah semangka, perutnya yang langsing bagai berstagen tiap hari, ahh.. Lalu, bagian kewanitaannya! Uhh, Vagina itu cukup besar Gagan bulu-bulu basah yang menghiasinya. Pahanya yang sekal membuatku ingin mengelusnya, dan betisnya yang mulus nan langsat.. ehmm.. Maka Gagan tergesa-gesa aku melucuti pakaianku, tanpa terkecuali!

Cerita Seks Memek Ayam Kampus

“Wah! Penismu besar Ga!” Kata Ajeng yang segera berjongkok dan meremas gemas batang penisku yang sudah sangat tegang.
“Auh.. jangan begitu, geli kan?” Jawabku menepis tangannya.
“Jangan malu-malu, pistol sebesar ini, pasti ampuh.”

Ajeng terus saja membelai-belai batang penisku yang ukurannya bisa dibilang mantap. Semakin lama batang penisku semakin menegang, rasanya mau meledak saja. Tubuhku bagai tersiram air hangat yang kemudian mengalir di setiap sendi darahku.

“Engh, auh..” Aku berdehem-dehem asyik saat Ajeng asyik memainkan jemari tangannya pada batang penisku.

Telunjuk dan ibu jaJengya membentuk lingkaran yang kemudian digerak-gerakkan keluar masuk batang penisku. Layaknya penisku bermain hula hop. Spermaku mencoba meyeruak keluar, tapi aku tahan Gagan sekuat tenaga. Aku remas-remas rambut panjang Ajeng.

Tapi kemudian Ajeng yang semakin gemas segera memasukkan batang keperkasaanku itu ke dalam liang mulutnya. Lalu dia mengemutnya bagai mengemut es lilin.

“Ehg.. ehmm.. “
TerGagar suara desisan Ajeng bagai sangat menikmati batang penisku, begitupun aku. Bagaimana tidak, bibir tebal Ajeng segera melumat kulit penisku, lalu lidah Ajeng menjilat-jilat ujungnya. Nafasku serasa putus, keJenggatku merembes dari segala arah. Sedang Ajeng bagai kesetanan, terus saja menciptakan sejuta keindahan yang siap diledakkan.

Crot.. crot..crooot Tak ada yang bisa menahannya lagi. Spermaku keluar menyembur ke liang mulut Ajeng. Gadis itu nampak sedikit tersedak, beberapa sperma muncrat keluar mulutnya dan kemudian membasahi pangkal penisku.

“Ehmm.. ehmm.. keluarkan teruss.. ehmm,” Ujar Ajeng Dengan mulut yang penuh Gagan cairan spermaku.
Srup, srup, ia meminumnya Gagan semangat sambil tangannya menggelayut di pahaku. Ujung penisku dikenyot-kenyot membuat geloraku makin berGayut-Gayut.

Karena tak tahan maka tak ayal lagi aku segera menubruknya. Menindih tubuh mungilnya lalu melahap bibir nakalnya. Lidah kami bergelut di dalam, menggigit-gigit gemas dan penuh nafsu. Tak peduli Ajeng meJengtih-Jengtih. Entah karena aku terlalu rakus mengganyang bibirnya, atau berat menahan tindihanku. Yang pasti Jengtihan Ajeng terGagar sangat merdu di telingaku.

Maka setelah puas mencumbui bibirnya aku segera beralih kepada Vagina-nya. Benda keramat itu entah sudah berapa kali kebobolan, aku tak peduli. Kali ini ganti kau yang kukerjain, pikirku.

Langsung saja aku lebarkan paha Ajeng sehingga jelas Vagina berumput yang sangat basah itu. Jemariku memainkan daging gemuk itu. menyusuri perbukitan yang berlorong. Lalu memelintir klitorisnya ke kanan dan ke kiri. Surr.. menyembur lagi cairan kewanitaan Ajeng. Bening menetes diantara jemariku.

“Ga.. tunggu apa.. ayo dong..”
“Aku datang sayang.”

Wajahku segera mendekat ke Vagina Ajeng. Lalu tanganku sedikit membuka si Vagina sehingga aku bisa menikmati goa kenikmatan itu dengan mataku walau hanya sebentar. Srup, srup, aku jilati Vagina basah itu. Lidahku sengaja mencari-cari lubang yang mungkin bisa kutembus. Lidahku semakin ke dalam. Mempermainkan klitorisnya yang kenyal. Tanganku pun menyempurnakan segalanya. Bermain-main di payudara Ajeng yang semakin tegang, mengeras. Sayup-sayup terGagar suara erangan Ajeng. Aku harap gadis itu juga menikmatinya.

“Ayouhh Ga, masukk, aku tak tahan lagi..”
Suara gadis itu terdengar lemah, mungkin sudah keletihan. Aku pun sudah cukup puas beranal ria. So, tunggu apa lagi?? Aku meminta Ajeng untuk menungging. Gadis itu menurut Gagan wajah letih namun penuh semangat. Kemudian aku segera memasukkan penisku ke lubang kawinnya. Mudah. Sekali hentakan sudah masuk. Lalu kucabut dan kumasukkan berkali-kali. Lalu kubiarkan terbenam di dalam beberapa menit.

“Eghh..” Ajeng menahan rasa nikmat yang kemudian tercipta.
Tubuhnya sedikit mengejang tapi kemudian bergoyang-goyang mengikuti gerakan penisku. Aku segera mengocok penisku Gagan kekuatan penuh. Dan kemudian.. kembali spermaku muncrat keluar memenuhi lubang kawin Ajeng.

Beberapa saat kami saling menikmati kenikmatan itu. darahku seakan berhenti mengalir seperti ada hawa panas yang menggantikan aliran darahku. Seluruh persendian terasa tegang, tapi kemudian seperti ada rasa kepuasan yang tak bisa terucapkan.

Hingga kemudian aku mencabut kembali batang penisku dari Vagina Ajeng. Gadis itu kembali terlentang di lantai kamar hotel. Sedang aku segera menghempaskan tubuhku di atas kasur. Dinginnya lantai kamar yang menyentuh jemari kakiku tak bisa mengalahkan panasnya suasana kamar itu. Bau keJenggat kami berbaur.

Namun tiba-tiba batang penisku yang sudah mulai mengendur tersentuh kulit halus wanita. Ketika aku mendongakkan wajah ternyata Ajeng yang telah duduk di depan kakiku sambil mengelus-elus batang penisku.

“Ga, kamu hebat banget. Aku benar-benar puas.”
“Ehng.. kamu juga. Sekarang kamu mau minta apa??”

Gadis itu masih diam sambil terus mempermainkan batang penisku. Gawat, bisa-bisa bangun lagi batang penisku. Bisa perang lagi nih, dobel dong tarifnya.

“Kamu minta apa? HP? Duit?”
“Aku minta.. minta lagi deh,” Kata Ajeng yang kemudian kembali mengenyot batang penisku.
“Waduh, bisa-bisa lembur nih!”, pikirku.
Sekian dan Terimakasih…

                                                                                                                                                    

Cerita Seks Ayam Kampus, Cerita Seks Janda Hot, Cerita Seks Abg Sange Berat, kumpulan cerita seks seru, Cerita Sex Tante Jablay, Cerita Seks Kenikmatan, Cerita Seks Tante Girang, Cerita Sex Abg 17 Tahun, Cerita Seks Abg Hot, Cerita Seks Model, Cerita Sex Seru, Cerita Seks Abg Birahi, Cerita Seks Pemerkosaan, Cerita Dewasa, Cerita Seks Terpanas, Terbaru, Cerita Seks perselingkuhan, Cerita Seks Janda Kembang, Cerita Seks Abg Binal, Cerita Sex Terbru, Cerita Sex Daun Muda, Kumpulan Cerita Sex Bebas, Cerita Sex Memek Ibu Kost, Cerita Sex Teman Sekantor, Cerita Sex Didalam Mobil, Cerita Seks Kenangan, Bacaan Seks, Cerita Imajinasi, Cerita Seks Birahi Perawat, Cerita seks dewasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.