Cerita Seks Seorang Dokter

Cerita Seks Seorang Dokter

Cerita seks ku ini terjadi semenjak aku  kuliah di salah satu univesitas terkenal di Bandung.awalnya aku hanya ingin mencoba gimana rasanya ngeseks itu tapi setelah mencoba lama-lama aku menjadi ketagihan sampe sekarang aku sudah lulus sarjana kedokteran.

Perkenalkan Aku, Rudi, seorang sarjana kedokteran yang bekerja sebagai asisten dokter di RS swasta terkemuka di Bandung. Aku memiliki kebiasaan sex yang luar biasa. Sudah banyak wanita yang menjadi korban semenjak duduk di bangku SMP. Dan rata-rata para korban tidak menyesalkan akan perbuatanku. Mungkin karena aku seorang yang baik dan cakap. Tampangku ini lumayan lah untuk menggoda wanita cantik dan sexy. Teman-teman sekantor yang mengenalku bilang, aku mirip Ari Wibowo. Ya begitulah…

Cerita Seks Seorang Dokter

Semenjak kejadian di mana aku dijadikan experimen sex kakak kelasku, aku menjadi senang sekali melakukan sex. Diawali dari onani lalu meningkat pada experiment wanita dan dilanjutkan pada hubungan badan. Semuanya itu adalah penyaluran sexku yang tidak dapat terbendung.
Sekarang akan aku lanjutkan perjalanan hidupku yang hampir 90 persennya adalah sex, sebagai berikut.

Selama aku di SMP aku jarang sekali bolos onani, khususnya sehabis pulang sekolah. Hal itu disebabkan karena hari demi hari, aku selalu melakukan permainan sex dengan teman-teman cewe walaupun secara tidak langsung. Caraku bergaul dengan mereka tidak ada batasan, kadang-kadang aku pukul kalau memang aku kesal, kadang-kadang aku rangkul bercanda, pegang-pegang atau cubit tangan, dada, pipi, pantat dan anggota tubuh lainnya bahkan toket.

Begitu pula sebaliknya, anak cewe yang bergaul dengan ku tidak ada batasan, mereka suka mencubit, memukul, merangkul dan lain-lain, kecuali daerah penis. Bukannya aku tidak kasih, tapi nampaknya mereka tetap menjaga kesopanan. Di sela-sela pergaulanku, aku selalu mencuri-curi untuk memuaskan nafsu sex ku. Kadang-kadang aku memangku teman cewe ku. Uhh, rasanya nikmat sekali saat penisku bersentuhan dengan pantat empuk. Terkadang juga aku bersandaran di pundak teman cewe ku dari belakang seolah-olah aku malas berdiri. Uhhh, itu pun membuat ku nikmat saat penisku bergesekkan dengan pantatnya.

Terkadang pula aku menyenggol-nyenggol toket mereka saat berhimpitan. Dan masih banyak lagi permainan yang aku lakukan untuk memuaskan nafsu sex ku. Selama bertahun-tahun aku hidup di tengah-tengah wanita cantik dan sexy. Sampai suatu saat aku merencanakan sesuatu agar aku bisa menikmati tubuh wanita cantik dan sexy, kalau tidak salah, saat itu menjelang naik-naikan kelas ke kelas tiga.

Dari sekian banyak teman cewe ku yang cantik dan sexy, aku memilih Silvi untuk aku cicipi tubuhnya. Seperti biasa aku bercanda dengan mereka-mereka yang cewe. Hanya saja kali ini aku lebih focus kepada Silvi. Silvi sangat cantik, kulit putih dan rambut yang panjang sebahu. Toketnya cukup besar dengan perut yang sangat langsing, pokoknya sangat sexy sekali. Terkadang aku mencuri pandang pada sela-sela baju saat dia sedang membungkukkan badan. Terlihat jelas gumpalan payudara yang putih, uhh, sangat menggairahkan sekali, membuat aku hampir tidak dapat menguasai diri. Sampai suatu saat… begini kejadiannya.

“Gila si Rudi, juara satu lagi!” Kata si Lina. Lina adalah teman gaulku yang pinter juga saingan aku.
“Ya… bagaimana ya, gue traktir deh,” jawab aku ngasal, mengurangi kekecewaan Lina.
“Gue ikut dong!” yang lain menyusul berebutan untuk ikut diajak.
“Sinih yang mo ikut, gue gebuk pake batang gue,” Jawab ku kesal.

Mereka hanya cengengesan dan maksa untuk ikut. Yah, apa boleh buat, akhirnya aku traktir makan ayam KFC di Menteng. Semuanya ada 6 orang yang ikut, cewe semua kecuali aku.
Sekitar jam 4 sore kita bubar. Tetapi sebelum pulang aku menyempatkan menagih buku catatanku yang dipinjam Silvi. Kebetulan sekali, si Silvi tidak membawa buku catatanku. Oleh karena besoknya libur panjang, si Silvi menawarkan untuk mengambil di rumahnya. Wah, ternyata tanpa direncanakan, kesempatan itu datang juga, pikirku. Aku naik bajaj ke rumah Silvi yang teletak di daerah Jl. Cemara. Sesampai aku di rumahnya, kesempatan kedua muncul yaitu… Hujan deras. Rada dag-dig-dug juga aku dibuatnya. Bagaimana ini. Dan tanpa diduga-duga, kesempatan ketiga muncul lagi.

Bo-Nyo kaga ada di rumah, kecuali pembokat cewe.
“Sial nih Sil, hujan. Gue nunggu ampe reda ya?” kataku.
“Iya, di sini aja lagi. Ayo ke kamar gue, bukunya ada di sana,” katanya.
Setelah urusan buku selesai, aku hanya bisa celingak celinguk kaya orang bego.
“Kamar elo bagus juga,” kataku memecah suasana. “Elo kaga ada maenan apa gitu?” tanyaku.
“Maenan apa ya? boneka nih,” tawarnya.
“Emang gue banci. Sialan lho,” tangkisku.
“Iye kan?” Katanga.
“Sialan lho. Gue masih ada t*t*t lagi,” kataku.
“Maca cih…” katanya.

Dengan rada kesal, aku getok palanya pake tas kainku yang tipis, karena isinya cuma buku rapot ama buku lima sekawan.

“Kita berantem yuk,” kataku.
“Ayuk!!!” katanya sambil ketawa.

Aku sekap lehernya dari belakang seolah-olah sedang mencekik lehernya yang putih dari belakang. Hmmm.. harumnya si Silvi. Nampaknya dia rada kecekik juga oleh karena tanganku, dan tiba-tiba tanganya meraih telingaku dan menjewernya. Rasanya sakit juga lho. Aku tidak tahan, dan melepas sekapanku dan mengikuti tarikan tangannya. Aku tertunduk sakit dan berpindah posisi hingga saling berhadapan dengannya. Lalu tangannya yang lain mencubit dadaku, tepat di putting susuku, rasanya sakit sekali.

“Aduh! Sakit Sil, aoww, aoww,” rintih ku.

Saking tak tertahan sakitnya, aku cubit toketnya yang besar tepat pada putting susunya. Dengan sepontan, dia langsung melepaskan jewerannya dan cubitannya.
“Rasain lho, ampun gak?” kataku rada senang, dan menyusul cubitan pada toketnya yang satunya.
Dia nampak meringis dan rada malu mungkin. Dadanya yang tadi busung mulai meSilgkung ke dalam dan tangannya mencubit tanganku. Semakin keras cubitannya, semakin keras juga aku mencubit toketnya. Sebenarnya, kalau dia minta ampun, mungkin aku sudah melepaskannya, tapi dasar kaga mau ngalah, ya aku terusin aja.

Cerita Seks Seorang Dokter

Tiba-tiba tanganya menuju ke arah penisku yang sudah menegang dan mencubit tepat pada batang penisku. Untungnya celana biruku rada tebal, sehingga cubitannya hanya mengenai kulit penisku, tapi rasanya perih juga. Karena kaget oleh serangannya, aku mulai melepaskan cubitanku, dan mencengkram tangannya yang sedang mencubit penisku. Sekarang gantian dia yang menguasai aku.
“Ampun gak lho?” Katanya dengan geram.

Aku masih berusaha melawan dan aku balik serang dia dengan berusaha mencubit vaginanya. Ternyata seranganku sia-sia, selain tidak ada yang bisa dipegang untuk dicubit, oleh karena reaksiku, dia mulai menjauhkan pinggulnya dari jangkauanku, jadi dia nampak menungging.
Karena tindakanku itu, akhirnya dia tega menyerang aku menggunakan tangannya yang lain mencengkram batang penisku. Sekarang posisi kedua tangannya tidak lagi hanya mencubit kulit penisku, tetapi meremas batang penisku.

Sebetulnya kata “meremas” terlalu enak didengar, yang benar adalah “membejek”, you know “bejek”? Aduh rasanya, ampun-ampunan dah. Akhirnya aku yang nyerah.
“Ampun Sil, ampunnnnn! Nyerah deh gue,” Mohon ku.
“Ampun? ampun?” tantangnya.“Iya, ampunn….” mohon ku sekali lagi hampir mati.

Akhirnya dilepas juga. Rasanya masih terasa membekas di penisku. Aku meringkuk kesakitan di atas kasurnya. Air mataku mulai berlinang, bukan karena nangis, tapi menahan sakit. Silvi nampak kesakitan juga, tangannya meremas kedua toketnya sambil membungkukkan badannya.

“Gila lho kasar,” kata ku.
“Elo juga kasar,” katanya.
“Tapi kan elo duluan,” kataku.

Silvi mulai bangkit dan membuka kancing ke rah bajunya hanya sebatas dada, dan mengintip dari sela-sela branya. Kiri dan kanan dia lihat dengan teliti.

“Gila lo. Merah nih,” katanya.

Setelah rasa nyeri pada penisku berkurang, aku mulai meluruskan badan secara perlahan sambil dirasa-rasa, takut-takut ada rasa sakit susulan. Setelah dirasa nyaman, aku mulai membuka resleting celana sekolahku, dan mulai ku raih penis panjangku dari balik celana dalamku yang berwarna putih. Aku tidak memperhatikan wajah Silvi. Aku masih mengamat-amati penisku yang lemas. Aduh warnanya jadi merah di antara putih warna kulit penisku. Aku pencet-pencet sambil merasa-rasa kalau ada rasa sakit atau keseleo. Setelah dirasa aman, aku mulai mengalihkan pandangan ku pada Silvi. Wajahnya seperti orang bego yang cantik, terpaku pandangannya pada penisku.

“Gila lho. Kan bisa impoten kalo digituin. Sakit nih,” Rintihku sambil mengelu-elus penisku yang mulai rada menegang.
Silvi mulai cengegesan malu, dan mulai mendekati ku (di) sisi tempat tidurnya.
“Masih sakit gak?” tanyanya.
“Masih nyeri nih,” Jawabku.
“Gue juga nih masih sakit,” katanya sambil menunjuk pada kedua toketnya.
“Tapi sakitan gue lagi.” kataku kaga mo kalah.
“Enak aja, toket gue berbekas nih,” katanya sambil melakukan tindakan yang membuat aku terbelalak.

Cerita Seks Seorang Dokter – Dia menarik branya ke bawah, dan menyembulah toketnya yang sebelah kiri. Benar-benar putih, sampai-sampai nampak urat birunya di gumpalan daging payudaranya. Lalu telunjuknya mengarah pada tanda merah di atas putting susunya yang berwarna coklat muda. Ternyata cubitanku tadi tidak tepat pada putting susunya, pikirku. Tanpa ku sadari penisku mulai membesar dan menegang. Saat penisku menegang, aku mulai merasakan lagi rasa nyeri pada batang penisku, dan aku terpejam menahan rasa sakit.

“Kenapa lo Jo?” tanyanya penasaran.
“Aduh Sil, sakit lagi nih,” kataku sambil memegang dan rada meremas lembut batang penisku.
“Aduh, lagi mana dong? Sori deh,” katanya mulai ketakutan.
“Gak apa apa kok,” kataku sambil mengusap usap dan mengurut penisku.
“Udah mendingan?” katanya.
“Udah, tapi kalo ditekuk masih rada sakit,” Kataku.
“Aduh, sori deh,” kata Silvi.

Silvi mulai menelusuri liku-liku penisku. Pandangannya mengexplorasi permukaan penisku dengan tajam.

“Burung elo gede bener, bengkak ya?” tanya nya.
“Engak lagi. Emang segini burung gue,” jawabku.
“Sinih gue urut-urutin,” tawarnya.
“Boleh. Tapi pelan-pelan,” kataku sambil merebahkan tubuhku di atas kasurnya.

Penisku mulai terasa sentuhan halus tangan Silvi. Sentuhannya berkembang pada pijitan lembut di seluruh permukaan batang penisku yang semakin menegang dan berdenyut.
Saat sentuhannya menyentuh kepala penisku, aku merasakan nikmat sekali, sampai-sampai aku mengeluarkan Silguhan tanpa ku sadari.

“Kenapa Jo? Sakit ya di sini?” tanyanya.
“Enggak, justru enak banget di situ,” kataku.
Silvi mulai mengulangi sentuhannya pada kepala penisku karena dia tahu itu membuat ku enak.
“Sil, coba deh dijilat. Kalo mau ..” kataku.

Mungkin karena hasrat sex, dia hanya terdiam dan tiba-tiba lidahnya mulai menyentuh kepala penisku. Karena seperti dijilat, aku penasaran dan mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Aku melihat Silvi sedang mengecap rasa penisku setelah lidahnya menyentuh kepala penisku. Mungkin takut kalau-kalau rasanya pahit atau kaga enak mungkin.

“Bagaimana rasanya?” tanyaku.
“Asin-asin gitu deh,” jawabnya.
“Sinih Sil jilatin daerah sini. Di situ bikin rasa sakit gue kaga terasa,” kataku sambil menujukkan lingkaran kepala penisku. “Kaya dikenyot-kenyot gitu,” tambahku.
Silvi mulai memperbaiki posisinya dengan menegakkan badannya, sehingga wajahnya tepat di atas kepala penisku. Lalu secara perlahan-lahan dia mulai membuka bibirnya yang sexy dan memasukkan kepala penisku untuk dikenyot. Saat kepala penisku dikenyot, mataku menjadi membelalak.

Huuuuuuuu, enak banget rasanya. Terkadang mata Silvi melirik ke arahku dan kembali lagi memperhatikan penisku. Saat Silvi menatapku, aku hanya dapat memberi isyarat tanpa mengeluarkan kata-kata. Bibirku terbuka seolah-olah mengucapkan kata, “iya di situ, enak”.
Kulumannya mulai berkembang dengan menggoyang-goyangkan kepalanya, sehingga kepala penisku terasa dipelintir-pelintir. Whuuuu, enak sekali rasanya. Rasanya, untuk sementara cukup dulu, pikirku. Lalu aku menjamah wajahnya yang mulai nampak menikmati kont*lku. Saat matanya menatapku, mulai aku katakan, “cukup, cukup. Udah baikan.”
Setelah penisku terlepas dari mulutnya, aku mulai beranjak untuk berdiri.

“Toket elo masih sakit gak?” tanyaku.
“Em, masih sih,” Jawabnya.
“Sinih coba gue liat,” kataku sambil mendekati Silvi yang mulai duduk di tempat tidurnya.

Aku lepas kancing baju putihnya satu persatu hingga lepas semua. Lalu aku angkat bra-nya, kaos-nya yang berwarna putih ke arah atas dadanya. Sekarang kedua buah dada yang besar dan putih mulai menyembul ke luar. Putingnya berwarnya coklat muda dengan pentil yang masih belum menonjol ke luar. Aku mulai mengusap-usap tanda merah bekas cubitanku. Terkadang aku tekan-tekan seolah-olah memijitnya. Rasanya empuk seperti pantat. Aku mulai mendorong dadanya agar dia merebahkan badanya. Sekarang aku leluasa untuk mempermainkan kedua buah dadanya yang putih dan berbayang urat-urat biru halus. Aku pilin-pilin kedua putting susunya, dan kadang-kadang aku remas lembut.

“Enakkan kan?” tanyaku.

Dia hanya dapat mengangguk sambil menatapku sayu. Posisiku menindih tubuhnya dengan kepalaku tepat di atas payudaranya. Langsung saja aku gantikan posisi tanganku yang tadi memilin dan meremas dengan hisapan putting susunya pada mulutku. Terkadang aku menjilat memutar di sekitar putting susunya, terkadang aku mengkilik-kilik pentil susunya yang mulai menonjol ke luar karena hisapanku. Permainan mulutku sangat membuat dia keenakan.

Aku dapat melihat raut wajahnya. Terkadang dia merautkan alis matanya sambil memejamkan matanya. Terkadang dia menoleh ke kiri dan ke kanan sambil memejamkan matanya. Permainan mulutku berpindah-pindah, setelah puas melahap buah dadanya yang kiri, gantian giliran buah dadanya yang kanan untuk ku lahap sampai puas. Rangsangan yang kurasakan bukan hanya dari buah dada yang ada di depan mataku saja, tetapi wangi harum tubuhnya membuat aku larut dalam permainan sex yang menggebu-gebu. Jilatanku terkadang lari dari daerah gumpalan daging payudaranya. Terkadang ke dadanya, perutnya, bahkan sampai ke ketiaknya. Seluruh permukaan tubuhnya basah oleh Sildir ludahku.

Setelah puas dan puas, “sudah, sudah, Stop, stop,” Hatiku berbicara. Sebetulnya berat juga meninggalkan toket indah yang ada di hadapanku itu. Tapi… cukup, cukup.
“Bagaimana Sil? Udah sembuh kan? hehehehe.. ” kataku sambil tertawa.
Silvi mulai kembali ke alam sadarnya setelah terhanyut oleh rangsangan sexku.
Silvi mulai tersenyum. Aduh, cantiknya saat dia tersenyum.

“Udah. Udah mendingan,” katanya sambil tertawa.
“Aduh gue sampe basah nih,” kataku sambil menunjukkan kepala penisku yang nampak genangan Sildir di lobang saluran kencingku. Silvi memperhatikan daerah kepala penisku yang aku tunjuk. Lalu dia mulai menyekanya dengan genggaman tangannya. Aduh rasanya enakkkkhhhh sekali saat telapak tangannya menyeka dan mengurut kepala penisku. Lalu dia mulai memperhatikan telapak tangannya yang ada bercak Sildirku.

“Silgket ya?” Katanya.
“A laahhh, elo juga,” kataku sambil menyingkapkan roknya ke atas.
“Mana?” kata Silvi yang mulai membuka pahanya.
“Tuhkan, ngejiplak di celana elo,” kataku sambil mencolek-colek noda Sildir yang terlihat di tengah-tengah celana dalam bagian mem*k. Jariku menggosok-gosok daerah bercak noda ke atas bawah.
“Jo, enak Jo,” Katanya sambil rebahan lagi.

Sekarang aku asik mempermainkan jariku di atas mem*knya yang masih terbungkus celana dalam. Aku juga memuaskan diri dengan memandang body Silvi yang aduhai sexy nya. Setelah puas, aku mulai menjilat pahanya sambil jariku tetap menggosok-gosok mem*knya. Jilatanku langsung menuju ke arah mem*knya yang secara bersamaan aku tarik perbesar lobang celana dalamnya yang menutupi daerah selangkangan itu, sehingga nampaklah daging dengan lipatan vertikal dihiasi bulu halus di sekitarnya. Warna lipatan vertikal nampak lebih tua dari warna kulitnya Silvi. Setelah aku buka lipatan itu dengan kedua jari tanganku, nampak daging vagina yang berwarna merah muda mengkilat.

Aku mulai menjilat bagian daging vagina seluruhnya, dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan, memutar dan sebagainya. Pokoknya semua variasi yang bisa dilakukan oleh mulut dan lidahku. Aku kerjakan. Terkadang aku hisap lipatan ujung atas yang rada menonjol keluar. Tindakkanku membuat posisi pantat dan kaki Silvi berubah-ubah. Kadang-kadang terangkat mengangkang lebar, terkadang mengejang lurus ke bawah atau ke atas dan sebagainya. Mungkin menahan rasa enak atau geli. Jilatanku membuat Sildir pada vaginanya keluar bertambah banyak. Aku rasakan becek pada lidahku. Rasanya anyir gurih begitulah.

Setelah puas… Cukup, cukup. Setop, setop. Sebenarnya aku sangat sayang untuk mengakhiri permainan itu, atau meninggalkan mem*k Silvi yang lezat dan nikmat. Tapi… cukup, cukup, sebelum aku tutup vaginanya yang basah, aku puas-puaskan dulu mataku dengan melihat dan merekam dalam memori ingatanku mem*k indah milik Silvi teman sekolahku yang sexy dan cantik.

“Udah, enak kan?” Kataku dengan bangga.
“Gila Jo, enak banget tuh!” katanya dengan puas.
“Gantian dong, sinih gue ajarin,” kataku sambil membantu Silvi berdiri dan gantian aku yang rebahan di ranjangnya. Aku ajarkan cara mengocok penisku dengan tangan dan mulutnya.
“Entar elo akan ngeliat sesuatu yang keren deh,” kataku.

Mulai dia menjilat seluruh batang penisku hingga berlumuran Sildir ludahnya. Lalu penisku mulai digenggamnya dan diurut-urut dari atas ke bawah. Tangan kirinya menahan kulit penisku pada pangkalnya supaya kulit penisku tidak menutup kepala penisku saat diurut ke atas. Tangan kanannya melaju naik turun mulai dari kepala penis lalu ke bawah dan kembali lagi ke kepala penisku. Mulutnya turun naik mengikuti laju tangan kanannya yang mengurut ke atas dan ke bawah. Saat urutan tangannya ada pada batang penisku, mulutnya mulai melahap kepala penisku dan menariknya kembali sambil menghisap. Saat urutan tangannya mulai terasa seret, mulutnya mulai mengeluarkan air liur agar urutan tangan kembali lancar.

Semua itu aku ajarkan tahap bertahap hingga dia lancar mempraktekkannya. Semakin lama, Silvi tidak hanya lancar tetapi mulai dengan beberapa variasi yang aku yakin itu berasal dari gejolak sexnya. Aku mulai merasakan nikmat yang tiada tara. Rasanya lain dibandingkan aku onani. Kalau aku onani, kenikmatan saat kocokkan atau urutan kurang dapat dirasakan dan dihayati, karena konsentrasi kita terpecah. Satu untuk memerintahkan gerakan tangan, satu lagi fantasi sex.
Memang pada dasarnya kenikmatan dan kepuasan itu ada, tetapi kalau dibandingkan dengan oral sex yang dilakukan Silvi ini pada penisku, aku merasakan penuh kenikmatan saat lidah dan mulutnya menyentuh kepala penisku, atau saat tangannya mulai mengurut ke bawah dengan sedikit menarik kulit penisku. Kulit penutup kepala penisku terbuka lebar sambil hisapan pada leher dan kepala penisku. Wah, kenikmatannya membuat kepalaku pusing enak.

Terkadang aku memperhatikan wajah Silvi yang nampak belepotan dengan Sildir ludahnya sendiri. Dia sangat menikmati sekali. Aku senang juga melihatnya. Permainan itu terus dan terus sampai suatu ketika…

“Sil, stop, stop. Kocok terus dari atas ke bawah dengan rada cepat ya? Nih lihat,” aku konsentrasi melanjutkan laju air mani yang sempat aku stop pada pangkal penisku. Dan… surrrr, crett, crettt, crettt.
“Terus Sil, yang cepat. Ah,” kataku memperpanjang kenikmatan itu.
Dan akhirnya… Sudahhh, sudah, Cukup.
Aku mulai mengatur nafasku, aku mulai menyadarkan diri, dan aku mulai mengembalikan otot-ototku pada tempatnya.
“Ha.. haa.. keren kan ada air mancur?” kataku sambil tertawa.
“Apaan nih? Silgket,” katanya.
“Itu namanya peju tau.. Udah ah, gih bersih-bersih,” kataku sambil menyeka Sildir yang ada di sekitar penisku dengan tisu.

Pejuku berserakan di seprainya, tapi cuma sedikit sih, gampang dibersihkan. Silvi menuju ke kamar mandi yang ada di luar kamarnya, sementara itu aku merapihkan penampilanku seperti sedia kala.
Sebaliknya dia dari kamar mandi, segalanya telah teratur seperti sediakala termasuk penampilanku.

“Elo lain kali jangan nyakitin perabot gue ya?” Kataku menasihati.
“Iya, elo juga ya!” Katanya.
“Tapikan itu elo duluan,” kataku kaga mo kalah. Yah, begitulah. Namanya anak kecil kaga mau kalah.

Sampai saat ini Silvi masih jadi temanku dan pasienku kalau sakit. Sayangnya penampilannya tidak semenarik dulu, maklum udah punya anak 2. Jadi begitulah. Sekarang aku dijuluki nama baru ama dia, “Dr. Boyke”. Bukannya aku pakar sex, tapi aku bencongnya mirip dr. Boyke. “Dasar jiwa anak-anak”.

Ada temanku yang pernah aku ceritakan pengalamanku ini (walaupun tidak sedetail ini) bertanya, “Apakah tidak ada beban baik dari sisi hubungan ke pacar atau berdosa atau apalah?” Mungkin di antara pembaca terlintas juga pertanyaan seperti itu. Jawabannya adalah TIDAK. Bagi aku pengalaman sex ku ini tidak jauh halnya dengan Makan. Aku suka makan dan butuh makan, tetapi aku lebih senang mencari kepuasan dari makan dengan berexperimen meracik atau memasaknya sendiri.

Meskipun hasilnya tidak enak, tetapi ada kepuasan tersendiri dari hasil experimentku. Makanya teman-temanku bilang aku ini pandai masak. Begitu juga cewe-cewe bilang aku ini pemain sex yang hebat. Intinya, hal itu biasa dan membuat aku senang.

Ini ada ceritaku lagi yang gak kalah menarik dengan ini, Ngesek Gadis Desa saat aku ditugaskan disuatu pedesaan, disimak dan dibaca yuuuk.
                                                                                                                  

cerita dewasa, kumpulan cerita sex seru, cerita sex dewasa, cerita sex tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis, cerita sex artis, cerita porno artis, cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita Abg 17 tahun,cerita bokep.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.