VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Sensasi Ngentot Aktivis Hijabers

VIMAX ASLI Obat Kuat

Silvia adalah seorang akhwat keturunan Padang, umurnya sekitar 26 tahun, baru setahun menikah dengan Arif dan baru dikaruniai seorang anak. Nama aslinya Rizka Anggraeni, lulusan Universitas Negeri Jakarta jurusan Biologi. Orang tuanya adalah pengusaha kelapa sawit ternama di Pekanbaru, sehingga soal ekonomi, Silvia tak pernah ada kekhawatiran. Ia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik-adiknya semua perempuan, dan yang paling kecil masih duduk di Madrasah Aliyah.

Sensasi Ngentot Aktivis Hijabers

Arif adalah seorang lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Usianya 3 tahun lebih tua daripada Silvia. Sehari-hari ia biasa dipanggil Abu Afra, karena putri pertamanya bernama Afra Rizkyarti. Ia saat ini bekerja di perusahaan konsultan IT ternama. Ia aktif di DPD PARTAI Jakarta Selatan, dan sering mengikuti aktivitas-aktivitas sosial di sekitar lingkungan rumahnya.

Sebagai salah seorang kader PARTAI , Arif rutin mengikuti liqo di Masjid yang berada dekat dengan rumahnya. Murabbinya adalah seorang tokoh penting di DPD PARTAI Jakarta Selatan, Nurdin Rahmatullah namanya. Berusia 30 tahun, lulusan Perbanas Jakarta dan sekarang bekerja sebagai seorang Manager di sebuah Bank Swasta ternama. Orangnya sedikit gemuk, kulitnya putih bersih, dan suaranya penuh wibawa. Arif pun bingung bagaimana bisa istrinya punya prasangka buruk kepada murabbinya itu.

Seperti kejadian hari ini, diawali dengan kunjungan Nurdin ke rumah Arif, di daerah Pejompongan, untuk membawa sedikit oleh-oleh. Kebetulan Nurdin memang baru pulang dari kampung halamannya di Yogyakarta, dan ia kemarin menelepon Arif dan mengatakan bahwa ia akan mampir ke rumah untuk membawakan oleh-oleh. Arif sebenarnya sudah menawarkan diri untuk mengambil sendiri oleh-oleh tersebut ke rumah Nurdin, tapi Nurdin menolak dengan alasan ia ada acara lagi hari ini dan kebetulan letaknya searah dengan rumah Arif. Arif pun mengiyakan karena ia memang capek juga setalah lembur semalaman dan sedikit malas ke rumah Nurdin yang cukup jauh.

Sekitar jam 10 pagi, Nurdin pun sampai di rumah Arif dengan mobil JAZZ nya. Baru saja turun dari mobil, Arif ternyata telah menyambutnya di depan rumah.
Assalamualaykum Akhi Kayfa haluk, Apa kabar? ujar Arif membuka percakapan.
Alhamdulillah bi khair akhi, baik-baik saja. Antum baik-baik juga kan? Kedua ikhwan tersebut pun saling berpelukan melepas rindu karena memang sudah sekitar 2 minggu tidak bertemu.
Alhamdulillah bagaimana neh yang dari Jogja, hee, pasti capek sekali ya. Ayo masuk akhi
Baiklah.

Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang tamu sambil tak henti-hentinya berbincang-bincang mengenai berbagai macam hal. Mulai dari kondisi PARTAI , Munas yang akan berlangsung sebentar lagi, sampai cerita perjalanan Nurdin ke Jogja. Setelah mempersilahkan duduk, Arif pun memanggil istrinya untuk menyajikan sesuatu untuk tamunya itu.
Ummi buatkan minum yaa. Mas Nurdin sudah datang neh.
Iya abii terdengar suara dari balik gorden hijau yang membatasi ruang tamu tersebut dengan ruang keluarga di baliknya.
Terus, bagaimana di Jogja akhi, pasti senang yah di sana?
Pasti dunk Akh Ana keliling mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, sampai ke Parangtritis. Ini ana bawakan foto-fotonya ujar Nurdin sambil memberikan beberapa lembar foto hasil kemarin ia jalan-jalan di Jogja.

Baru melihat foto pertama, Arif sudah dibuat terkesiap. Bukan karena pemandangan foto itu yang demikian menarik, tapi lebih karena objek yang ada di foto tersebut. Di setiap foto pasti ada Aisyah, istri Nurdin. Nama aslinya Farah Ardiyanti Nisa, teman sekelasnya waktu SMA. Mereka pun sama-sama kuliah di UI, walau Aisyah lebih memilih Pendidikan Dokter. Kabar terakhir yang dia dengar dari Nurdin, sekarang Aisyah sudah mempunyai klinik sendiri di rumahnya.

Dalam hati kecilnya, Arif masih memendam sedikit rasa kepada Aisyah. Parasnya memang tidak secantik Silvia, istrinya sekarang. Tapi setiap berdekatan dengan Aisyah, Arif selalu merasakan gelora yang begitu kuat, baik sejak SMA maupun setelah kuliah. Tapi bodohnya ia tak pernah mengatakannya sekalipun kepada Aisyah, hingga ia pun jatuh ke pelukan Nurdin, murabbinya sendiri.

Tanpa disadari Arif istrinya ternyata telah selesai menyiapkan minuman dan telah keluar ke ruang tamu untuk menyajikannya. Nurdin tersenyum manis ketika melihat Silvia keluar. Wanita berpipi tembam dengan kacamata minus itu tampak begitu cantik di mata Nurdin. Ia pun tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Silvia.

Silahkan diminum tehnya Abi, Mas Nurdin Arif baru tersadar bahwa istrinya telah ada di hadapannya. Dengan sedikit gelagapan ia pun mengembalikan foto-foto tersebut kepada Nurdin.Letakkan di situ saja Ummi jawab Arif sekenanya.

Pikirannya masih melayang memikirkan Aisyah, alias Farah Ardiyanti Nisa. Saking seriusnya, ia pun tak memperhatikan bagaimana Nurdin memandang istrinya. Ketika Silvia menyajikan minuman sambil menunduk, Payudaranya yang berukuran 36B tampak begitu menjulang dan terlihat jelas walau ia telah mengenakan jilbab lebar dan jubah panjang khas seorang ummahat aktivis. Nurdin tampak memandang Silvia begitu tajam, naik turun dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan Silvia benar-benar merasa risih dengan hal itu. Ketika ia merasa diperkosa dengan tatapan seperti itu, suaminya malah terlihat bagai orang linglung yang melamun membayangkan sesuatu yang tidak jelas. Silvia pun memilih untuk langsung kembali ke belakang.

Sorenya, setelah Nurdin pulang, barulah Silvia bercerita kepada suaminya, hingga mereka terlibat pertengkaran kecil karena Arif terus saja membela Nurdin. Sebenarnya karena ia memang tidak melihat jelas kejadian tersebut karena pada saat yang sama ia sedang memikirkan Aisyah, istri Nurdin.

(Pagi keesokan harinya )Cerita Dewasa Jilbab – Kisah Seks Jilbab – Kisah Seks Akhwat – Cerita Panas Akhwat – Aktivis Jilbab juga ManusiaArif sedang mengendarai motornya menuju ke kantornya pagi itu, ketika tiba-tiba sebuah mobil pick-up pengangkut pasir melaju sangat kencang dari belakang dan hampir menabrak motor bebeknya yang sudah cukup tua itu. Beruntung Arif masih sempat menghindar ke kiri sehingga tabrakan hebat bisa dihindarkan. Tapi sedikit senggolan dari mobil itu sudah cukup untuk membuat Arif kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke trotoar. Lengan sebelah kirinya pun lecet-lecet karenanya. As depan motornya ringsek sehingga tidak bisa dikendarai lagi, dan celakanya, jalan yang sedang ia lewati saat ini sangat sepi, sehingga ia tidak bisa meminta bantuan untuk membantu dirinya atau mengejar mobil yang menyerempat dirinya itu.

Ia pun mengangkat sendiri motornya yang ringsek itu. Ia tak bisa mengendarai motor itu dan memutuskan untuk berjalan walaupun dengan tertatih-tatih sambil menuntun motornya untuk mencari bengkel. Sekitar 15 menit dia berjalan, ia pun menemukan sebuah bengkel. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung memasukkan motornya ke situ dan meminta seorang montir untuk mengecek motornya yang ringsek.

Ketika sedang memandang sekeliling bengkel motor yang cukup besar itu, mata Arif berhenti dan langsung fokus ke sosok seorang wanita berjilbab ungu dengan jubah berwarna putih yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Secara kebetulan, wanita itu pun memandang ke arahnya dan mendekatinya.

Arif ? Ujar wanita itu ketika ia sudah cukup dekat dengan Arif.
Farah ? jawab Arif dengan pertanyaan serupa.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru kemarin Arif membayangkan Aisyah, istri Nurdin, dan kini wanita yang menjadi idamannya sejak dulu itu kini berada tepat di hadapannya. Parasnya yang begitu manis dengan lesung pipit yang demikian menggoda masih tetap sama.
Masya Allah, benar Arif yaa Apa kabar antum, sejak lulus kan kita belum pernah ketemu lagi. Apa kabar?

Alhamdulillah baik-baik saja ukhti, ya beginilah ana, masih kayak dulu aja.
Ada apa ini koq tangan antum penuh darah?
Ohh ini, gak apa-apa koq. Cuma tadi keserempet mobil gitu tuh motor ana jadi ringsek, gak bisa pergi ke kantor deh, hee

Duhh, jangan anggap remeh dunk akh, ke klinik ana dulu yukk nanti takutnya infeksi. Klinik ana tepat di samping bengkel ini koq.
Nggak usah ukhti, nanti ngerepotin.
Ahh, tidak. Ini kan tugas ana sebagai dokter. Ayo ikut Ana ujar Aisyah memaksa.
Karena paksaan itu, Arif pun mengiyakan dan mengikuti Aisyah setelah menitipkan motornya ke montir yang menangani motornya. Benar kata Aisyah, kliniknya memang berada tepat di samping bengkel motor tersebut. Klinik itu seperti ruko tingkat dua. Aisyah pun mengajak Arif ke lantai 2, tempat ruang prakteknya berada. Tak terlihat seorang pun di klinik tersebut selain mereka berdua.
Koq sepi ukhti?
Iya, asisten ana lagi pulang kampung, dan sebenarnya ana lagi gak praktek hari ini, Cuma kebetulan disuruh suami servis motor saja.
Silahkan berbaring di tempat tidur, Akh ujar Aisyah sambil memakai jas dokternya dan memakai masker.

Arif pun merebahkan dirinya dengan hati yang dag dig dug, kenapa? Karena sebentar lagi ia akan bersentuhan dengan Aisyah, wanita yang ia sukai sejak SMA, yang tubuh dan suaranya begitu menggodanya dan membangkitkan birahinya. Dari tempatnya berbaring, ia bisa melihat Aisyah yang sedang mengambil obat-obatan dari sebuah lemari kaca di pojok ruangan.

Ummahat dengan jas dokter berwarna putih itu memunggunginya, tubuhnya yang sintal tercetak jelas pada jas dokter tersebut. Pose ummahat berjilbab itu demikian menantang ketika ia sedikit berjinjit untuk mengambil alcohol di rak atas. Hal itu membuat roknya yang berwarna hitam sedikit terangkat sehingga betisnya yang berbalut kaos kaki berwarna krem terlihat dari belakang. Pinggulnya demikian seksi, demikian juga dengan bagian punggungnya yang tak tertutupi oleh jilbab panjang berwarna ungu yang dikenakannya karena jilbab itu dimasukkan ke dalam jas.

Ketika Aisyah berbalik ke arahnya, Arif pun memalingkan muka ke arah lain, walau adik kecilnya yang ada di bawah sudah terus berontak. Walau ia adalah seorang aktivis dan kader PARTAI , namun Arif tak bisa menyembunyikan bahwa ia juga mempunyai nafsu yang besar, apalagi kepada akhwat yang telah lama ia sukai itu.

Tuh kan lukanya kotor kalau tidak cepat ditangani bisa infeksi neh Akh, ujar Aisyah memulai pemeriksaan. Ia membersihkan luka Arif dengan lap basah. Sayang ia tidak tahu bahwa pasiennya kini tidak lagi fokus kepada lukanya, tapi lebih kepada bayangan-bayangan indah tentang hubungan laki-laki dan wanita yang sedang berseliweran di kepalanya. Ia pandangi wajah Aisyah yang berhidung mancung itu lekat-lekat.

Iya ukhti tadi soalnya jatuh di trotoar gitu, jawab Arif sekenanya, tangannya merasakan rabaan dan sentuhan Aisyah yang begitu lembut, membuat angan-angannya terus berkelana tanpa batas.
Tahan sedikit yah sakitnya Akh Ana tutup dulu lukanya, dengan sigap Aisyah langsung menutup luka Arif dengan perban. Ia kembali merasakan telapak tangan Aisyah yang begitu halus di lengannya yang luka, ahh, tak dapat dibayangkan betapa terangsangnya ia saat ini.
Ketika Aisyah berjalan kembali ke meja kerjanya, Arif pun langsung berdiri dari tempat tidur dan mengikuti Istri Nurdin itu dari belakang. Begitu ia tepat berada di belakang ummahat tersebut, tiba-tiba Aisyah berbalik dan sedikit kaget melihat Arif telah berada di belakangnya.
Errr ini kartu nama Ana, kalau sewaktu-waktu antum bu butuh bantuan, ujar Aisyah sedikit tegang.

Arif pun mengambil kartu nama dari dompetnya dan memberikannya kepada Aisyah untuk saling bertukar kartu nama. Namun ketika kartu nama itu telah berpindah tangan, tangan Arif tiba-tiba menggenggam tangan Aisyah dengan erat. Aisyah yang kaget tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa memandangi mata Arif dalam-dalam.

Tanpa sepengetahuan Arif, sebenarnya Aisyah juga memiliki ketertarikan kepada Arif sejak SMA. Namun sayang, semakin ia menunggu, semakin Arif menjauhinya. Hingga akhirnya Nurdin datang untuk melamarnya, dan tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menerimanya, karena ia pun tak tahu saat itu Arif ada di mana. Kini memori-memori indah itu pun kembali, di saat mereka hanya berduaan di ruangan praktek ini.

Suasana begitu hening ketika jarak di antara kedua aktivis PARTAI yang sudah memiliki keluarga masing-masing ini semakin dekat. Semakin dekat dan semakin dekat lagi hingga Arif bisa merasakan aroma parfum strawberry yang dipakai Aisyah, membuatnya semakin bergairah. Tangan Aisyah yang begitu halus telah larut dalam elusan-elusan Arif yang lembut dan menyejukkan.

Tanpa mereka rencanakan sebelumnya, bibir mereka berdua kini telah saling berhadapan dan Aisyah telah memejamkan matanya. Tak menunggu lama lagi, kedua insan yang berlainan jenis itu pun langsung terlibat sebuah percumbuan yang hangat dan erotis. Mereka yang pernah berhubungan sewaktu masa SMA dan kuliah itu kini terlibat percumbuan terlarang di ruangan praktik Aisyah alias dokter Farah.

Tanpa terasa, kini Aisyah telah bersandar di dinding ruang prakteknya yang dingin, bersama dengan Arif, teman SMA yang telah ia kagumi sejak dulu walau pada hakikatnya Arif bukanlah mahrom Aisyah. Arif pun tak menghiraukan lagi akal sehatnya yang mengatakan bahwa ia adalah seorang aktivis muslim yang telah beristri, dan Aisyah pun juga telah mempunyai suami. Tapi kapan lagi ia bisa memeluk tubuh seorang dokter muslimah yang begitu cantik, yang begitu ikhlas hanyut dalam dekapannya.

Percumbuan mereka semakin lama pun semakin memanas, Arif sudah tidak malu-malu lagi untuk melumat bibir ummahat beranak satu yang tampaknya juga tengah hanyut dalam gelombang birahi itu. Tak lupa ia juga turut mengeluarkan lidahnya untuk diadu dengan lidah Aisyah sambil terus menjamah seluruh tubuh wanita cantik tersebut dengan tangannya, tanpa kecuali.
Arifd, ini salah Akhi, Ohhh Aisyah berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Arif yang tampaknya sudah demikian bernafsu itu, ia menyadari bahwa ini adalah kesalahan. Dan ia pun tak habis pikir bagaimana bisa birahinya terpancing dengan begitu mudah.

Sudahlah Ukhti, nikmati saja tidak ada yang akan tahu apa yang kita lakukan di sini, jawab Arif sambil terus menyodorkan bibirnya untuk diadu dengan bibir Aisyah yang kian memerah.
Setelah merasa puas dengan bibir ummahat berusia 27 tahun yang masih begitu seksi itu, Arif pun mencoba melepaskan jas putih yang dipakai Aisyah. Ternyata dengan mudah Arif mampu menanggalkannya dalam sekejap ke lantai, hingga kini ia langsung berhadapan dengan payudara yang telah demikian membusung milik seorang dokter muslimah yang sehari-harinya berperilaku sangat alim itu.

Aisyah pun seperti tak mau kalah, dengan cekatan jemarinya yang lentik itu melepaskan kancing demi kancing kemeja Arif hingga terlihatlah dada Arif yang bidang dan berbulu karena Arif memang tidak memakai kaos dalam lagi di balik kemejanya. Biasanya ia baru memakai kaos dalam begitu tiba di kantor. Ahh Arif, dadamu membuatku .errr, terangsang paras Aisyah benar-benar memerah karena malu ketika mengatakan kata-kata binal tersebut dengan jelas.Tanpa menunggu panjang, Arif langsung melancarkan serangan ke leher Aisyah yang masih berbalut jilbab panjang berwarna ungu tersebut.
Sambil merangsang titik-titik sensitif Aisyah, Arif pun berusaha menelusupkan tangannya ke balik jilbab dan jubah yang dikenakan wanita alim tersebut. Sasarannya tak lain dan tak bukan adalah payudara milik sang akhwat yang sedari tadi begitu menantang Arif. Ukurannya sih tidak terlalu besar, masih kalah dengan milik Silvia istrinya sendiri, namun bentuk payudara Aisyah lebih bagus dan putingnya begitu cantik, berwarna pink.

Ahhh…Ariffff, ahhh…Desahan binal Aisyah terdengar makin keras seiring Arif lebih menekan payudaranya yang sudah tersingkap dari jubah putih yang menutupinya. Sebelah kiri dan kanan Arif bergantian memeras toket wanita yang telah lama menjadi pujaannya ini. Wanita alim, yang kini telah menjadi dokter, anak seorang Kyai ternama, dengan paras yang cantik dan tubuh yang begitu bahenol, sepertinya wajar kalau kini Arif begitu menggebu-gebu birahinya di hadapan wanita cantik nan alim itu.

Ohh, desahan kamu binal sekali Ukhti, ohhh aku begitu horny mendengarnya,
Kata-kata cabul Arif bukannya menyadarkan Aisyah, tapi malah membuatnya makin merasa rendah dan semakin terangsang.

Dengan sekali hentakan, Aisyah pun mendorong Arif hingga pria yang kemejanya kini telah tersampir di lantai itu terduduk di meja prakteknya. Tanpa diduga sama sekali oleh Arif, wanita berjilbab panjang yang berpenampilan begitu alim itu tiba-tiba berlutut di hadapannya dan langsung memelorotkan celana panjang Arif, lengkap dengan celana dalamnya yang berwarna biru. Kontol Arif yang berwarna kecoklatan dengan kulup berwarna merah itu pun teracung tegak di hadapan muslimah berjilbab panjang itu.

Tanpa menghiraukan kata-kata Arif, Aisyah yang telah dimabuk nafsu itu pun memasukkan kontol Arif yang demikian besar ke dalam mulutnya yang suci itu. Arif tak pernah sekali pun membayangkan akan di blowjob oleh wanita sealim Aisyah ini. Apalagi dengan statusnya sebagai suami orang dan Aisyah juga adalah istri orang lain. Perzinahan yang sangat diharamkan ini terasa begitu nikmat bagi Arif. Aisyah tampak mengerti sekali bagaimana caranya memuaskan seorang lelaki, berbeda dengan istrinya yang tak mengerti variasi-variasi posisi dalam bersenggama atau berhubungan seks. Entah dari mana Aisyah mengetahui hal ini.

Sambil sesekali memandangi wajah Arif, Aisyah tampak begitu menikmati mengulum kontol Arif yang begitu panjang itu. Ia memaju mundurkan kepalanya hingga membuat Arif merasa seperti sedang mengentoti mulut wanita alim tersebut. Di dalam mulutnya, kepala kontol Arif pun menikmati pelayanan yang luar biasa dengan jilatan-jilatan lidah Aisyah yang melingkari lubang kencingnya dengan lembut dan basah.

Ahhh, bibir Anti begitu nikmat Ana tak tahan ingin merasakan juga lubang Anti yang lain, akkhh ujar Arif sambil mengelus-elus kepala Aisyah yang berselimutkan jilbab lebar berwarna ungu. Aisyah pun semakin bersemangat karenanya. Ia terkadang menyelingi kulumannya yang demikian istimewa kepada kontol Arif itu dengan kocokan yang tak kalah erotisnya.

Arif yang tak ingin kalah perang duluan pun langsung menarik Aisyah ke atas dan menggendong ummahat beranak satu itu ke arah tempat tidur praktek. Tubuhnya yang tidak begitu berat pun bukan masalah bagi pria sekekar Arif. Setelah membaringkannya di tempat tidur yang sesaat lalu ditempatinya itu, Arif pun langsung mengangkangi Aisyah dan melepaskan celana panjang dan celana dalamnya hingga ia benar-benar telah tanpa busana.
Aisyah pun tampak sedikit terperanjat, betapa seksinya tubuh pria yang diidamkannya sejak SMA itu. Dadanya bidang dan berbulu, dengan dagu berlapis jenggot tipis, bulu kemaluan yang lebat, Ahhh benar-benar membuat jiwa muda Aisyah kembali lagi.

Mpphhh Hmmffff Arif langsung menindih tubuh seksi ummahat manis tersebut dan menciumi bibirnya yang begitu indah. Kali ini tangannya begitu cekatan bekerja. Mulai dari memelorotkan rok dan celana dalam wanita muslimah tersebut, hingga membuka jubah yang dipakai Aisyah di bagian depan. Kini tubuh Aisyah, seorang ibu beranak satu, dokter yang cerdas, aktivis PARTAI yang istiqomah, sedang dikangkangi oleh rekannya sesama aktivis PARTAI yang telah berstatus suami orang itu dengan tubuh yang telah bugil tanpa sehelai benangpun menutupi, walau masih berbalut jilbab yang hanya menutup beberapa bagian tubuh bagian atasnya dengan seadanya.

Akkhhhh Akhi, kamu begitu jantan, jauh berbeda dengan suamiku yang selalu tak sempurna dalam masalah seks, ujar Aisyah sambil melekatkan kembali tubuhnya ke tubuh Arif yang sudah sedikit berkeringat itu. Dadanya terasa seperti digelitik oleh bulu-bulu dada Arif yang cukup lebat. Tampaklah pemandangan erotis di mana dua orang aktivis PARTAI yang berlainan jenis kelamin itu sedang berpelukan dan bercumbu dengan panas di atas sebuah ranjang pemeriksaan sebuah klinik.
Masa sih Ukhti? Bagaimana kalau begini, Arif pun kembali merangsang Aisyah dengan mengelus-elus memek ummahat tersebut yang telah dibanjiri cairan cintanya dengan bau yang khas sambil sesekali memelintir itilnya yang sebesar kacang merah itu hingga empunya menggelinjang tak karuan, bagai betina yang haus akan sentuhan pejantan tangguh.

AAAAAAAAAAAaaaRRRRRGGGGGHHHHHHHH .. nikmat sekali rasanya akhi, ana pengen antum masukkan penis antum yang besar itu sekarang, ohhh jawab Aisyah sambil meremas kontol Arif hingga empunya meringis-ringis penuh erotisme. Arif pun menambah gempurannya dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam liang senggama sang akhwat. Dan efeknya sungguh menakjubkan, Aisyah langsung menggelepar-gelepar seperti hewan yang baru saja disembelih, seperti haus akan sentuhan pria jantan.

Baiklah, sekarang balikkan badanmu Ukhti yang diperintah pun seperti kerbau betina yang telah dicocok hidungnya. Aisyah pun membalikkan tubuhnya hingga berada di posisi menungging dengan Arif mengambil posisi di belakangnya. Toketnya yang berukuran 34 itu pun menggantung dengan seksi, membuat setiap pejantan normal yang melihatnya pasti terangsang hebat.

Sudah neh Akhh apa yang akan antum lakukan pada ana?
Jilbabnya yang lebar menambahkan erotisme yang demikian unik pada hubungan mereka berdua. Arif pun merasakan hal itu. Ceceran keringat dari tubuh Aisyah yang berkulit putih itu pun membuat Arif menelan ludah. Ia pun langsung menjilati keringat di punggung sang akhwat. Aisyah pun tertawa-tawa binal Ahhh, apa yang antum lakukan, akhh enak sekali Akhh, geliii .Nikmati saja ukhti sebentar lagi kita akan pergi ke surga dunia, Arif pun langsung memposisikan kontolnya yang terus membesar itu di depan gerbang kemaluan Aisyah yang telah berkedut-kedut menahan birahi. Setelah menyampirkan jilbab lebar sang muslimah di lehernya, Arif pun mulai meraba-raba hingga meremas-remas toket indah Aisyah. Jilatan lidahnya pun makin naik ke atas hingga leher wanita terhormat yang cantik itu. Putting payudara sang akhwat pun tak luput dari pelintiran penuh birahi Arif. Sudah siap ukhtii?

Ana siap kapanpun antum mau, Akh Kedua kader PARTAI itu tampaknya sudah lupa daratan dan semakin liar dalam permainan seksis ini. Tanpa menunggu komando lebih lanjut lagi, Arif langsung mendorong penisnya dari belakang ke dalam memek Aisyah yang telah begitu licin itu. Aisyah merasakan sensasi yang begitu menakjubkan ketika dirinya disetubuhi dengan posisi seperti anjing betina sambil toketnya diremas-remas dengan irama yang senada dengan genjotan di memeknya, ohh, bagaikan sebuah irama music klasik yang indah.
Ia pun tak mampu menahan erangan dan desahan terbinalnya, Arif, terus entotin ana Arif, ohh ohh ohh
Iya ukhtii kita akan nikmati hari ini berdua dengan perzinahan terbinal yang bisa kita lakukan, Ohhh Arif menambah kecepatan genjotannya di kemaluan suci Aisyah sambil berusaha mencari letak bibir wanita alim tersebut untuk dikulum dan dihisap isinya.
Sementara itu kontolnya telah memenuhi isi memek Aisyah dan menyentuh ujungnya dengan lihai, dinding memek ummahat yang baru beranak satu itu terasa masih begitu rapat dan mencengkeram kontolnya begitu kencang.

Ohhh Ohh ukhti, empotanmu, Ohhh nikmat sekali, Ohhh
Aisyah merasakan kontol temannya sewaktu SMA ini begitu besar, jauh dari yang bisa dicapai suaminya sendiri, sehingga memenuhi seluruh ruang liang senggamanya yang begitu suci, sebelum kejadian hari ini tentunya. Remasan tangan Arif di kedua payudaranya pun telah membuat Aisyah benar-benar melayang, Arif telah benar-benar menghancurkan pertahanan birahinya dan menguasai titik-titik sensitifnya dalam berhubungan intim.

Ayoo terus Ukhti Ahhh Ahhh AHhh, puaskan ana seperti kau memuaskan suamimu sendiri, Ahhh
Tidakkk Akhhh Aku akan memuaskanmu lebih daripada aku memuaskan suamiku sendiri Ohhhh
Arif pun merasakan gelombang birahi itu makin lama semakin dekat, hingga akhirnya ia tak bisa menahannya lebih lama lagi, Ana mau sampai Ukhti, Ohhhhh
Ana juga Akhii . AAAaaaaaaaaahhhhhhhhhhh Dan Akhirnya
Crrrtttttttttt orgasme Aisyah pun membanjiri tempat tidur di mana ia biasa menyuntik pasien itu, walau kini dirinyalah yang sedang disuntik oleh lelaki yang bukan suaminya sendiri.

Dan Crooottttt . Croooottttt .. Arif pun mengalami orgasme yang hebat beberapa saat kemudian, meninggalkan mereka berdua dalam kelelahan erotis yang begitu nikmat. Tubuh mereka berdua pun ambruk di atas tempat tidur tersebut, dan Arif tidak mau melepaskan kontolnya dari liang senggama Aisyah yang demikian hangat. Mereka pun tertidur dalam posisi seperti itu, dan baru bangun ketika maghrib menjelang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.