Cerita Sex Ngentotin Morin Si Bahenol

SexCrit situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Ngentotin Morin Si Bahenol –  kali ini selaku admin sexcrit.com memberikan suguhan cerita terbaru kami yang akan membuat pembaca sekalian menikmati cerita yang kami suguhkan. Semisal para pembaca mempunyai cerita sex pengalaman pribadi pembaca bisa dikirimkan melalui email [email protected] dan akan kami publikasikan. Langsung saja ceritanya.

“Teng.. teng!” aku mendengar suara gembok pagar dipukulkan ke pagar.
“Sebentar!” sahutku.

Ternyata Morin yang datang, wah senang banget ternyata dia tidak main-main.

Cerita Dewasa Ngentotin Morin Si Bahenol

Cerita Sex Ngentotin Morin Si Bahenol
Cerita Mesum Ngentotin Morin Si Bahenol

“Sebentar Rin, wah sexy banget non, mau ke mana?” sambil buka kunci pagar aku nyerocos menyapa dia.
“Ya mau ke sini Deck. Eh, pakaianku terlalu terbuka ya?” Dia malah nanya.

Body yang sexy dibalut tank-top warna biru menonjolkan warna kulitnya yang putih dan tonjolan dadanya yang besar.

“He, kamu ngelihat apa kok gak pake bernafas..?” Dia merasa kalau mataku tidak terlepas dari arah dadanya.
“Ehm, eh.. gak pa pa. Silahkan masuk Rin.” Aku jadi salah tingkah.
“Siapa Deck?” Nenekku yang ada di ruang keluarga mengeluarkan suaranya dengan nada bertanya.
“Morin Nek, anaknya Bu P yang tinggal di Jl. P itu lho.” aku jawab saja sambil menggandeng Morin ke ruang tamu.

“Duduk Rin, mau minum apa?” tanyaku sambil berjalan ke dapur.
“Apa aja Deck, eh air putih aja deh. Oh ya jangan yang dingin ya, yang biasa saja.” jawab dia.
“Kalau gitu kamu ambil sendiri aja. Aku mau mandi dulu, lengket nih tadi habis motong rumput di halaman belakang.” sambil ngomong aku melirik kembali ke ruang tamu. Dan sempat terlihat sekilas warna putih pahanya saat Morin meluruskan kaki mau berdiri. Ada getaran asyik dan aneh setelah menyaksikan pemandangan indah itu.

Segarnya guyuran air saat mandi menjadikan aku teringat dengan paha Morin, dan sedikit demi sedikit kemaluanku mengeras serta menimbulkan perasaan yang enak.

“Morin mau nggak ya aku ajak ML?” tanyaku pada diri sendiri.
Sambil masih berbalut handuk dari pinggang ke bawah, aku keluar menemui Morin.
“Deck, pakai dulu celanamu, gak sopan tuh.” Nenekku nyeletuk, waduh jadi malu dan merasa salah tingkah. Tapi aku cuek saja.
“Iya Nek.” aku jawab sekenanya sambil tetap jalan ke ruang tamu.

Di sana Morin sudah menunggu sambil tangannya memegang segelas air putih yang diambilnya dari dispenser. Posisi duduknya menyebabkan sebagian pahanya yang putih terlihat sampai dekat bongkahan pantatnya. Aku menelan ludah, mungkin dia melihat gelagatku ini. Wah pasti deh wajahku kelihatan merah padam.

“Deck, ke atas yuk. Aku pingin tahu apa rumahku terlihat dari sini.” pintanya.
“OK, tapi aku pake celana dulu ya.” jawabku.
“Gak usah Deck, biar aja.” wah dia ternyata dia gak punya pikiran aneh-aneh.
“Nek, aku ke atas..!” teriakku minta ijin ke Nenek.
“Iya. Deck, telponnya kamu bawa saja kalau-kalau nanti bapakmu telepon.” sahut Nenek.
“Biar aja di bawah Nek, nanti kalau ada telpon Deck yang turun.” sahutku lagi.

“Ayo Deck, cepetan. Ntar keburu malam, aku harus belajar Matematika.” Morin merajuk sambil tangannya menarik lenganku yang masih membetulkan ikatan handuk. Akibatnya, handukku sedikit terbuka di bagian depan sehingga batang kemaluanku jadi terlihat oleh Morin.

“Hi, apa itu Deck. Kok hitam gitu, berambut lagi.” celetuknya dengan ekspresi terkejut.
“Ini kemaluanku namanya Penis” jawabku sekenanya sambil membetulkan handuk.

Lalu kami melanjutkan perjalanan menaiki tangga ke lantai dua. Ruang di lantai dua sengaja aku atur tanpa menggunakan kursi, hanya meja rendah dan bundar model Jepang yang ada di tengah karpet tebal berwarna biru. Ada 4 bantal besar dengan cover bermotif oriental dengan warna biru muda yang dipakai sebagai alas duduk. Ada TV 21″ dan VCD player di pojok ruang.

“Deck, itu apaan? Kok aneh, tadi kan nggak ada?” tanyanya sambil pandangannya mengarah ke bawah perutku. Rupanya dia menyadari kalau dari tadi aku melihat ke arah dadanya, sehingga aku yang keasyikan menikmati pemandangan indah jadi terkejut.

“Ehm.. ini tho? Ini Penis yang lagi tegang, kamu pingin lihat?” jawabku sambil bertanya.
“Nggak deh, malu. Lagian buat apa?” dia malah balik bertanya.
“Kesempatan nih.” pikirku.
“Ya biar kamu tahu bagaimana bentuk kelamin pria pada saat tegang.” celetukku.
“Gimana ya?” dia berpikir sejenak. Lalu..

“OK deh. Tapi nggak ada efeknya negatifnya kan?” dia mulai terpancing.
“Oh ya Rin, biar asyik. Gimana kalau kita nanti gantian ngasih liat punya masing-masing. Dijamin deh, nggak bakalan ada yang dirugikan.” aku mulai melancarkan seranganku.

Matanya sedikit terbelalak ketika melihat Penisku yang berukuran jumbo dengan diameter 6cm dan panjang 17cm.

“Waah, gedhe banget ya. Deck, apa setiap pria berukuran segitu?” tanyanya.
Matanya masih menelusuri tubuhku mulai dada sampai pangkal pahaku. Nafasnya mulai sedikit cepat.
“Asyik nih, dia udah mulai terangsang” dalam hati aku bersorak gembira.
“Rin, gantian dong. Sekarang kamu yang buka baju, apa perlu aku bantu bukain baju kamu?” aku menghentikan tatapannya yang mulai bergairah.
“Ehm, boleh. Tapi jangan diapa-apain ya, cuman lihat aja ya.” Dia berkata sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Aku tatap terus matanya lalu mulai membuka t-shirt nya ke arah atas. Pada saat t-shirtnya melintas di wajahnya dan kedua tangannya terangkat ke atas (bayangin deh, tubuhnya terbuka banget..), aku berhenti sejenak, sambil mencuri cium dadanya.

“Deck.! jangan ah, geli.” Dia agak berteriak kaget, tapi tidak ada bagian tubuhnya yang mencoba menghentikan aksiku. Aku merasa ada lampu hijau buat meneruskan aksiku ini.

Lalu terlepaslah t-shirt nya dan terlihatlah tubuh bagian atasnya yang terbuka dan hanya berbalut bra dengan model bikini warna putih. Payudaranya terlihat menonjol dan menantangku untuk meremasnya, tapi aku tahan keinginan itu.

“Wah, putih banget ya kulitmu. Jadi pingin tahu yang di dalam situ.” celetukku sambil menunjuk ke arah payudaranya.
“Ya udah, lihat aja.” sambil berkata gitu Morin melepas penutup dadanya.

Sekarang terpampang dengan jelas dua payudara putih dengan puting agak merah muda. Dekat sekali dengan aku, membuat aku jadi pingin meremas dan mengulumnya.

“Sabar Deck, nanti juga dapat.” dalam hati aku berkata.
“Deck.. ayo lanjutin buka bajunya Morin.” pintanya dengan pandangan berbinar nakal.

Aku melanjutkan aksiku dengan memegang kedua pahanya dan menggerakkan kedua tanganku ke atas berbarengan. Sehingga roknya tersingkap ke atas sampai perut. Lalu aku raih celana dalamnya dan menariknya ke bawah dengan tiba-tiba.

“Ahh, Deck..!” Morin menjerit kecil karena tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang. Lalu tangannya meraih pinggangku dan berpegangan agar tidak jatuh. Dan dengan tidak sengaja ujung Penisku menyentuh bagian atas perutnya. Terasa sedikit geli. Morin terdiam dengan posisi masih memegang pinggangku lalu dia melepaskannya dengan tiba-tiba sambil mundur dan tangannya memegang bagian bawah perutnya yang masih terbungkus rok.

“Hi hi, kok Morin nggak ngerasa kamu melepas celana dalam. Pantas aja rasanya agak dingin.” Dia tertawa kecil sambil berkata begitu.
“Hmm.. uhmm” mulut kami masih berpagutan dengan lidah saling menjilat.

Ketika tangannya bergerak ke belakang tubuhnya, lalu terlepaslah pembungkus tubuhnya yang masih tersisa. Sekarang Morin benar-benar telanjang. Dan nafasku terasa berhenti ketika melihat kemaluannya yang punya bulu-bulu halus berbentuk segitiga. Aku menelan ludah dengan agak susah.

“Kenapa Deck, heran ya lihat punyaku.” tiba-tiba Morin berkata mengagetkan aku yang masih terpesona dengan pemandangan di depanku.
“Eh, iya.. Rin, boleh aku pegang Memek kamu?” aku memohon.
“Jangan Deck.” Katanya sambil mendekatkan pinggangnya ke pinggangku.
Aneh juga, tidak mau tapi malah mendekat. Aku rasakan gesekan lembut antara Penisku dengan rambut Memek nya.
“Hmm.. ahh.. sshh” Morin mendesah lirih sambil memejamkan matanya.
“Wah kesempatan nih” pikirku.

Lalu aku rengkuh punggungnya dan kupagut lagi bibirnya. Dia membalas dengan penuh nafsu.

“Ahh, jangan Deck. Aku takut hamil.” rengeknya ketika aku mulai menyentuh Memek nya.
“Santai aja Rin, gak bakalan hamil deh.
“Ya udah, Deck.. jangan kasar ya.” gumamnya lirih.

Aku kecup lagi bibirnya sambil tangan kananku mengelus lembut bibir Memek, sementara tangan kiri meremas lembut payudaranya bergantian kiri dan kanan.

“Hmm.. shh, terus Deck, enak banget. shh” Morin mulai meracau keenakan.

Tangannya yang sedari tadi terus memegangi pundakku mulai beraktifitas menjelajahi leher dan dadaku. Sementara itu aku kecup lembut puting sambil tangan kiriku masih mengelus daerah selangkangannya.

“Shhtt.. Deck.. ahhss.. terus Deck” Morin semakin keras meracau dan agaknya dia sudah hampir mencapai puncak kenikmatan.
“Ahh..” Sambil badannya melenting kebelakang dengan kepala mendongak Morin akhirnya mencapai kenikmatannya yang pertama.
“Hmmff..Deck, rasanya enak banget. Kok, kamu gak merasa apa-apa?” Tanyanya sambil memeluk leherku dan menatap mataku.

Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat jelas kulit wajahnya yang berkeringat, dan dadanya yang masih membusung masih menempel di dadaku.

“Rin, kamu santai aja dulu, sambil berkata aku mulai lagi mengecup lehernya dengan lembut, lalu meniupkan nafasku ke dadanya. Hal ini membuat Morin mengerang lagi.
“Sst.. Deck.. eh kamu nakal ya. Lalu mulutku mulai merayap turun ke dadanya dan menjilati putingnya bergantian kiri kanan selama lebih kurang lima menit.
“Sst.. ahh.. hmm” Morin mulai meracau lagi. Gairahnya mulai muncul.

Tangannya kini telah memegang Penisku yang sedari tadi terus mendongakkan kepalanya. Lalu aku rebahkan Morin di atas meja. Aku beringsut mundur dan meraih kedua pahanya, lalu dengan tiba-tiba membenamkan kepalaku diantara kedua ujung pahanya.

“Ahh.. Deck geli.. ahh.. sstt.. ohh. Enak Deck” Morin kaget lalu mendesah nikmat.

Birahiku semakin menjadi mendengarnya. Mulutku menelusuri setiap inci tubuhnya yang berkulit putih dan lembut. Merayap naik dari Memek nya sampai leher. Lalu kukecup bibirnya dengan lembut. Tangan kanan Morin mengelus-elus Penisku dengan lembut.

“Terserah kamu Deck.” pelan Morin berkata.
Setelah aku bisikkan, “Aku menginginkanmu Rin.”

Lalu dengan lembut, aku tarik kedua kakinya sehingga menjuntai dari tepi meja, dan kakinya aku renggangkan sedikit tetapi masih menjejak karpet, sehingga Memek nya yang sudah basah semakin menantangku. Kusentuhkan ujung kepala Penis ke Memeknya, lalu aku gerakkan ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Nikmat sekali.

“Hmm Deck, cepetan dimasukin, tapi pelan-pelan ya.” Morin mulai memohon karena sudah tidak tahan dengan rangsangan yang aku berikan.

Aku letakkan ujung Penisku tepat di atas lubang Memeknya, lalu dengan perlahan aku dorong. Agak susah juga, sering meleset, padahal cairan yang dikeluarkannya lumayan banyak. Aku hentikan usahaku, kudekatkan kepalaku ke Memeknya lalu aku sedot cairan yang ada. Sekarang Memek nya sudah agak kering.

“Sshh.. Deck.. geli.. ayo dong masukin.. cepet.. hmm” Morin mengerang kegelian.
Kucoba lagi memasukkan ujung penisku, sekarang berhasil. Lebih kurang 3 centimeter ujung Penis yang terbenam. Aku dorong dengan pelan, lalu kutarik lagi dengan pelan. Ku ulang sampai 4 kali. Hal ini membuat kepala Morin menggeleng ke kiri dan ke kanan sambil mendesah nikmat.

Lalu dengan tiba-tiba “Bles..” Penisku berhasil menerobos keperawanannya.

“Ahh..Deck, sakit” Morin merintih.
“Cup.. cup.. ss” aku coba menenangkan Morin, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.

Penis masih terbenam di Memek, sengaja tidak aku gerakkan pinggulku. Aku ingin merasakan sensasinya. Perlahan Memek nya mulai berdenyut, dan Morin sudah tersenyum nakal. Lalu kami berpagutan dengan ganasnya. Pinggulku kudorong naik turun dengan pelan, sambil kedua tangan meremas payudaranya. Morin juga aktif mengelus punggungku dengan cepat. Sesekali didorongnya pinggulnya ke atas. Sehingga ujung Penisku terasa menyentuh dinding rahimnya.

Aktifitas ini berlangsung lebih kurang 20 menit, sampai ketika Morin menjerit tertahan sambil menggigit pundakku.

“Ahh.., Deck.. aku nyampai”.

Pada saat yang sama kurasakan Penisku seperti diremas-remas dan basah. Remasan yang seperti pijitan lembut menimbulkan rasa nikmat di batang penisku. Aku semakin mempercepat gerakan naik turun, lalu..

“Ahhrhh..” aku melenguh panjang menyemprotkan cairan hangat.

Kami berciuman mesra dengan Penisku masih di dalam Memek nya.

“Gila Deck, kok masih tegang” Morin kaget karena tahu kalau Penisku masih tetap tegang.

Kami berdua tertawa lepas ketika terdengar suara nenekku memanggil.

“Deck, sudah hampir malam. Apa nak Morin nggak dicari ibunya?”.
“Iya Nek, sebentar. Kami masih nonton film.” sahutku sambil tersenyum ke arah Morin.
Morin membalas senyumku.
“Oh indahnya.” dalam hati aku bersorak.

Setelah merapikan baju dan rambutnya, aku mengantar Morin pulang ke rumahnya. Semenjak itu kami jadian. Cerita Sex 2016, Cerita Sex Mesum, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Hot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.