Cerita Sex Karena Kesepian II

SEXCRIT situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Karena Kesepian II – Milla merasa perutnya telah berbunyi minta diisi. Dibukanya pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar melihat keadaan, sepi…Pak Jhoni sepertinya sedang di belakang sana. Maka dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menutupi makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya. Sepuluh menit kemudian, dia pun selesai makan, lalu dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun membalik badannya dan menepis tangan itu.

Cerita Ngentot Karena Kesepian

Cerita Sex Karena Kesepian II

“Kurang ajar !” omelnya dengan wajah cemberut.
“Siang Non, udah bangun yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Jhoni sambil cengengesan.

Wajah Milla langsung merah padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri walaupun tindakan pria ini bisa digolongkan sebagai pemerkosaan dan merendahkan harga dirinya namun dia sendiri juga menikmatinya. Ingin rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Dia hanya bisa menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya lalu mendengus kesal sambil melengos meninggalkannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting dari kamarnya. Pak Jhoni sendiri hanya tertawa-tawa melihat reaksi nona majikannya itu.

Di kamar Milla menyetel cd-playernya keras-keras sambil menyalakan sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalan pada tukang kebunnya yang brengsek itu. Setelah rokok itu habis setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia kecilkan sedikit volume cd-playernya lalu membuka pintu.

“Ngapain lagi sih Pak ?!” ujarnya ketus.
“Waduh…jangan judes gitu dong Non, ini Bapak cuma konak lagi nginget yang barusan, kita main lagi dikit yuk Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Jhoni.
“Nggak ah, tadi kan udah…pergi sana !” tolak Milla dengan kesal seraya menutup pintu.
“Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Bapak belum ngerasain kont*l Bapak dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Jhoni menahan pintu itu dengan setengah memohon dan setengah memaksa.

Pak Jhoni membuatnya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya dengan terpaksa diiyakannya kemauan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya. Milla menghempaskan pantatnya hingga terduduk di tepi ranjang tanpa melepas pandangan marahnya pada pria itu. Pak Jhoni berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot jatuh, dia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari balik celana dalamnya.

“Ayo Non disepong yang enak !” Pak Jhoni menyodorkan penis itu pada nona majikannya.

Walau terbiasa melihat penis hitam dan dilecehkan seperti itu, namun Milla baru pernah berurusan dengan penis tua yang bulu-bulunya sudah mulai beruban seperti yang satu ini sehingga ada rasa enggan untuk mengoralnya. Milla sadar bahwa itu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka dengan terpaksa dia mulai menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya.

Tanpa menunggu perintah lagi dia mendekatkan wajahnya pada penis yang menodong wajahnya itu. Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat. Pak Jhoni mengerang parau merasakan jilatan lidah gadis itu pada ujung penisnya, tubuhnya bergetar sambil meremas rambut gadis itu. Seumur hidupnya baru pernah pria tua itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menolak untuk melakukan hal itu, sehingga kehidupan seksnya terasa hambar selama puluhan tahun menikah.

Oral seks pertama dengan gadis secantik nona majikannya ini memberinya sensasi luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan. Penisnya kini sudah masuk ke mulut gadis itu, dia merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga sensasi hangat dari air liurnya.

“Uhhh…enak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi kepala gadis itu.

Milla melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari dia semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama yang paling sering dengan Imron, sesekali dengan Pak Dahlan si dosen bejat itu atau pernah juga dengan Pak Kahar, si satpam kampus yang tak bermoral. Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya.

Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Milla seolah menyetubuhinya. Kini Milla berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai tukang kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri. Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Jhoni mencapai puncak, dia mengerang tak karuan dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuat Milla agak kelabakan.

Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Milla. Walaupun jijik karena aromanya yang cukup tajam, Milla bisa juga menelan habis cairan itu tanpa menetes keluar dari mulutnya. Memang menghisap merupakan salah satu kelebihannya dalam hubungan seks. Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, terkadang kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya berhenti, dijilatinya juga sisanya yang blepotan pada batang itu hingga bersih. Cerita Sex

“Udah Pak…cukup sampai sini, sekarang keluar !” Milla berdiri dan menyuruhnya keluar.
“Alah Non…masa sih segitu aja ? ayo dong biar Bapak muasin Non !” Pak Jhoni mendekap tubuh Milla dan tangannya bergerak ke bawah meremas pantatnya.

Milla meronta dan mendorong tubuh pria tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terjatuh.

“Udah dong Pak, saya bilang jangan sekarang, kenapa sih !?” kata Milla setengah menghardik.
Pak Jhoni hanya tersenyum kecil sambil menaikkan kembali celananya.
“Ya udah ga apa-apa deh…dasar lonte…awas ya nanti !” dia lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar.

Akhirnya Milla berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut juga mendengar perkataan terakhir Pak Jhoni yang bernada mengancam itu. Ya sudahlah paling-paling digarap habis-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si tua brengsek itu, toh yang seperti itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak seks. Sekarang ini dia sedang tidak mood melakukan hal itu. Dia pun berbaring di ranjang empuk itu sambil mendengarkan musik yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga tanpa terasa dia tertidur lagi.

Sekitar jam setengah empat, Milla terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan di pintu beserta suara Pak Jhoni memintanya membuka pintu.

“Huh, tua bangka itu lagi, dasar ga tau diri” omelnya.
“Ngapain lagi sih Pak, jangan kelewatan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.
“Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Bapak bukan mau ganggu Non, itu ada orang dari pabrik dateng katanya mau ambil barang titipan tuan !” kata Pak Jhoni kalem.

Milla baru ingat memang sebelum pergi papanya pernah menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus dalam amplop besar berwarna coklat. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan tukang kebunnya itu. Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari meja papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang suruhan papanya itu menunggu. Cerita Sex Karena Kesepian II

Di sofa ruang tengah telah menunggu dua orang pria yaitu Pak Irfan, salah satu staff papanya, seorang yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Dodot, seorang pria berkumis tebal dan tubuhnya padat berisi serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar matahari.

“Sore Non Milla” sapa Pak Irfan ramah, Dodot juga tersenyum menyapanya.
“Sore Pak” Milla balas menyapa dan tersenyum kecil “Ini Pak , titipan dari papa, bener kan?”
“Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” kata Pak Irfan seraya menerima amplop itu.
“Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Milla melihat mereka yang belum beranjak pergi.

Kedua pria itu terdiam sejenak saling pandang satu sama lain, lalu Pak Irfan berkata,

“Mmm…anu Non sekalian itu…THR nya ?”
“THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus bagian pabrik ?” Milla agak heran.
“Itu Non, THR spesialnya…kan Pak Jhoni juga dikasih, masa kita nggak ?” sambung Dodot si sopir pabrik.

Deg…Milla terperanjat mendengar perkataan Dodot itu, apalagi ekpresi mereka mulai berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.

“Brengsek…tua bangka mulut ember, keterlaluan banget sih !” makinya dalam hati.
“Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Alah Non pura-pura bego aja” kata Pak Irfan sambil menggeser duduknya mendekati Milla, “THR dari Non, ini loh” katanya memegang paha gadis itu.
“Eeii…jangan kurang ajar yah !” bentak Milla mendorong pria itu.

Tanpa diduga, Dodot telah berada di sebelahnya dan mendekap tubuhnya setelah dia mendorong Pak Irfan.

“Apa-apaan nih, lepasin saya, tolong…tolong…!!” jeritnya sambil meronta.
“Hus jangan teriak Non, ntar semua orang tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya ada main sama tukang kebun hehehe !” kata Pak Irfan sambil tertawa-tawa.
“Iya Non, lagian kan udah mau hari raya, boleh dong sekali-sekali nyenengin kita-kita yang udah kerja buat keluarga Non” timpal Dodot
“Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non suka keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non puas deh” kata Pak Jhoni yang sudah berdiri di belakang sofa.

Milla sadar bahwa kini dirinya benar-benar terjebak, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kemauan bejat mereka. Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Pak Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kecil itu tega-teganya berbuat demikian terhadapnya, ternyata dia tidak berbeda dengan pria-pria lain yang pernah memperkosanya, bermoral bejat.

Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya yang ramping dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir. Demikian pula Pak Jhoni dan Si Dodot yang mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh bagian atas payudaranya dari luar sehingga membuatnya menggeliat-geliat. Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk daripada melayani ketiga binatang berwajah manusia ini, demikian katanya dalam hati. Cerita Mesum

“Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah cantik, tambah nafsuin” kata Pak Irfan sambil melepas celana pendek Milla.

Dodot mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos gadis itu. Maka kini tubuh Milla yang putih mulus itu hanya tinggal memakai bra berenda dan celana dalam yang keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak terlihat melalui celana dalamnya yang semi transparan. Mata ketiganya terbelakak melihat kemolekan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak naik-turun dan pandangan mata mereka demikian bernafsu seperti srigala lapar.

“Akhirnya bisa juga ngeliat bodynya Non Milla, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” kata Dodot.
“Misi yah Non, bapak mau nyusu dulu” Pak Jhoni yang sudah berpindah tempat berjongkok di depan sofa meminta ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.

Tanpa ba-bi-bu lagi pria setengah baya itu langsung melumat payudara kanannya.

“Sshhh !” desis Milla merasakan payudaranya dikenyoti.

Terasa sekali lidah bagian atas pria itu menggesek-gesek putingnya seperti mengamplas sehingga benda itu makin menegang tanpa bisa tertahan. Dodot yang dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan pada leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyusup masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya yang halus, segera jari-jarinya memilin-milin putingnya setelah menemukannya.

Sementara itu, Pak Irfan di bawah sana sedang memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sambil tangan satunya memainkan jari-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam. Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak cairan pada celana dalamnya yang makin lebar.

“Enak kan Non, sampe banjir gini” kata Pak Irfan yang semakin gencar menggerayangi selangkangannya.

Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Milla mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Dodot melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Milla membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan.

Kumis tebal Dodot bergesekan dengan daerah sekitar mulut Milla, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Jhoni yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Cerita Sex Karena Kesepian II

Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Milla lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu.

Pak Irfan menarik lepas celana dalam Milla yang bagian tengahnya sudah basah. Matanya langsung nanar melihat kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan tubuh gadis itu di atas meja ruang tamu dari bahan kayu berukir dekat mereka. Pak Jhoni menyingkirkan barang-barang diatasnya, Dodot melucuti branya sehingga kini tubuh Milla yang sudah telanjang bulat itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.

Ketiganya menatapi tubuh telanjang itu dengan pandangan penuh birahi. Pak Irfan nampaknya tidak sabar lagi untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara paha Milla dan menaikkan kedua pahanya ke bahu lalu membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu.

“Oohhh…!!” desah Milla sambil menggeliat ketika lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular.

Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dilukiskan saat lidah pria itu menyentuh klitorisnya sehingga dia hanya bisa mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang. Pak Jhoni dan Dodot masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka membuka celananya masing-masing. Betapa terpananya Milla melihat penis Dodot yang demikian besar dan berurat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Dia merasakan penis itu bergetar di tangannya ketika digenggam.

“Sepong Non, Pak Jhoni bilang Non nyepongnya enak !” perintah Dodot.

Walau kata-kata tidak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan juga benda itu ke mulutnya. Dia membuka mulut selebar-lebarnya untuk memasukkannya.

Milla mengoral penis Dodot sambil tangan satunya mengocoki penis Pak Jhoni. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani oleh gadis itu. Rangsangan-rangsangan akibat jilatan Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya meninggi sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua penis itu. Tak lama kemudian Pak Irfan merasa puas menjilati vagina Milla.Ketika dia bersiap hendak menyetubuhi putri atasannya itu, tiba-tiba si Dodot menyela,

“Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dulu, gua mau nyicipin bentar mem*knya, pengen tau rasanya mem*k cewek cantik !”
“Sabar dong, semua dapet giliran kok, gua udah ga tahan nih !” kata Pak Irfan.
“Ayolah bentar aja, ntar kalau lu tusuk keburu bau kont*l, gua jadi ga selera” pinta Dodot sekali lagi.

Mereka bertiga tertawa-tawa mendengarnya, akhirnya Pak Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Dodot menjilati vagina Milla.

“Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan sambil membuka celananya dan berdiri di sebelah Milla.

Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang bermain, jarinya pun turut menusuk-nusuk sehingga tubuh Milla dibuatnya makin menggelinjang. Di saat yang sama Milla kini melayani penis Pak Irfan dan Pak Jhoni, tukang kebunnya.

Kedua tangan Milla menggenggam penis itu, mengocok dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi kepala Milla ketika diemut penisnya, tidak rela kehilangan kuluman nikmat itu.

“Hehehe…bener kan kata saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Pak Jhoni terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.
“Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…hati-hati Non, jangan kena gigi !” ucap Pak Irfan sambil merem-melek keenakan.

Dengan birahinya yang semakin naik, Milla pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta seperti orang diperkosa ataupun menangis seperti dulu waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang seperti ini sudah biasa. Tiba-tiba tubuh Milla menggelinjang, dari mulutnya yang dijejali penis Pak Irfan terdengar erangan tertahan.

Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Dodot pada vaginanya. Nampaknya Pak Irfan cukup pengertian dengan kondisinya dia melepaskan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga pria itu kelihatan senang melihat reaksinya saat mencapai orgasme itu. Si Dodot dengan rakusnya melahap cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu. CeritaNgentot

“Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya si Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Milla.

Kedua paha mulus Milla mengapit wajah pria itu karena tubuhnya yang menegang dan merasa geli karena oral seks si kumis itu. Setelah beberapa saat akhirnya gelombang orgasme itu reda, namun Dodot masih terus mengisapi vaginanya hingga cairan orgasmenya habis dilahap.

Milla terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-putus setelah mencapai klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya. Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga lelaki itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka membuka pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia melihat tubuh si Dodot begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi sedikit bulu.

“Gila…mampus dah gua !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga orang itu.

Sesuai perjanjian, Pak Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Milla. Dia langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu dan mengarahkan penisnya.

“Uhhh…nikmat, seret, becek banget !” erangnya sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.

Dengan cairan orgasme yang berfungsi sebagai pelumas, penis Pak Irfan melesak masuk dengan lancar, ukurannya juga termasuk sedang sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penetrasi.

“Enak Pak ?” tanya Dodot setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina nona majikan mereka.
“Yo jelas toh, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.
“Dasar bajingan, istri sendiri diomongin gitu” omel Milla dalam hati.

Tak lama kemudian Pak Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa gadis itu.

“Oohhh…oohh !” desah Milla merasakan sodokan pria itu.

Dodot kini berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Pak Jhoni mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Milla meraih batang itu dan menjilatinya.

“Uuuhh…enak…enak…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Milla.

Pria itu memaju-mundurkan pinggulnya sambil tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka yang saling bertumbukkan. Milla sendiri sedang terlarut menikmati penis Pak Jhoni, penis itu dia jilati, sesekali digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya dia pijati sehingga pria setengah baya itu mengerang keenakan. , kalau saja jantungnya tidak kuat mungkin saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya.

Si Dodot juga masih asyik bermain dengan payudara Milla, wangi tubuh gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan memerah pun menghiasi kulitnya yang putih, terutama di daerah payudara. Kumis si Dodot yang tebal itu terasa sangat menggelitik tubuhnya dan memberinya sensasi plus di samping cupangan-cupangannya.

Sungguh nampak kontras sekali adegan seks di ruang tengah itu, seorang gadis berparas cantik, berkulit putih mulus sedang digauli tiga orang pria bertampang minus berkulit gelap kasar, juga berbeda status dan rasnya. Milla pun tidak bisa memungkiri bahwa seks liar seperti ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.

“Uuhh…uhh…mau keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” erang Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.

Milla tidak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Pak Jhoni ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di dalam apakah Pak Irfan mendengarkannya. Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Milla seperti gerakan mengaduk adonan., lalu dia menekannya dalam-dalam. Milla merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Pak Irfan makin melemah hingga akhirnya berhenti dan penisnya terlepas dari vaginanya.

“Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas ngos-ngosan.

“Payah, cuma segitu aja” kata Milla dalam hati karena masih belum puas, “Oh my God, apa yang gua pikir barusan ?” ia baru menyadari pikiran tadi terlintas begitu saja di benaknya akibat birahi yang semakin naik sehingga akal sehatnya semakin hilang.

“Gua…gua sekarang !” sahut Dodot yang sudah tak sabar menikmati kehangatan tubuh Milla, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”

Milla hanya mengangguk lemah saja sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Dodot menggendong tubuh telanjang Milla dengan kedua lengan kekarnya sambil berjalan mengikuti Pak Jhoni yang menuntun mereka ke kamar gadis itu.

“Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan begitu memasukinya.
“Main sama cewek cakep emang enaknya di tempat yang enak gini” timpal Dodot sambil menurunkan Milla di ranjanganya.

Dodot langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan gaya doggie. Milla yang masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.

“Eenggh !” desahnya saat Dodot memenekankan kepala penisnya pada vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Bang, sakit !”
“Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya dia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.

Milla mengerang dengan wajah meringis dan sesekali menggigit bibir karena penis Dodot yang besar dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal erat sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi sedikit akhirnya penis hitam besar itu masuk juga seluruhnya ke dalam liang vagina Milla. Cerita Sex Karena Kesepian II

“Wuih, sempit banget nih mem*k Non, baru pernah loh saya ngerasain yang gini !” komentar si kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.

Beberapa saat kemudian mulailah dia menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.

“Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Milla mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Dodot yang mengetahui Milla sudah terangsang berat itu semakin bernafsu, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya juga meremasi pantat dan payudara gadis itu.

“Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak sekarang malah keenakan hehehe !” ejek Pak Jhoni sambil meremas sebuah payudaranya.

Milla tidak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah kata-kata merendahkan itu membuatnya makin bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Dodot, seolah ingin penis itu menusuk lebih dalam lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat bingkai foto di bufet sebelah ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya.

Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah ia tidak sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang sangat bertentangan dari di foto itu, ia malah menikmati hubungan terlarang dengan orang-orang yang tidak seharusnya seperti ini, sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, namun dia juga telah terperangkap dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin tak terkendali sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Imron.

Pak Jhoni kini mengangkat tubuh Milla hingga posisinya kini berlutut sambil tetap disetubuhi Dodot dari belakang, ia memeluk tubuh kerempeng tukang kebunnya itu sebagai tempat bertumpu. Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya. Pak Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Milla yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Jhoni melepaskan ciumannya, ia masih harus beradu lidah dengan Pak Irfan yang menggantikannya.

“Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Milla mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.

Sekitar setengah jam kemudian, Milla mendesah makin keras, dia merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin tak tertahankan.

“Aakkhh….aahhh…oohhh !” Milla mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang yang membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.

Dia memeluk erat-erat tubuh Pak Irfan yang saat itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu sempat tergores sedikit oleh kukunya. Setelah orgasmenya reda, mereka membaringkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah nampak membasahi tubuhnya. Dodot yang baru melepas penisnya buru-buru menaiki wajah Milla, tangannya menarik kepala gadis itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.

“Buka mulut Non, saya mau keluar di mulut Non !” suruhnya terbata-bata.

Dodot tidak bisa menahan spermanya lebih lama lagi, baru saja Milla membuka mulut dan kepala penisnya menyentuh bibir gadis itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke mulut Milla dan sebagian berceceran membasahi mulut gadis itu. Dodot menjejali benda itu ke mulut Milla tak peduli walau dia kelabakan menerima penisnya yang besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Milla meronta karena merasa tersiksa, namun tangan Dodot terlalu kokoh menahan kepalanya. Terpaksa dia harus berusaha menelan sperma yang menyemprot di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan batang itu menyusut dalam mulutnya.

Milla merasa lelah sekali tubuhnya basah oleh keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama daerah mulutnya. Dodot mencolek cipratan spermanya pada hidung Milla lalu di tempelkan ke bibirnya.

“Nih Non, sayang kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.

Milla pasrah saja membuka sedikit mulutnya membiarkan jari itu masuk lalu diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang telah terkulai lemas, komentar-komentar jorok keluar dari mulut mereka.

“Sudah demikian hinakah gua ?” Milla bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.

Pak Jhoni memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengelap cipratan sperma di wajahnya, dia langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya hingga habis.

“Bisa kita mulai lagi Non ?” tanya Pak Jhoni.
“Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemas.
“Ngga, kali ini santai aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Pak Jhoni yang berbaring telentang sambil menunjuk pada penisnya.

Milla pun naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian ia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.

“Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu mengisi vaginanya.

Sebentar saja Milla sudah menaik turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Jhoni. Pak Irfan berdiri di ranjang dan mendekatkan penisnya ke wajah gadis itu. Tahu apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Milla sudah menggenggam batang itu dan membuka mulut. Dia mengoral penis itu sambil memacu tubuhnya. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang itu membuat Dodot merasa gemas sehingga dia mendekatinya dan mencaplok yang sebelah kanan.

“Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras oleh pria itu.
“Jangan nafsu gitu oi, ntar salah-salah kont*l gua kegigit gimana ?” kata Pak Irfan.
“Huehehe…sori abis bikin gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” lalu dia menyapukan lidahnya pada puting itu.

Sapuan lidah itu membuatnya merasa lebih nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Jhoni pun menjulurkan tangannya meremasi payudara gadis itu yang sebelahnya, putingnya dia pilin-pilin sehingga makin mengeras. Setelah merasa cukup dioral oleh Milla, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menuju ke belakang dan membuka pantat gadis itu.

“Bapak cobain disini yah Non, pasti lebih seret !” pintanya.
“Tapi jangan kasar-kasar Pak” kata gadis itu.

Setidaknya Milla merasa bersyukur karena yang meminta anal seks Pak Irfan yang ukuran penisnya sedang-sedang saja, kalau Dodot yang minta pasti sakitnya akan terasa selama beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Pak Irfan memulai proses penetrasinya.

“Sempit toh Pak ?” sahut Pak Jhoni dari bawah tubuh Milla melihat Milla dan pria itu merintih-rintih.
“Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sambil terus menekan-nekankan penisnya.

Semenit kemudian akhirnya Pak Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Milla, dia mendiamkannya untuk beradaptasi dengan jepitannya yang keras. Pak Jhoni menarik wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman. Di tengah percumbuannya dengan Pak Jhoni, Milla merasakan penis di duburnya mulai bergerak, Pak Jhoni pun mulai menggerakkan pinggulnya lagi menusuk-nusuk vaginanya. Posisinya kini sedang disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan bawahan papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya terlihat seperti daging bersih dijepit dengan dua roti hangus.

Selain melakukan double penetration, tugas Milla bertambah ketika Dodot menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya. Posisi serangan tiga arah itu bertahan sekitar sepuluh menit sebelum Pak Jhoni dan Pak Irfan melepaskan penisnya karena akan orgasme.

Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya. Pak Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Pak Jhoni di mulut. Dodot yang masih belum puas berlutut diantara kedua paha Milla dan menyutubuhinya sampai sepuluh menit berikutnya. Keduanya mencapai orgasme secara berbarengan sperma Dodot muncrat di dalam vaginanya dan Milla sendiri menggelinjang hebat.

Dia harus mengakui bahwa Dodot benar-benar perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Jhoni, bahkan dengan Frans, pacarnya, mungkin keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Imron, si penjaga kampus itu. Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar hanya dengusan nafas kelelahan. Langit di luar sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan akhirnya turun dari ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.

“Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Dodot yang lalu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.
“Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, lain kali lagi yah hehehe…!” pamitnya sambil meremas payudara Milla.
“Go to hell lah…THR…THR !” omel Milla dalam hati.

Setelah mereka berpakaian Pak Jhoni mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan pagar.

Setelah itu Pak Jhoni masih terus mengerjai Milla mulai dari mandi bareng hingga malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Milla tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Hari-hari berikutnya pun setiap kali ada kesempatan Pak Jhoni selalu meminta jatah darinya. Milla sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga diam-diam menikmatinya. Cerita Sex Karena Kesepian II

Hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena dua mingguan setelah kejadian itu, Pak Jhoni terjatuh dari bangku tinggi ketika sedang mengairi tanaman di pot gantung. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Hari ketiga di rumah sakit Milla sengaja datang membesuknya.

Suasana kamar tempatnya dirawat tidak ada siapa-siapa ketika itu, Milla masuk dan mengunci pintu. Ia menatap tajam dengan pandangan penuh dendam pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Perlahan si sakit membuka matannya dan dia mengembangkan senyum melihat siapa yang di sebelahnya.

“He…he…Bapak tau Bapak gak bakal hidup lebih lama lagi, tapi Bapak puas…soalnya udah ngerasain kehangatan dari Non” katanya terputus-putus.

Milla tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menundukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka bertemu, membuka dan beradu lidah seperti hari itu. Namun tiba-tiba Milla menarik wajahnya dengan cepat. Pak Jhoni merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan tak sampai sedetik benda itu sudah berpindah menutupi wajahnya.

Milla menekan bantal itu keras-keras membekap wajah pria itu. Tubuh tua itu meronta tapi tak lama sebelum akhirnya diam tak bergerak. Setelahnya barulah Milla melepaskan bantal itu, mata pria membuka dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar lagi. Milla menaruh kembali bantal itu dibawah kepalanya.

“Salam buat iblis di neraka” katanya sambil menutup mata pria itu.

Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati puas telah membalaskan dendamnya. Keluarga Pak Jhoni di kampung menerima santunan dari keluarga Milla dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya yang mereka anggap sebagai kecelakaan kerja itu. Cerita Sex Pribadi, Cerita Sex Kiriman Pembaca, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Bokep, Cerita Porno, Cerita Ngentot ABG, Cerita Sex Mahasiswa, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex SPG, Cerita Sex Model, Cerita Sex Bispak, Cerita Sex Tante Girang, Cerita Sex Artis, Cerita Sex Guru, Cerita Sex Sekertaris, Cerita Sex Perawat, Cerita Sex Bidan, Cerita Sex Pramugari, Cerita Sex Pegawai Bank, Cerita Sex Penjaga Toko, Cerita Sex Kasir Swalayan, Cerita Sex Threesome, Cerita Sex Perkosaan, Foto Hot Terkini, Foto Bugil Artis.

TAMAT….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.