VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Cerita Sex Meqi Legit Anak Pembantuku

VIMAX ASLI Obat Kuat

SEXCRIT situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Meqi Legit Anak Pembantuku – Perkenalkan namasaya Anjas, umurku 35 tahun, Rumahku dekat dengan kampus tekemukan di Magelang. Aku bekerja sebagai karyawan posisiku lumaya tinggi yaitu sebagai General Manager sehingga aku mendapatkan fasilitas perumahan dan sebuah mobil sedan.

Aku masih lajang sehingga sehabis pulang kerja hobiku jalan-jalan cari pengalaman dan refresing. Cerita ini berawal saat aku pulang kerja sekitar jam 11 malam, mobilku menabrak seorang anak yang digandeng ibunya sedang menyeberang jalan.

Cerita Lucah Meqi Legit Anak Pembantuku

Cerita Sex ABG, Cerita Mesum ABG, Cerita Ngentot ABG, Ngesex Memek ABG, Ngentot ABG HOT

Untung saja aku cepat menginjak rem sehingga anak itu lukanya tidak parah hanya sedikit saja dibagian pahanya. Ketika aku tawarkan untuk ke rumah sakit, Ibu itu menolak dan katanya lukanya tidak parah.

“Ya udah bu, sekarang aku antar Ibu pulang, dimana rumah Ibu?” “Nggak usah den, si Mbok nggak usah diantar”. “Kenapa Mbok, inikan sudah malam, nggak apa-apa Mbok aku antar ya?” Si mbok ini tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk lesu dan ketika dia mau menjawab, dari arah ujung trotoar mencul anak kecil sambil membawa bekicot.

“Ini Mbok bekicotnya, biar luka Mbak Okta cepat sembuh”. Ibu itu menerima bekicot dari gadis itu, memecahnya dibagian ujung dan mengoleskannya diluka gadis yang ternyata namanya Okta. Tapi, Setelah selesai mengoleskan, simbok itu mengandeng Okta dan adiknya mau pergi. Sebelum melangkah jauh, aku hadang dan berusaha untuk mengantarnya pulang.

“Simbok mau pulang.., aku antar ya Mbok, kasihan Okta jalannya pincang”.

“Ngaak usah den, simbok..”.

“Kenapa Mbok, nggak sungkan-sungkan, ini kan sudah malam, kasihan Okta Mbok..”.

“Simbok ini nggak punya rumah den, sombok cuma gelandangan”.

Aku sempat benggong mendengar jawaban simbok ini, akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke rumahku walaupun hanya untuk malam ini saja.

Terus terang aku kasihan kepada mereka. “Ya sudah Mbok, kamu dan kedua anakmu itu malam ini boleh tidur dirumahku”

“Tapi ndoroo..”. “Sudahlah Mbok, ini juga kan untuk menebus kesalahanku karena menabrak Okta”. Dari informasi yang aku dapatkan didalam mobil selama perjalanan pulangp, simbok ini ternyata ditinggak suaminya saat mengandung adiknya Okta, yang akhirnya aku ketahui namanya Intan.

Simbok ini yang ternyata namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Okta umurnya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Okta sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.

Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Okta dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yang dipakainya ya tetap yang tadi.

Padahal baju yang dipakai ketigany sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Simbok memakai daster yang lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Okta dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana sini. Besok yang kebetulan hari minggu, aku memang mempunyai rencana membelikan baju untuk mereka bertiga.

Aku memang tipe orang yang nggak bisa melihat ada orang lain menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Okta dan juga kamu Intan makan yang banyak ya.. biar cepet gede..”.

“Inggih Ndoro.., boleh nggak kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”.
“Boleh nduuk.., Intan dan Okta boleh makan sepuasnya disini”.

Mulai dari sinilah awal dari petualangan seksku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. Sekitar jam 1 malam setelah aku selesai nonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka.

Ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki paha yang betul-betul mulus dan dibalik CD nya yang lusuh dan sobek dibagian depannya terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam.

Pikiranku langsung melayang dan penisku yang masih perjaka ini langsung berontak. Setelah agak tenang, tanganku langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, aku mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya.

Aku sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau CD Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi clitnya terlihat dengan jelas. Sedangkan yang bikin aku mau muntah adalah bau CDnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak dicuci.

Setelah sekitar 13 menit aku jilati clitnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu capek shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan penisku dan mulai aku gesek-gesekkan di clitnya.

Aku tidak berani melapas CDnya takut dia bangun. Ya.. aku hanya berani mengocok penisku sambil memandangi clit dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga puting payudaranya sempat menonjol di balik dasternya.

Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun. Sedang asyik-asyiknya aku mengocok penisku, si Okta bangun dan melihat ke arahku. Okta sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Okta untuk diam.

Setelah Okta diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok penisku. Okta yang masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yang mengocok penisku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya.

Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Okta, gadis kecil yang benar-benar polos, dan aku lihat sesekali Okta melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yang sedang aku elus-elus berulangkali.

Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini. Saat aku keluarkan pejuhku, si Okta menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya.

Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., Oktaku ini tidak memakai celana dalam. Saat aku sedang melihat vaginanya Okta, dia bilang.. “Ndoro.. kenapa pipis di vaginanya simbok”. aku sendiri sempat kaget mendengarnya.

“Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”. “Ndoroo.. Okta kedingingan.., Okta mau pipis.. tapi Okta takut ke kamar mandi..”.

“Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”. Okta kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Okta aku suruh jongkok didepanku. Okta kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yang keluar dari vaginanya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku.

Setelah acara pipisnya selesai, Okta aku gendong dan aku dudukkan di pinggir ranjangku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yang sampai ke pinggang.

“Ndoro.. Okta belum cebok.. nanti vaginanya Okta bau lho.. Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yang bersihin vaginanya Okta.. Okta bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”.

Kemudian Okta aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif membelai rambutnya, pipinya, bibirnya.. dan juga payudaranya yang lumayan montok. Pada saat tanganku mengelus pahanya..

“Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Okta yang lecet..”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”. Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk mencicipi Okta, gadis kecilku ini. Bayangkan pembaca, disebelahku ada gadis 14 tahun yang begitu polos, dan dia diam saja ketika tanganku mengelus-elus seluruh tubuhnya.

Pembaca.. gimana udah belum ngebayanginya.. udah belum..! udah yaa.. aku terusin ceritanya. Kemudian aku jongkok diantara kakinya dan mulailah aku singkap rok yang dipakai Okta sampai ke pinggang.

Sekarang terpampanglah dihadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir kemaluan yang masih belum ditumbuhi bulu. Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir vagina yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem.

Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yang tadi itu lho dan juga agak mengkilap. Tangankupun mulai mengelus vagina keperawanannya, dan sesekali aku pijit, pelintir dan aku tarik-tarik clitorisnya.

Ake sendiri heran clitnya Oktaku ini ukurannya nggak kalah sama ibunya. “Aduuh.. Ndoro.. vaginanya Okta diapain.. Ndoro..”.

“Tenang Nduk.. nggak apa-apa.. Ndoro mau nyembuhin luka kamu kok.. Okta diam saja yaa..”.

“Inggiih.. Ndoro..”.

Setelah Okta tenang, akupun mulai menjilati vaginanya dan memang ada rasa dan bau pipisnya Okta.

“Ndoro.. jangaan.. Okta malu ndoroo.. vagina Okta kan bau..”. Aku bahkan sempat memasukkan jariku ke liang perawannya dan mulai aku kocok-kocok dengan pelan.

Oktapun mulai menggelinjang dan mengangkat-angkat pantatnya. Aku pun mulai menyedot vaginanya Okta dengan kuat dan aku lihat Okta menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri.

“Ndoroo.. geli Ndoro.. vaginanya Okta diapain sih ndoroo..”. Akupun tidak peduli dengan keadaan Okta yang kakinya menendang-nendang dan tangannya mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini.

Dan akhirnya.. “Ndoroo.. sudah Ndoro.. Okta mau pii.. piis dulu Ndoro..”. Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..” Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menelan semua cairan vaginanya yang mungkin baru pertama kali ini dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Oktaku ini. “Ndoro.. maafin Okta ya.. Okta tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Okta bau ya Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. tapi Okta harus dihukum.. karena udah pipis dimulut Ndoro..”

“Okta mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Okta..”. “Hukumannya, Okta gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”.

“Iya Ndoro..”. Akhirnya aku keluarkan penisku yang sudah tegang. Begitu penisku sudah aku keluarkan dari celana dalamku, Okta yang masih terlalu polos itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku lihat wajah Okta agak memerah. Setelah aku lepaskan kedua tangannya, aku sodorkan penisku kedepan wajahnya dan aku suruh Okta untuk memegangnya.

“Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..! “Inggih Ndoro.. tapi Okta malu Ndoro.. Okta takut Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya penis Nduk..”.

Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut. “Nduk.. penisnya ndoromu ini diemut ya..”.

“Tapi Ndoro.. Okta takut Ndoro.. Okta jijik Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Okta ngemut es krim.. ayo nanti Okta Ndoro kasih es krim.. mau ya..”.

“Benar Ndoro.. nanti Okta dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”. Okta pun jongkok diantara pahaku dan mulai memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang penisku mengenai giginya.

“Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”. Sambil Okta mengoral penisku, kaos lusuhnya Okta pun aku angkat dan aku lepaskan dari tubuh mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang aku remas dengan keras.

“Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”. Sekitar 12 menit kemudian, aku rasakan penisku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Okta dan aku kocok penisku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!” Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Okta dan hanya sedikit yang menetes keluar dari mulutnya.

“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Okta sampai mau muntah..”.

“He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”.

“Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Okta sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”. Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawat tubuhku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika.

Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak amis. Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Okta memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku.

Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati vagina tembemnya. terus terang saja aku penasaran sebelum membobol selaput daranya. “Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Okta pipis lagi lho Ndoro..”.

“Nggak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Okta mau lagi khan es krim..” “Mau Ndoro..”. Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala penisku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, Oktaku meringgis.

“Ndoro.. vagina Okta diapain.. kok sakit..” Aku sempat tarik ulur penisku di liang vaginanya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku rasakan ujung penisku merobek selaput tipis, yang aku yakin itu adalah selaput daranya.

“Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Okta, kuciumi wajah dan bibir mungilnya. “Nggak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Okta tenang saja ya..”. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa vaginanya dan aku lihat masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” itulah yang keluar dari mulutnya Okta. “Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”. SAmbil aku terus meusuk-nusuk vaginanya, aku selalu perhatikan wajah imutnya Okta.

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, bibirnyapun kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan kalau aku lihatnya matanya terkadang hanya terlihat putihnya saja. Kedua kaki Okta pun sudah tidak beraturan menendang kesana-kesini dan juga kedua tangannya menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kaitannya.

“Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”. Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan vaginanya di penisku, pertanda Oktaku sebentar lagi orgasme. Kepala Okta pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang badannya melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih begitu polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis.

Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi tangannya pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo udah terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.

“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..” “Ndoroo.. Okta mau pipiiss.. ndoroo..” “Seerr.. suurr.. suurr.., penisku seperti disiram air hangat..”.

Aku peluk sebentar Oktaku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menuntaskan orgamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya.

“Maapin Okta ya Ndoro.. Okta pipis dikasurnya Ndoro..”.

“Okta malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”. “Nggak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.

Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan penisku menyentuh dinding rahimnya. Vaginanya jadi becek banget, dan aku mulai mempercepat sodokan penisku.

“Ndooro.. Okta capek.. Okta mau bobok.. ndooroo..”. “Iya nduuk.. Okta bobok saja yaa..”. “Memeek Okta periih.. ndooroo..”.

Kutekan keras-keras penisku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya. Aku cabut penisku dari vagina tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar mengalir keluar dari liang kemaluannya.

“Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Okta.., perut Okta jadi hangat Ndoro..”.

“Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Okta bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”.

“Inggih Ndoro.., sekarang Okta capek.., Okta pengen bobok..”.

Aku perhatikan vaginanya sudah mulai melebar dan agak membelah dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Okta, si gadis kecilku. Aku dan Oktapun akhirnya tertidur dengan pulas. Nikmaat. Cerita Sex 2016, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Perawan, Cerita Sex SMA, Cerita Sex Sekertaris, Cerita Sex Bidan, Cerita Sex Perawat, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Pembantu, Cerita Sex Pramugari, Cerita Sex Mahasiswa, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex SMP, Cerita Sex HOT, Cerita Sex Sekantor, Cerita Sex SPG, Cerita Sex Bispak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.