Cerita Sex Pemburu kenikmatan

SEXCRIT situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Pemburu kenikmatan – Suatu waktu, ketika istirahat makan siang, kulihat wanita cantik masuk ke warung . Bibir tipis, mata indah, serta body yang seksi. Walau terutup jilbab ia masih terlihat menarik. Dan menurutku tipe seperti ini ganas di ranjang.

Naluriku yg buas mengharuskanku berkenalan dengannya. Jurus yang cukup handal menurutku, yaitu dengan pura pura menabrakkan diri. Pelan-pelan aku mempersiapkan diri, lalu setelah dia kira-kira sudah dekat, segera aku berdiri dan berbalik.

Cerita Mesum Pemburu kenikmatan

Cerita Sex Pemburu kenikmatan

“gubrak!!” “praang!!” tiba-tiba piring dan gelas berisi makanan sayur dan minuman yang ia bawa tumpah ke bajuku dan bajunya, lalu jatuh pecah di lantai.

“eh maaf mbak, ga sengaja…” kataku sambil berwajah bodoh. Langsung wanita cantik itu ngomel-ngomel dihadapanku. Sudah kuduga, karena memang terlihat wanita cantik ini punya lidah yang tajam. Ah, aku sih sudah kebal.

Dengan sok gentleman, aku menawarkan untuk membayar semua kerugian dan mentraktrnya bersama dua rekannya. Aku juga menawarkan untuk mengantarnya pulang untuk berganti baju (namanya Sintya, seorang karyawati sebuah perusahaan perkreditan motor syariah). Usaha yang sempurna. Semua diterima , bahkan rumahnya pun aku tahu. Dan sudah menikah.

Tiga hari berlalu, Kami sering bertemu di warung makan itu. Percakapan kami sudah mengalir, seringkali disertai candaan layaknya teman dekat. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya yang berjilbab. Terus terang saja , aroma parfum tipis bercampur keringat khas tubuhnya membuatku terangsang.

Suaminya adalah orang yang gila kerja, sehingga walaupun kehidupan mereka terjamin, Sintya tidak mendapatkan nafkah batin yang layak. apalagi sang suami seringkali ejakulasi dini, sehingga sering tidak bisa dinikmati oleh Sintya.

Pada suatau hari, aku sengaja menunggu di depan kantornya. Ketika ia keluar, segera aku menghampirinya. Wanita cantik itu terkaget melihat aku ada di situ. Aku mengatakan bahwa aku hanya ingin berkunjung kerumahnya. Ternyata dia mempersilahkan. Aku segera mengikuti motornya menuju rumah yang ada di sebuah perkampungan sepi, tak jauh dari kantor.

Setelah masuk, kami ngobrol diruang depan. Sintya berkata jika dia sendirian dirumah, sementara suaminya sedang berada diluar kota. Tak beberapa lama, Sintya wanita berjilbab cantk itu mengajakku untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. aku pun tidak menolak dan mengikutinya masuk setelah dia mengunci pintu depan.

Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang disediakan, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali wanita berjilbab cantik itu mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Lau aku mengusulkan untuk menonton film yang kubawa.

Setelah Sintya setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang disertai beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik wanita cantik berjilbab itu matanya tidak berkedip melihat adegan itu.

Kuberanikan diri untuk merangkul bahnya, gadis cantik berjilbab itu diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya.

Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk dan kucium pipinya. Sintya tidak protes, malah tangan wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu sekarang diletakkan di pahaku.

Kupandang matanya yang indah, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tipis itu, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus junior di balik celanaku.

Lidah kami saling bertautan, kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi , yang membuat suasana semakin hot.. Tanganku pun tidak tinggal diam, segera kuelus paha mulus wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu yang masih tertutup celana panjang hitam, Sintya pun seakan memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalam wanita cantik berjilbab itu sampai ke selangkangan dari luar celana panjangnya.

Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perut wanita cantik berjilbab itu kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kemeja kerja, Sintya merintih lirih. Melihat si wanita cantik itu merintih-rintih terhanyut birahi dengan wajah yang masih memakai jilbab dan kacamata membuatku semakin bersemangat.

Lalu tanganku masuk ke dalam kemejanya dan mulai meraba-raba. Kusentuh putingnya , seiring dengan itu, tangan Sintya juga membelai juniorku yang masih tertutup celana dalam. dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku. Tak beberapa lama, tiba-tiba dia berhenti. “sudah mas Hans… jangan… aku sudah punya suami… ini zina…”

Aku tidak menjawab sepatah katapun. Mana mau aku kalah dengan kata-kata penolakan seperti itu,. Dengan lembut aku gapai tangan wanita cantik berjilbab itu dan kuremas lembut. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan di sofa panjang diruang tengah rumahnya. Tanpa terasa jantungku berdetak keras.

Sensasi seperti inilah yang dicari pemburu sepertiku. Bagaikan dikomando aku menciumi pipi Sintya yang terlihat sangat bersih dan putih, menjelajahi sisi kepalanya, dan menciumi dan menggigiti telinga wanita cantik berjilbab itu dari luar jilbabnya.

“Sintya kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.

“mas.. Jangaan please..,” desahan Sintya dan aroma tubuhnya yang khas membuat aku semakin terangsang. Lidahku semakin nakal menciumi dan menjilati pipi Sintya yang putih bersih.

“Akhh mas..” tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Sintya yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.

“Ooohh.. Mas Hans..”

Sintya mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya.

Aku semakin berani untuk melakukan yang Iebih jauh..

“mbak, aku buka baju kamu yach, biar tidak kusut..,” pintaku. Sintya hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya. Jilbabnya yang cekak melilit lehernya kubiarkan terpakai, begitu juga dengan kaca matanya. Wajah wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu semakin cantik dan menggairahkan bagiku ketika memakai dua benda tersebut.

Sementara kemeja kerjanya kulepas, sampai akhirnya dia hanya mengenakan BH warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika tubuh wanita cantik berjilbab itu yang putih nampak dengan jelas dimukaku.

Setelah terbuka, aku berusaha naik di tubuh dia, aku ciumi bibir Sintya yang tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Sintya yang mulai terangsang dengan aktivitasku. Tanganku yang nakal mulai menarik BH warna hitam.

Daann.. Wow.. Tersembul puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Sintya untuk kemudian mulal melepas BH dan menjilati puting Sintya yang berwana kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu berdiri dengan kencang.. Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.

“Ooohh mas.. Kamu… ouuhh…emmmhh… udaaahhh… …,” rintih Sintya.

. Dengan bekal pengetahuan sex yang aku ketahui, aku semakin berani berbuat lebih jauh dengan Sintya.

Aku segera melucuti celana panjang kerjanya tanpa perlawanan yang berarti dari Sintya yang sudah terangsang. Langsung aku membuka CD yang digunakan Sintya, darahku mendesir saat melihat tidak ada sehelai rambutpun di bagian memeknya. Tanpa berpikir lama, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang memek Sintya.

“Oohh.. mas…jangaaannn…ntar aku…hhhh.. mmhhh…..mmhh!!” Sintya merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaanya .

“massss…..” Desah Sintya disaat kocokkan lidahku semakin cepat, Sintya sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yang mau orgasme dan sesat kemudian..

“mas..udaahhh… Aku nggak tahan.. Oohh.. Mass aku mau..” Sintya menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya.

“masss.. Ookkhh.. Aakuu..” suuurrrr

Sintya merintih panjang saat memeknya memuntahkan cairan kental dan bersamaan dengan itu, tubuhnya mengejang. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan.

Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuh wanita cantik berjilbab bertubuh mulus yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir sofa, langsung saja kontolku yang berukuran besar, menghujam celah kenikmatan Sintya yang sontak meringis.

“Aaakhh.. mas..,” desah Sintya saat kontolku melesak ke dalam lubang memeknya.

“Mass.. Kontol kamu besar sekali.. Aakkh..”

Aku meringis ngilu disetap gerakan keluar masukku. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Sintya yang terus mendesah dan mengerang binal. Setiap gerakan maju mundur kontolku, selalu membuat tubuh Sintya menggelinjang hebat karena memang mulai aku rasakan sangat menikmati permainan ini.

“massss.. Sudahhh.. mmhhh.. Akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir memek mengapit batang kontolku.

Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari memek Sintya. Aku tidak mempedulikan desahan Sintya yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan kontolku yang agak bengkok ke kiri. Tiba-tiba Sintya mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Kontolku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat kemudian aku melepas kontolku dan mengarahkan ke mulut Sintya yang masih terlentang. Aku biarkan dia oral kontolku sejenak, lalu segera kembali menjejalkan kontolku dalam memek wanita cantik berjilbab itu.

“mas.. Aku.. Mau.. Keluarr lagi.. Aaakk.. .., aku.. Nggak tahan..” Seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang kontolku.

“Aaakhh.. mas.. Enak sekali.. Ooohh..,” rintih Sintya.

Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas tubuh Sintya..

“mbak.. aku boleh keluarin di dalam..,” aku bertanya.

“Jangan.. Aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Sintya.

“.. jangan khawatir..,” rengekku.

“Jangan mas.. Aku nggak mau..,” rintihan Sintya membuat aku semakin bernafsu untuk memberikan orgasme yang berikutnya. Kembali aku menggerakkan pinggulku maju mundur.

“Akhh.. Oohh.. mas.. keluarin kontol kamu.. Aaakkhh..,” Sintya memintaku.

Disaat aku mulai mencapai klimaks, Sintya meminta berganti posisi diatas.

“mas..gan..tian.. aku ingin diatas..”

Aku melepas kontolku dan langsung terlentang.

Sintya bangkit dan Iangsung menancapkan kontolku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.

“Akhh gila, kontol kamu hebat banget mas.. Ooohh….” Sintya merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

“Aduhh mas..”

Goyangan pinggul Sintya membuat gelitikan halus di kontolku..

“Rikk.. Sintyaa.. Akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Sintya menggoyang pinggulnya.

“Mass.. Aku mau keluar..,” sambil merintih panjang, Sintya menekankan dalam-dalam tubuhnya hlngga kontolku “hilang” ditelan memeknya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala.

“Aaahh.. Ahh..”

Aku biarkan spermaku muncrat di dalam memeknya. Daann.. semburan spermaku langsung keluar di dalam Lubang memek Sintya, bersamaan dengan kembali mengejangnya tubuh Sintya menikmati orgasmenya yang kesekian kalinya, lalu terhempas jatuh di sofa ruang tengahnya. Aku segera mengatur nafasku, lalu berpakaian. Aku mencari dapur dan mengambilkan Sintya segelas air putih. Ketika aku kembali ke ruang tengah, aku temui Sintya sudah duduk termenung.

“makasih ya mbak..” kataku sambil mengecup keningnya.

“aku takut hamil, mas..” kata Sintya.

Aku hanya tersenyum. “gak bakal. Tenang saja…” Persetan, pikirku.

Setelah beberapa waktu duduk dan memeluknya, aku segera berpamitan dan kembali ke kostku, dengan tubuh yang lelah namun penuh kepuasan. itulah kejadiannku saat ngekost di daerah yang kebanyakan ceweknya masih lugu. Cerita Sex 2016, Cerita Sex Mesum, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Hot, Cerita Sex Pribadi, Cerita Sex Kiriman Pembaca, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Bokep, Cerita Porno, Cerita Ngentot ABG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.