Cerita Sex Keluarga Tante Dina Gila Sex II

SEXCRIT situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Keluarga Tante Dina Gila Sex II – Keesokan harinya aku pulang ke rumah. Sesampainya aku dirumah aku melanjutkan tidurku sampai siang hari. Setelah bangun tidur aku langsung makan siang dan membersihkan rumahku. Tak lama aku mendapat telepon lagi. Rupanya Mbak Maya lagi yang meneleponku.

Cerita Seks Keluarga Tante Dina Gila Sex

cerita sex tante, cerita mesum tante, cerita ngentot tante, cerita sex threesome, cerita thresome abg, cerita threesome tante

“Hai Yosep.. Gimana kemarin rame nggak dirumah Yuni?” kata Mbak Maya memulai pembicaraan.

“Iya.. Mbak aku capek sekali nih..” jawabku.

“Memangnya ada apa Mbak menyuruhku datang kesana?” tanyaku.

“Begini Yosep.. suami Mbak Mas Bagus ingin bertemu denganmu. Kamu dulu udah Mbak kenalkan dengan Mas Bagus kan?” jawab Mbak Maya.

“Tapi ada masalah apa Mbak?” tanyaku penasaran.

“Mbak juga tidak tahu.. karena itu kamu nanti sore datang ke sini ya?” jawabnya.

“Iya deh Mbak nanti sore aku kesana.” jawabku dan akhirnya kami menutup telepon.

Dalam hati aku penasaran, “Ada apa kok Mas Bagus suaminya Mbak Maya tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa mungkin dia tahu kalau aku sudah meniduri isterinya?”

Aku hanya menerka-nerka saja tapi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Akhirnya aku memutuskan kalau toh nanti Mas Bagus tahu aku telah meniduri isterinya dan marah kepadaku aku siap menerima resikonya.

“Paling-paling dia hanya memaki-maki dan memukul aku saja” kataku dalam hati.

Sore harinya aku berangkat kerumah Mbak Maya sendirian. Sesampainya disana ternyata Mbak Maya dan suaminya Mas Bagus sudah menungguku di ruang tamu. Mas Bagus umurnya kurang lebih 30 tahun.
“Hai Yosep.. ayo masuk” kata Mbak Maya mempersilahkan aku masuk kerumahnya.

Sementara Mbak Maya keluar dan mengunci pintu pagar dan kemudian juga mengunci pintu rumahnya dari dalam. Dia juga menutup dan mengunci jendela. Dan terakhir Mbak Maya menyalakan AC dan menghidupkan lampu ruang depan sehingga rumahnya menjadi terang. Aku tidak tahu apa maksudnya seperti itu. Bukankah aku aku masih dirumahnya?Tapi aku bersikap tenang seperti tidak ada apa-apa. Akhirnya Mbak Maya duduk disamping Mas Bagus.

“Mbak Maya dan Mas Bagus cuma berdua saja dirumah?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Iya pembantu Mbak pulang kampung, jadi tinggal kami berdua saja dirumah.” jawab Mbak Maya.

Setelah itu kami pun berbincang-bincang tentang berbagai hal. Tapi anehnya Mas Bagus sedikit sekali bicaranya. Dia terus saja memperhatikan aku dari ujung rambut hingga kekaki. Aku menjadi salah tingkah di pelototin begitu.

“Ada apa Mbak memanggil saya kemari? katanya ada hal penting. Bisa di jelaskan Mbak?” tanyaku.

“Begini Yosep.. Mas Bagus yang ingin bicara denganmu. Silahkan Mas katanya mau bicara dengan Yosep.
Tuh dia udah datang.” kata Mbak Maya dengan kepala menunduk.

Aku merasa heran dengan sikap Mbak Maya yang tiba-tiba berubah. Mas Bagus hanya mendehem saja
“Hem.. aku mau bertanya padamu Yosep. Kuharap kamu menjawabnya dengan jujur dan jantan.” kata Mas Bagus memulai pembicaraan.

Tiba-tiba aku merasa grogi juga. Jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sudah meniduri isterinya kataku dalam hati. Tapi sebelum berangkat kesini tadi aku sudah memutuskan menerima resiko apapun juga. Jadi aku tidak takut, toh memang aku yang salah. Aku memberanikan diriku.

“Ya Mas, Mas mau bertanya apa? semuanya akan kujawab.” kataku.

“Aku bertanya, apa benar kamu sudah tidur dengan isteriku Maya?” kata Mas Bagus dengan suara yang tegas dan keras.

Walaupun aku sudah mengira dia akan menanyakan itu, tapi tetap saja aku menjadi gugup. Tapi walaupun gugup aku harus menjelaskan apa adanya dan semuanya, tekadku dalam hati.

“Iya Mas.. karena itu saya minta maaf sama Mas. Kalau Mas jadi marah saya siap menerima hukuman apapun dari Mas.” jawabku dengan suara pelan.

“Sudah berapa kali kamu tidur dengannya?” tanya Mas Bagus lagi.

“Sudah tidak terhitung lagi Mas.. sering.” jawabku dengan kepala yang menunduk.

Diam-diam aku melirik kearah Mbak Maya dan dia juga hanya menunduk saja. Aku jadi semakin ketakutan. Dalam hati aku berpikir jangan-jangan Mas Bagus akan membunuhku. Lama kami terdiam.

“Apa kamu merasa bersalah melakukan itu Yosep..?” tanya Mas Bagus lagi.

“Iya Mas.. saya merasa bersalah pada Mas.” jawabku.

“Terus sekarang apa kamu merasa takut?” tanya Mas Bagus lagi.

“Iya.. Mas..” jawabku dengan suara semakin pelan.

Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba Mas Bagus tertawa.

“Ha.. ha.. ha.. Yosep.. Yosep.. kamu jadi ketakutan seperti itu jadi kelihatan lucu.. ha.. ha.. ha..” kata Mas Bagus terbahak-bahak.

Aku jadi kebingungan dengan situasi yang jadi berubah seperti itu. Aku melihat Mbak Maya. Ternyata sama saja, dia ikut tertawa seperti suaminya. Lama mereka tertawa berdua. Aku jadi makin tidak mengerti.

“Ada apa Mas kok malah tertawa..?” tanyaku dengan nada heran.

Mereka malah makin keras tertawanya. Akhirnya aku biarkan saja mereka tertawa dengan wajah kebingungan.

Setelah agak lama barulah Mas Bagus dan Mbak Maya berhenti tertawa.

“Begini Yosep.. kamu jangan ketakutan seperti itu. Aku sebenarnya tidak marah. Tapi hanya ingin lihat reaksimu saja.” kata Mas Bagus.

Tentu saja aku jadi heran.

“Aku akan marah sekali kalau kamu tadi berbohong. Ternyata kamu tidak berbohong. Aku anggap kamu cukup jantan untuk mengakui semua perbuatanmu. Karena itu aku tidak marah.” jawab Mas Bagus sambil tersenyum.

“Benar Mas Bagus tidak marah?” tanyaku untuk meyakinkan diriku.

Mas Bagus hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Akhirnya aku menarik nafas lega. Mbak Maya hanya tersenyum saja melihatku. Aku juga mulai tersenyum.

“Terus selanjutnya apa Mas?” tanyaku penasaran.

“Begini Yosep, Mbak Mayamu ini sebenarnya nafsu seksnya tinggi. Aku sendiri jarang sekali bisa memuaskan nafsu seksnya itu. Karena itu dia biasa menggunakan alat ini.”jawab Mas Bagus terus terang sambil memperlihatkan semacam alat penis-penisan plastik kepadaku.

“Tapi belakangan ini aku lihat dia sudah jarang menggunakan alat ini dan ini yang membuatku jadi penasaran. Akhirnya dia kutanyai terus dan diapun mengaku kalau dia sudah tidak menggunakan alat ini.” kata Mas Bagus lagi.

“Dia juga sudah mengaku kalau dia sudah sering tidur denganmu.” kata Mas Bagus menjelaskan.

“Jadi sebenarnya aku senang dia sudah tidak menggunakan alat ini, karena bagiku alat ini bisa merusak memeknya sendiri. Jadi kesimpulannya kamu kuperbolehkan tidur dengan Maya selagi dia mau. OK?” kata Mas Bagus sambil tersenyum.

“Kamu bebas berbuat apa saja dengannya walaupun di dekatku. Aku ingin lihat dia dipuaskan oleh orang beneran bukan dengan mainan seperti ini.” kata Mas Bagus sambil melemparkan penis-penisan itu ke tempat sampah.

“Tapi satu hal Yosep, kamu boleh main dengan wanita manapun tapi tidak boleh dengan wanita WTS. Sekali saja kamu melanggarnya kamu tidak boleh lagi mendekati Maya. Kamu mengerti?” kata Mas Bagus lagi.

“Iya Mas, saya mengerti. Saya berjanji tidak akan main dengan WTS.” jawabku.

Mas Bagus dan Mbak Maya tersenyum.

“Nah sekarang kamu sudah welcome disini. Kamu bebas masuk dan melakukan apa saja disini. Tapi suatu waktu nanti aku juga ingin meniduri pacarmu si Yuni. OK?” kata Mas Bagus lagi.

“Ya Mas terserah Mas saja.” jawabku. Aku benar-benar merasa lega dan tenang. Kemudian aku memperhatikan Mbak Maya.

Mbak Maya hanya tersenyum kepadaku. Aku jadi ingat dengan perkataan Mas Bagus barusan. Aku sudah diberi kesempatan sebebas-bebasnya dengan isterinya walaupun dia ada disini. Perlahan-lahan penisku mulai berdiri. Lalu aku mendekat kearah Mbak Maya dan duduk disampingnya.

Mbak Mayapun duduk merapat ke arahku. Sementara Mas Bagus hanya tersenyum memandangi kami. Aku langsung saja mencium bibir Mbak Maya dihadapan suaminya sendiri. Mbak Mayapun membalas ciumanku. Lalu aku membuka baju kaos yang dipakai Mbak Maya hingga dia hanya memakai BH saja.

BH itupun langsung kucopot didepan Mas Bagus. Maka terpampanglah di hadapanku payudara Mbak Maya yang putih, montok dengan puting payudara yang berwarna merah muda. Aku langsung menciumi payudaranya dan bergantian kiri kanan.

Aku menghisap payudara Mbak Maya dengan sangat bernafsu. Mbak Maya hanya merintih-rintih saja. Sementara Mas Bagus masih saja melihati kami. Kemudian Mbak Maya membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang sudah mulai tegang. Aku membiarkan saja Mbak Maya membuka celanaku dihadapan suaminya. Penisku masih belum begitu tegang tapi kelihatan sekali besarnya.

“Woww.. Yosep.. penismu mulai tegang ya..” kata Mbak Maya sambil membiarkan tanganku bermain di payudaranya yang putih dan montok.

Kemudian dia mendekatkan mulutnya kepenisku dan menghisapnya dalam-dalam.

“Ahhh.. enak sekali Mbak ” kataku dengan mendesah.

Mbak Maya masih terus mengulum penisku dan tangankupun tidak berhenti meremas-remas payudaranya. Mas Bagus hanya membiarkan kami main berdua. Mbak Maya masih terus menghisap-hisap penisku dengan sangat bernafsu.

Akupun masih terus menikmatinya. Dan tidak lama kemudian aku merasakan sudah mau keluar. Memang Mbak Maya sangat ahli dalam menghisap-isap penisku, sehingga aku jadi merasa cepat keluar. Penisku makin lama makin tegang dan membesar.

Mbak Maya sangat senang sekali melihatnya. Dan tidak lama kemudian

“Ahhh.. Mbak aku sudah mau keluar..” kataku.

“Keluarkan saja dimulutku Yosep..” kata Mbak Maya sambil mengeluarkan penisku dari mulutnya kemudian memasukkannya kembali dan menghisapnya. Dan benar saja akupun keluar.

Kupegang kepala Mbak Maya dan memuntahkan cairan spermaku kedalam mulutnya. Mbak Mayapun membiarkan saja aku menumpahlkan maniku dimulutnya. Akhirnya Mbak Maya melepaskan penisku dari mulutnya dengan sperma yang menetes dibibirnya. Dia menjilat sisa sperma yang menetes dibibirnya kemudian menelan semuanya.

Kemudian dia kembali mengulum-ngulum penisku dan membersihkan sisa sperma yang menempel dipenisku. Aku hanya menarik nafas panjang dengan mata terpejam.

“Ahhh.. enak sekali.. Mbak” kataku.

Sementara Mbak Maya juga duduk menyandarkan dirinya dipangkuanku dan membiarkan payudaranya terbuka lebar. Aku juga membiarkan penisku terbuka dihadapan Mas Bagus. Lama kami terdiam dengan nafas yang masih terengah-engah.

Kemudian Mas Bagus berkata,

“Gimana Yosep..?enak?” katanya sambil tersenyum padaku.

“Iya Mas.. sedotan Mbak Maya sungguh sangat enak sekali..” jawabku.

Mbak Maya hanya memegangi penisku dan sesekali meremas-remasnya. Kemudian Mas Bagus berkata,
“Yosep aku minta tolong padamu ya.. kamu bisa pakai handycam?”

“Bisa Mas, memangnya untuk apa?” tanyaku.

Mas Bagus tidak menjawab pertanyaanku malah dia berkata, “Maya, sekarang kamu pakai lagi bajumu yang rapi dan kamu Yosep, pakai lagi celanamu.”

Mbak Maya menurut saja, sementara Mas Bagus berjalan menuju lemari yang diruang tengah dan mengambil handycam dari dalam lemari. Kemudian Mas Bagus kembali keruang tamu. Aku juga sudah mengancingkan celanaku .

“Ayo kita kekamar. Maya bawa si Yosep kekamar.” kata Mas Bagus sambil berjalan menuju kamar tidur.
Mbak Maya juga berjalan kekamar sambil menarik tanganku. Aku menurut saja.

Sesampainya dikamar, Mas Bagus menghidupkan lampu kamar hingga kamarpun jadi terang benderang.
“Begini Yosep, aku minta kamu merekam aku lagi main dengan Maya. Kamu harus bisa mengambil gambarnya dari tempat-tempat yang bagus. OK?” kata Mas Bagus menjelaskan.

Aku hanya mengangguk saja. Aku mengerti dengan tujuan Mas Bagus dengan handycam tersebut.

“Gimana Maya kamu udah siap?” tanya Mas Bagus.

Mbak Maya hanya mengangguk saja.

“Kamu Yosep sudah siap?” tanya Mas Bagus lagi.

Aku juga mengangguk saja. Kemudian Mas Bagus menarik tangan Mbak Maya ke tempat tidur.
“Sekarang Yosep.” kata Mas Bagus memberi perintah padaku.

Aku langsung menghidupkan handycam dan menyorot mereka berdua. Mas Bagus langsung mencium bibir Mbak Maya dengan bernafsu. Mbak Maya juga membalasnya. Sementara tangan Mas Bagus meremas-remas payudara Mbak Maya dan perlahan-lahan dia melepaskan pakaian yang dipakai Mbak Maya. Hingga akhirnya Mbak Maya hanya pakai BH saja dan itupun langsung dicopot oleh Mas Bagus. Mas Bagus terus menciumi leher Mbak Maya yang putih mulus.

Mbak Maya memang mempunyai tubuh yang sangat seksi. Siapapun pasti akan tergiur melihat tubuh Mbak Maya. Aku merasa bersyukur Mas Bagus mau isterinya kutiduri, walaupun imbalannya nanti dia akan meniduri pacarku si Yuni dihadapanku. Ya.. nggak apa-apa lah kataku dalam hati. Ini pengalaman yang mengasyikkan bagiku kataku lagi.

Mas Bagus masih terus meremas-remas payudara Mbak Maya. Kemudian dia mulai menciumui payudara Mbak Maya kiri dan kanan. Aku terus merekam apa yang mereka lakukan. Kadang-kadang aku merekam sambil mendekati mereka. Tapi mereka tidak peduli dengan yang aku lakukan.

Mas Bagus masih terus menciumi payudara Mbak Maya dan menghisap-hisap puting payudaranya. Mbak Maya hanya mendesah-desah saja. Kemudian Mas Bagus mulai mencopot rok yang dipakai Mbak Maya, hingga dia hanya pakai celana dalam saja.

CD Mbak Maya itupun juga copot, hingga Mbak Maya benar-benar bugil. Mas Bagus merebahkan tubuh Mbak Maya di tempat tidur dan menciumi paha Mbak Maya yang putih mulus. Aku mengarahkan kameraku menyusuri tubuh Mbak Maya yang sangat indah, terutama dibagian memeknya yang sepertinya habis dicukur.

Lama aku menyoroti memek Mbak Maya. Mas Bagus membuka memek Mbak Maya dan memberi isyarat supaya aku menyorot memek Mbak Maya. Aku mengerti dengan apa yang aku kerjakan.

Kemudian Mas Bagus mulai menjilat-jilat memek Mbak Maya dengan sangat bernafsu. Mbak Maya hanya merintih-rintih saja. Lama Mas Bagus menjilati memek Mbak Maya. Akhirnya Mbak Maya bangun dan mulai membuka pakaian Mas Bagus. Hingga Mas Bagus juga berada dalam keadaan bugil. Ternyata penis Mas Bagus jauh lebih kecil dari punyaku.

Aku masih terus asyik merekam mereka. Kemudian Mbak Maya menciumi penis Mas Bagus dan memasukkannya kedalam mulutnya. Memang penis Mas Bagus sangat kecil, walaupun tegang tetap saja kecil. Pantas saja Mbak Maya tidak pernah merasa puas kalau main dengan Mas Bagus. Mbak Maya masih terus menghisap penis Mas Bagus. Mas Bagus hanya merem melek saja matanya.

Mbak Maya masih terus asyik mengulum dan menghisap penis Mas Bagus. Tak lama Mas Bagus kembali merebahkan Mbak Maya dan menyuruhnya supaya telentang. Kemudian Mas Bagus menyuruhku mendekat. Perlahan-lahan Mas Bagus mulai memasukkan penisnya yang sudah tegang ke memek Mbak Maya. Mbak Maya hanya merintih dan makin mengangkangkan kakinya.

Akhirnya penis Mas Bagus masuk kedalam memek Mbak Maya. Dan dia mulai menaik turunkan pantatnya. Mbak Maya juga mengimbangi gerakan Mas Bagus dari bawah. Makin lama gerakan pantat Mas Bagus makin cepat. Dan rintihan Mbak Mayapun juga makin keras terdengar. Akhirnya tubuh Mas Bagus menegang dan dia membenamkan penisnya dalam-dalam kedalam memek Mbak Maya.

“Ahhh.. enaknya..”kata Mas Bagus.

Sementara Mbak Maya hanya mendesah saja. Tapi sepertinya Mbak Maya masih lama untuk keluar.

Kemudian Mas Bagus berkata, “Sekarang giliranmu Yosep, sini biar aku yang merekam.” katanya sambil mencabut penisnya dari memek Mbak Maya.

Aku lalu menyerahkan handycam pada Mas Bagus dan mendekati Mbak Maya. Mas Bagus mulai merekam yang aku perbuat. Aku langsung saja menindih tubuh Mbak Maya yang putih molek. Mbak Mayapun membuka tangannya dan memelukku. Aku langsung menciumi bibir Mbak Maya. Mbak Maya juga membalas ciumanku. Lama kami berciuman.

Sementara Mas Bagus masih asyik merekam aku dan isterinya yang sedang bergumul. Aku masih terus menciumi bibir Mbak Maya. Kemudian ciumanku kuarahkan kelehernya yang putih. Mbak Maya menggelinjang dengan manjanya. Aku terus menciumi lehernya dan kemudian turun ke payudaranya. Cerita sex 2016, cerita sex dewasa, cerita dewasa, cerita abg dewasa, cerita abg ngentot, cerita tante sex, cerita sex ngentot, cerita dewasa umum, sex ditempat umum, cerita sex anak, cerita sex hot, cerita hot, cerita sex ibu, cerita sex sedarah, cerita sex terbaru, cerita hot dewasa, cerita dewasa tante, cerita dewasa panas, cerita sex mesum.

BERSAMBUNG….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.