Cerita Sex Melirik Suami Orang

SEXCRIT situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Melirik Suami Orang – Aku baru saja selesai mandi saat HP-ku berdering. Dari nada deringnya dapat kuketahui kalau dering itu dari nomor telepon salah seorang klienku. Dengan dalam keadaan masih telanjang bulat aku bergegas keluar dari kamar mandi, yang langsung tembus ke kamarku, kamar mandiku memang terletak di dalam kamar.

Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, aku menerima telepon dari rumah Pak Gading, seorang klienku.

Cerita Seks Melirik Suami Orang

Cerita Sex HOT< Cerita Sex Selingkuh, Cerita Mesum HOT, Cerita Ngentot Dokter, Cerita Ngesex Dokter

“Hallo..! Selamat sore”, sapaku setelah menekan tombol.

“Hallo..! Sore Dok..!” balas suara anak kecil di seberang sana. Aku segera bisa mengenali suara di seberang sana, ini adalah suara Andi putra semata wayang Pak Gading.

“Hai..! Andi ya? Ada apa Ndi?” tanyaku.

“Dok! Carla baru saja melahirkan, cepet dong ke rumah”, pinta Andi kekanak-kanakan. Andi memang baru berumur 6 tahun, dan Carla yang dimaksud adalah nama anjingnya yang berjenis mini pincher, bentuknya seperti anjing doberman namun kecil sekali oleh karena itu disebut mini pincher.

“Lahir berapa anaknya Ndi?” tanyaku lagi.

“Ndak tau Dok! Papa yang tungguin sekarang, dokter ke sini dong!” cerocos Andi lagi.

“Baiklah aku langsung ke sana sekarang, tunggu aja ya” sahutku.

“Terima kasih Dok! Daah..!” sambung Andi sambil menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku lagi.

Selesai berbicara dengan Andi melalui telepon, aku pun segera mengenakan pakaian. Aku memakai hem longgar kotak-kotak warna merah maroon yang serasi warnanya dengan rok miniku yang juga berwarna merah maroon. Selesai berpakaian aku bergegas menuju ke rumah Pak Gading di kawasan elite Margorejo Indah.

Sesampai di rumah Pak Gading ternyata Andi sudah menungguku di halaman rumahnya bersama seorang baby sitter. Satpam langsung membuka pintu pagar mempersilakanku untuk langsung masuk. Rumah Pak Gading memang cukup besar seperti rumah-rumah lainnya di sekitar perumahan Margorejo Indah, halamannya juga luas. Kuparkir mobilku di depan garasi di samping mobil mewah milik Pak Gading, kontras sekali dengan mobilku yang butut keluaran tahun 90-an.

Begitu turun dari mobil, Andi langsung menggandeng tanganku mengajakku masuk. Kami masuk lewat garasi yang langsung tembus ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Di samping ruang makan ada pintu menuju halaman belakang. Di salah satu pojok dekat kamar pembantu, di situlah rupanya tempat yang telah disediakan untuk Carla melakukan proses kelahiran. Pak Gading tampak sedang berjongkok di dekat box tempat Carla melahirkan.

“Sore Pak Gading” sapaku.

“Ee.. Lia..! Sore.., aduh maaf sudah bikin repot”, sambut Pak Gading ramah.

“Ini si Andi yang bingung terus sejak tadi” tambah Pak Gading.

“Sudah lahir berapa ekor Pak?” tanyaku pada Pak Gading.

“Sudah dua ekor dan keduanya betina, sepertinya masih ada lagi di dalam” jelas Pak Gading padaku.

“Ayo gantian, sekarang ahlinya sudah datang dan aku akan mandi dulu” Imbuh Pak Gading sambil mempersilakanku menempati posisinya.

Aku mendekat ke box tempat Carla melahirkan bayi-bayinya yang mungil, sementara itu Pak Gading naik ke lantai dua rumahnya, mungkin bersiap-siap untuk mandi. Aku ditemani Andi tetap menunggui Carla yang tampaknya sudah mulai gelisah lagi, pertanda anaknya yang ketiga akan lahir.

Saking asyiknya aku menunggui bayi ketiga Carla lahir, rupanya aku tidak sadar bahwa posisiku sedang berjongkok saat itu hingga otomatis pahaku bagian belakang terbuka lebar karena rok miniku bawahannya memang sangat lebar.

Memang rok seperti ini biasanya dipakai oleh para cheerleader hingga dengan sendirinya kalau dilihat dari depan arahku berjongkok, semua isi dalam rok miniku dapat terlihat dengan jelas oleh Andi yang duduk di lantai tepat di hadapanku.

Rupa-rupanya si kecil ini sejak tadi telah tertegun memandang isi rok miniku. Aku memang memakai celana dalam, namun celana dalamku sangat mini, terbuat dari renda yang ukurannya hanya selebar jari melingkar di pinggangku, selebihnya juga berupa renda yang ukurannya sama tersambung dari belakang pinggangku, turun ke bawah melalui lipatan pantat melingkari selangkanganku.

Hanya bagian depannya saja ada penutup yang ukurannya tak lebih dari seukuran dua jari berbentuk hati menutupi bagian depan liang Memekku, sehingga CD warna merah yang kukenakan ini tidak mampu menutupi bulu kemaluanku yang menyeruak keluar dari celah-celah lipatannya. Rupanya bulu-bulu kemaluanku inilah yang menarik perhatian Andi.

“Dok! Itu kok ada rambutnya?” tanya Andi keheranan sambil menuding ke arah pangkal pahaku.

Aku cukup terkejut dan langsung mengubah posisiku. Kini aku berlutut di depan box. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan Andi, untung saja bersamaan dengan itu dari arah belakang saat kutengok ternyata Pak Gading datang menghampiri kami. Pak Gading rupanya sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai celana pendek longgar dan T Shirt. Namun tiba-tiba Andi berkata pada ayahnya..

“Pa! Bu dokter sininya ada rambutnya” lapor Andi pada Pak Gading sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri. Mukaku langsung memerah karena jengah, untung saja Pak Andi cukup bijak dan langsung menegur Andi.

“Hush, tidak boleh ngomong begitu”. Andi rupanya masih belum mengerti mengapa papanya melarangnya bertanya. Tak lama kemudian Bu Lusi istri Pak Gading muncul dan menyapaku..

“Hey Nat! Sudah lama?” sapa Bu Lusi, Bu Lusi memang biasa menyapaku “Nat”, kalau Pak Gading lebih suka menyapaku “Lia”, tidak masalah bagiku.

“Ooh..! Selamat sore Bu!” sahutku pada sapaan Bu Lusi.

“Eeh..! Nat! Kamu di sini dulu ya, nanti makan di sini sekalian saja, kita makan malam sama-sama, aku sekarang mau ngantar Andi ke ulang tahun temannya sebentar, kita tidak akan lama kok, paling cuma kasih kado sebentar terus langsung pulang” demikian jelas Bu Lusi padaku, rupanya Bu Lusi akan pergi mengantar Andi yang memang sejak tadi tampak sudah selesai mandi.

Akhirnya Bu Lusi pergi mengajak Andi yang didampingi baby sitternya. Tinggallah aku di rumah besar itu bersama Pak Gading dan beberapa pembantunya, namun saat ini pembantu Pak Andi sedang sibuk di halaman rumah depan, ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram taman dan yang satu lagi sedang membersihkan ruang tamu. Ini kuketahui saat aku datang tadi.

Kini tinggallah aku berdua dengan Pak Gading di teras halaman belakang yang cukup luas, untung Pak Gading tidak lama berdiri di dekatku. Pak Gading duduk di sofa teras belakang, yang letaknya di belakangku, jadi aku memunggunginya tapi jaraknya agak jauh, karena posisinya yang menghadap ke arahku maka saat aku sedikit membungkuk sewaktu membantu proses kelahiran Carla, tanpa kusadari bagian belakang rok miniku sedikit terangkat.

Karena rok yang kukenakan mini sekali maka begitu terangkat sedikit bentuk pantatku dapat terlihat dengan jelas oleh Pak Gading yang duduknya memang agak jauh dariku, namun posisi ini justru lebih menguntungkan baginya.

Dengan jelas sekali Pak Gading memperhatikan lekuk belahan pantat dan pahaku bagian atas yang mulus itu. Pemandangan ini rupanya cukup membuat Pak Gading horny hingga dia sudah tidak tahan lagi, kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.

“Lia..! Tadi yang dimaksud Andi rambut apa toh?” Tanya Pak Gading pura-pura ingin tahu. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya.

“Aaah..! Pak Gading ini kok ikutan tanya yang bukan-bukan?” sahutku tersipu malu.

Pak Gading ikut berjongkok di sampingku, tidak lama kemudian kedua tangannya meraih lenganku dan mengangkatku berdiri, kami pun berdiri berhadap-hadapan. Seketika itu juga Pak Gading langsung menciumku. Aku berusaha mengelak, namun Pak Gading lebih agresif memeluk sambil melumat bibirku.

Umur Pak Gading sekitar 35 tahun, wajahnya lumayan ganteng, badannya tegap dan gagah. Lumatannya membuatku horny, terlebih saat tangannya mulai menyusup ke dalam rok miniku, tangannya mengelus bagian depan pahaku hingga membuatku terangsang dan sedikit tak berdaya.

Akhirnya aku pun mulai berani membalas lumatan bibirnya. Kami berpagutan sambil berdiri, sementara tangan Pak Gading menyusup semakin ke atas pahaku, kurasakan jari-jari tangannya mulai menyentuh ujung celana dalamku. Aku merasakan sebuah rangsangan yang cukup dahsyat, terlebih saat jari-jari tangan Pak Gading mulai menjelajah di selangkanganku.

Memekku diremas-remas dari luar celana dalamku, bibirnya tetap tidak berhenti melumat bibirku, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku, aku pun membalas dengan menghisapnya, demikian pula sebaliknya, kujulurkan lidahku ke dalam mulut Pak Gading dan Pak Gading langsung melumat dan menghisap lidahku.

Merasa tempat kami saat ini kurang aman dan bisa tiba-tiba kepergok oleh pembantunya, maka Pak Gading membisiki telingaku sambil mengajakku masuk ke dalam. Pak Gading rupanya juga tahu kalau posisiku saat ini sudah tidak mungkin lagi menolak, karena aku sudah benar-benar terangsang olehnya hingga ujung celana dalamku juga sudah lembab oleh elusan jari-jarinya.

Maka aku pun mengikuti Pak Gading dari belakang saat ia masuk menuju ruang keluarga dan kami menyelinap ke sebuah kamar tidur yang biasa mereka pakai kalau ada tamu atau kerabat yang datang menginap.

Setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam, Pak Gading langsung menciumku kembali sambil merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Kakiku masih terjuntai ke bawah sehingga posisiku yang telentang begini membuat bagian depan rok miniku terangkat sampai pangkal paha.

Tangan Pak Gading langsung mengelus selangkanganku yang tersembul keluar, jari tangannya segera disusupkan ke dalam celana dalamku melalui ujung lipatannya. Ujung jari Pak Gading langsung dapat menyentuh bibir Memekku dengan mudahnya. Dielus dan digesek-gesekkannya bibir Memekku dengan jarinya, sementara jari telunjuknya mengorek-ngorek klitorisku.

Tangan kirinya mulai membuka kancing hem-ku satu persatu hingga buah dadaku langsung terpampang dengan jelas karena aku tidak memakai BH. Seperti kisahku terdahulu, aku memang sejak kecil tidak suka dan tidak terbiasa mengenakan BH hingga hingga kini umurku sudah 28 tahun, aku tetap tidak pernah memakai BH, jadi tak heranlah kalau aku juga tidak tahu berapa besar ukuran payudaraku.

Yang jelas payudaraku tidak terlalu besar bentuknya, namun sangat indah dan berwarna sedikit merah muda agak kecoklatan di puting dan sekitarnya. Kini payudaraku pun sudah mulai mengeras, dan giliran mulut Pak Gading turun mengulum kedua payudaraku secara bergantian. Dihisapnya puting susuku sambil memainkan ujung lidahnya di ujung puting susuku.

Tangan kanan Pak Gading mencari dan melepas pengait rok miniku dan kubiarkan saja bahkan kuangkat sedikit pinggangku agar dia lebih mudah melepas pengait rok-ku, kemudian ditarik dan dilemparkannya begitu saja ke lantai. Langsung saja sisa penutup alat vitalku ditariknya ke bawah, kakiku pun membantu melepas CD yang kukenakan.

Serta merta Pak Gading langsung saja membenamkan wajahnya di selangkanganku sambil tangannya membuka kedua pahaku lebar-lebar. Posisinya sekarang berjongkok di tepian tempat tidur dan wajahnya berada tepat di pangkal pahaku, bibirnya mengulum bibir kemaluanku dengan lembut, lidahnya dijulurkannya di antara lipatan bibir Memekku.

“Ayo masukin dong Pak!” pintaku pada Pak Gading.

Mungkin karena Pak Gading juga tak ingin ketahuan istrinya yang mungkin saja tiba-tiba pulang, maka ia pun begegas melepas celananya. Batang kemaluannya yang tidak terlalu besar, ukurannya biasa saja, langsung ditancapkannya ke dalam liang Memekku.

Kami bermain tidak terlalu lama karena takut istrinya tiba-tiba muncul, namun kami merasakan orgasme secara bersama-sama saat itu. Sungguh sangat berkesan sekali kejadian itu. Enak juga ML sambil curi-curi karena takut ketahuan. Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.