Cerita Sex Tiga Ronde Sama Pembantu Baruku

SEXCRIT.COM situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Tiga Ronde Sama Pembantu Baruku – Di tempat aku tinggal ada pembantu baru, lelaki, orangnya sepantaran aku, tinggi besar, lumayan ganteng, malah terlalu ganteng untuk jadi pembantu, harusnya jadi cover boy. Namanya Dani. Aku tertarik padanya karena dia type cowok idaman buatku. Aku kerap kali membayangkan gimana kalo aku dientot olehnya, vaginaku dienjot penisnya yang dari luar celananya kelihatan menggembung, pertanda penisnya besar.

Satu hari, aku tidak kerja sehingga dirumah seharian. Aku cuma pake daster yang mini tanpa bra, sehingga toketku bergerak2 kalo aku jalan. Kalo papasan dengan dia, kulihat matanya lekat menatap toketku yang bergerak2 itu, aku sih gak perduli.

Cerita Ngentot Tiga Ronde Sama Pembantu Baruku

Cerita Sex Pembantu, Cerita Mesum Pembantu, Cerita Ngentot Pembantu, Ngesex Pembantu HOT, Ngentot Memek Pembantu

Siang itu gak ada siapa2 di tempat tinggalku. Aku duduk di meja makan membaca koran setelah menyantap makan siangku. Dia sedang ngepel di ruang makan. Aku sengaja mengangkangkan pahaku, sehingga dasterku yang mini itu makin tersingkap ke atas dan pastinya cd ku akan bisa dilihat dengan jelas oleh dia yang sedang ngepel itu.

Aku tau bahwa dia pasti sedang melotot melihat paha dan cdku walaupun aku tidak melihatnya karena terhalang meja makan, karena dia tidak selesai2 ngepel lantai di sekitar meja makan itu. Aku kaget juga karena ternyata dia berani banget. Aku merasa ada rabaan di pahaku. Paha makin kukangkangkan karena aku tau pasti dia sedang ngelus2 pahaku.

Aku jadi menggeliat2 karena rabaannya pada paha bagian dalam,

“Aah”, erangku, karena napsuku mulai naik.

“Kenapa Vi, napsu ya”, katanya. Dia memang memanggil semua yang sepantaran dia di tumah itu dengan namanya.

“Tanganmu nakal sih”, kataku terengah.

“Abis kamu nantang duluan sih. Udah tau aku lagi ngepel pake ngangkangin paha segala”, jawabnya dengan tetap ngelus2 pahaku, elusannya makin lama makin naik ke atas.

Kini tangannya mulai meraba dan meremes vaginaku dari luar CDku, Aku semakin terangsang karena ulahnya,

“Aah Dan, Vivi jadi napsu nih”, erangku.

“Iya Vi, cd kamu udah basah begini. Kamu ternyata napsunya besar ya, mau ngentot gak dengan aku”, katanya terus terang.

Aku terdiam mendengar ajakannya yang to the point itu. Aku yakin penisnya pasti udah ngaceng berat. Terasa jarinya menyusup kedalam cdku lewat samping. Memang aku pake cd yang minim sekali sehingga dia mudah mengakses vaginaku dari samping cdku. Terasa sekali jarinya mengorek2 vaginaku mencari itilku, setelah ketemu langsung saja dikilik2nya.

“Dan…”, erangku. Vaginaku menjadi makin basah. Aku duduknya menjadi setengah melorot sehingga dasterku makin terangkat keatas, membebaskan selangkanganku. Dia makin nakal ulahnya, pahaku makin dikangkangkannya dan terasa hembusan napasnya yang hangat di pahaku.

Dia mulai menjilati pahaku, dari bawah bergerak perlahan keatas sambil digigit2nya pelan. Aku menggigil menahan geli saat lidahnya menyelisuri pahaku.

“Dan, kamu pinter banget ngerangsang Vivi, udah biasa ngerangsang cewek ya”, kataku terengah. CDku yang minim itu dengan mudah disingkirkan disingkirkan kesamping dan tak lama kemudian terasa lidahnya menghunjam ke vaginaku yang sudah sangat basah. Aku hanya pasrah saja atas perlakuannya, aku hanya bisa mengerang karena rangsangan pada vaginaku itu.

Lidahnya menyusup ke dalam vaginaku dan mulai bergerak keatas. Aku makin mengejang ketika dia mulai menjilati itilku.

“Aah Dan, Vivi sudah pengen dientot”, aku mengerang saking napsunya.

Dia menghentikan aksinya, berdiri dan menarikku berdiri juga. Karena rumah sedang sepi, dia langsung memelukku dan mencium bibirku dengan napsunya. Lidahnya menerobos bibirku dan mencari lidahku, segera aku bereaksi yang sama sehingga lidah kami saling membelit didalam mulutku. Pelukannya makin erat, Terasa ada sesuatu yang mengganjal diperutku, penisnya rupanya sudah ngaceng berat seperti dugaanku.

Tangannya mulai bergerak kebawah, meremas pantatku dari luar dasterku, sedang tangan satunya masih ketat mendekapku. Aku menggelinjang karena remasan dipantatku dan tekanan penisnya yang ngaceng itu makin terasa diperutku.

“Aah”, lenguhku sementara bibirku masih terus dikulumnya dengan penuh napsu juga. Lidahnya kemudian dikeluarkan dari mulutku, bibirku dijilati kemudian turun ke daguku. Tangannya bergeser dari pantatku ke arah vaginaku, “Aah”, kembali aku mengerang ketika jarinya mulai mengilik vaginaku dari luar CDku. Lidahnya mengarah ke leherku, dijilatinya sehingga aku menggeliat2 kegelian.

Sementara itu jarinya sudah menyusup kembali ke dalam cdku lewat samping dan mulai mengelus2 vaginaku yang sudah sangat basah itu dan kemudian menjadikan itilku sasaran berikutnya. Digerakkannya jarinya memutar menggesek itilku. Aku menjadi lemes dan bersender dipelukannya.

“Vi kekamarmu aja yuk”, katanya sambil menyeret tubuhku yang lemes itu kekamarku.

Di kamar aku didorongnya dengan keras sehingga terbaring diranjang, sementara dia mengunci pintunya. Korden jendela ditutupnya sehingga ruangan menjadi agak gelap. Dia segera menghampiriku, cdku ditariknya sehingga lepas dan dia mulai menggarap vaginaku lagi.

“Vi, jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu gede banget. Dikilik sebentar aja udah basah begini”, katanya sambil mengangkangkan pahaku lagi. Jembutku disingkirkannya dan langsung saja mulutnya menyosor vaginaku lagi.

Bibir vaginaku diemutnya, lidahnya menyyusup masuk melalui bibir vaginaku. Tanpa sadar aku meremes2 rambutnya. Lidahnya mulai menjilati itilku, perutku mengejang karena menahan kenikmatan rangsangannya.

“Aah terus Dan, enak”, teriakku. Kepalanya kutekan sehingga menempel erat di vaginaku. Lidahnya makin seru saja mengilik vagina dan itilku.

Cairan vaginaku diisepnya, itu membuatku makin melayang2. Ketika aku udah hampir nyampe, dia menghentikan aksinya,

“Kenapa brenti”, protesku.

“Vivi sudah ampir nyampe”.

Dia membuka baju dan celannya, sekaligus dengan CDnya, benar dugaanku. Ternyata penisnya besar dan panjang, berdiri tegak karena sudah ngaceng berat. Aku ditariknya bangun kemudian disuruh menelungkup dipinggir ranjang, saat itu aku masih memakai daster miniku. Dia memposisikan dirinya dibelakangku, punggungku didorong sedikit sehingga aku menjadi lebih nungging. Pahaku digesernya agar lebih membuka.

Aku menggelinjang ketika merasa ada menggesek2 vaginaku. Vaginaku yang sudah sangat licin itu membantu masuknya penis besarnya dengan lebih mudah. Kepala penisnya sudah terjepit di vaginaku. Terasa sekali penisnya sesek mengganjal di selangkanganku.

“Aah, gede banget penismu”, erangku. Dia diam saja, malah terus mendorong penisnya masuk pelan2. Aku menggeletar ketika penisnya masuk makin dalam. Nikmat banget rasanya kemasukan penisnya yang besar itu.

Pelan2 dia menarik penisnya keluar dan didorongnya lagi dengan pelan juga, gerakan keluar masuk penisnya makin cepat sehingga akhirnya dengan satu hentakan penisnya nancep semua di vaginaku.

“Aah, enak banget Dan penismu”, jeritku.

“vaginamu juga peret banget deh Vi. baru sekali aku ngerasain vagina seperet vaginamu”, katanya sambil mengenjotkan penisnya keluar masuk vaginaku.

“Huh”, dengusku ketika terasa penisnya nancep semua di vaginaku, Terasa biji pelernya menempel ketat di pantatku.

Vaginaku terasa berdenyut meremes2 penisnya yang nancep dalem sekali karena panjangnya. Tangannya yang tadinya memegang pinggulku mulai menyusup kedalam dasterku dan meremes toketku dengan gemesnya. Aku menjadi menggelinjang karenanya, sementara itu enjotan keluar masuk penisnya makin dipercepat. Tubuhku makin bergetar merasakan gesekan penisnya di vaginaku.

“Enak Dan, enjotin yang keras, aah, nikmatnya. Vivi mau deh kamu entot tiap hari”, erangku gak karuan.

Keluar masuknya penisnya di vaginaku makin lancar karena cairan vaginaku makin banyak, seakan menjadi pelumas penisnya. Dia menelungkup dibadanku dan mencium kudukku. Aku menjadi menggelinjang kegelian.

Pinter banget dia merangsang dan memberi aku nikmat yang luar biasa. Toketku dilepaskannya dan tangannya menarik wajahku agar menengok ke belakang, kemudian bibirku segera diciumnya dengan napsunya. Lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Tangannya kembali menyusup kedalam dasterku dan meneruskan tugasnya meremes2 toketku.

Sementara itu, penisnya tetep dienjotkan keluar masuk dengan cepat dan keras. Jembutnya yang kasar dan lebat itu berkali2 menggesek pantatku ketika penisnya nancep semuanya di vaginaku. Aku menjadi mengerang keenakan berkali2, ini menambah semangatnya untuk makin mgencar mengenjot vaginaku.

Pantatku mulai bergerak mengikuti irama enjotan penisnya. Pantatku makin cepat bergerak maju mundur menyambut enjotan penisnya sehingga rasanya penisnya nancep lebih dalem lagi di vaginaku.

“Terus Dan, enjot yang keras, aah nikmat banget deh dientot kamu”, erangku.

Dia makin seru saja mengenjot vaginaku dengan penisnya. Aku tersentak. Perutku terasa kejang menahan kenikmatan yang luar biasa. Bibirku kembali dilumatnya, aku membalas melumat bibirnya juga, sementara gesekan penisnya pada vaginaku tetep saja terjadi. Akhirnya aku tidak dapat menahan rangsangan lebih lama, vaginaku mengejang dan,

“Dan, Vivi nyampe aah”, teriakku.

Vaginaku berdenyut hebat mencengkeram penisnya sehingga akhirnya, penisnya mengedut mengecretkan pejunya sampe 5 semburan. Terasa banget pejunya yang anget menyembur menyirami vaginaku. Penisnya terus dienjotkan keluar masuk seiring ngecretnya pejunya. Akhirnya aku ambruk keranjang dan dia menindihku.

Napasku memburu, demikian juga napasnya. Penisnya terlepas dari jepitan vaginaku sehingga terasa pejunya ikut keluar mengalir di pahaku. Dia segera telentang diranjangku supaya tidak menindih aku.

“Vi, nikmat banget deh vagina kamu, peret dan empotannya kerasa banget”, katanya.

“Kamu sudah sering ngentot ya Dan, ahli banget bikin Vivi nikmat. Kamu ngentot ama siapa aja”, tanyaku.

“Kalo enggak anak majikan ya istri majikan”, jawabnya sambil cengar cengir.

“Wah nikmat banget kamu, ada yang muasin kamu sembari kerja”, jawabku sambil menelentangkan badanku disebelahnya.

Dia bangun dan masuk kamar mandi, memang kamarku ada kamar mandi didalemnya. Terdengar grujuan air, dia rupanya sedang membersihkan dirinya, sementara aku masih saja telentang di ranjang menikmati sisa2 kenikmatan yang baru saja aku rasakan.

Dia keluar dari kamar mandi, dasterku yang sudah basah karena keringat dilepasnya sehingga aku terkapar telanjang bulat.

“kamu napsuin deh Vi, toket kamu gede dan kenceng, mana pentilnya gede lagi. sering diemut ya Vi, kamu nentotnya sama siapa sih”, tanyanya.

Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.

“Aku paling suka liat jembut kamu, lebat banget sih. Aku paling napsu ngeliat cewek kayak kamu ini, toketnya gede kenceng dan jembutnya lebat, nikmat banget dientotnya,” katanya lagi.

Dia berbaring disebelahku dan memelukku,

“Vi aku pengen lagi deh”, katanya.

Aku kaget juga dengernya, baru aja ngecret udah napsu lagi, tapi aku suka cowok kaya begini, udah penisnya gede dan panjang, kuat lagi ngentotnya. Dia mulai menciumi leherku dan lidahnya menjilati leherku. Aku menggelinjang dan mulai terangsang juga.

Bibirku segera diciumnya, lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Sementara itu tangannya mulai meremes2 toketku dengan gemes. Dia melepaskan bibirku tetapi lidahnya terus saja menjilati bibirku, daguku, leherku dan akhirnya toketku. Pentilku yang sudah mengeras dijilatinya kemudian diemutnya dengan rakus. Aku menggeliat2 karena napsuku makin memuncak juga.

“Aash, kamu napsu banget sih Dan, tapi Vivi suka banget”, erangku.

Toketku yang sebelah lagi diremes2nya dengan gemes. Jari2nya menggeser kebawah, keperutlu, Puserku dikorek2nya sehingga aku makin menggelinjang kegelian. Akhirnya jembutku dielus2nya, tidak lama karena kemudian jarinya menyusup melalui jembutku mengilik2 vaginaku. Pahaku otomatis kukangkangkan untuk mempermudah dia mengilik vaginaku.

“Aah”, aku melenguh saking nikmatnya. Dia membalik posisinya sehingga kepalanya ada di vaginaku, otomatis penisnya yang sudah ngaceng ada didekat mukaku. Sementara dia mengilik vagina dan itilku dengan lidahnya, penisnya kuremes dan kukocok2, keras banget penisnya. Kepalanya mulai kujilati dan kuemut pelan, lidahnya makin terasa menekan2 itilku sehingga pantatku terangkat dengan sendirinya.

Enggak lama aku mengemut penisnya sebab dia segera membalikkan badannya dan menelungkup diatasku, penisnya ditancapkannya di vaginaku dan mulai ditekennya masuk kedalam. Setelah nancep semua, mulai dia mengenjotkan penisnya keluar masuk dengan cepat da keras.

Bibirku kembali dilumatnya dengan penuh napsu, sementara itu terasa banget penisnya mengisi seluruh ruang vaginaku sampe terasa sesek. Nikmat banget ngentot sama dia. Aku menggeliat2kan pantatku mengiringi enjotan penisnya itu.

Cukup lama dia mengenjotkan penisnya keluar masuk, tiba2 dia berhenti dan mencabut penisnya dari vaginaku. Dia turun dari ranjang dan duduk di kursi, aku dimintanya untuk duduk dipangkuannya mengangkang diantara kedua kakinya. Dia memelukku dengan erat. Aku sedikit berdiri supaya dia bisa mengarahkan penisnya yang masih ngaceng itu masuk ke vaginaku.

Aku menurunkan badanku sehingga sedikit2 penisnya mulai ambles lagi di vaginaku. Aku menggeliat merasakan nikmatnya penisnya mendesak masuk vaginaku sampe nancep semuanya. Jembutnya menggesek jembutku dan biji pelernya terasa menyenggol2 pantatku. Aku muali menaik turunkan badanku mengocok penisnya dengan vaginaku. Dia mengemut pentilku sementara aku aktif bergerak naik turun. Nikmat banget, kayanya lebih nikmat dari tadi.

“Aah Dan, enak banget deh, lebih nikmat dari yang tadi”, erangku sambil terus menurun naikkan badanku mengocok penisnya yang terjepit erat di vaginaku. Vaginaku mulai berdenyut lagi meremes2 penisnya, gerakanku makin liar, aku berusaha menancepkan penisnya sedalam2nya di vaginaku sambil mengerang2.

Tangannya memegang pinggulku dan membantu agar aku terus mengocok penisnya dengan vaginaku. Aku memeluk lehernya supaya isa tetep mengenjot penisnya, denyutan vaginaku makin terasa kuat, dia juga melenguh saking nikmatnya,

“Vi, empotan vaginamu kerasa banget deh, mau deh aku ngentot ama kamu tiap hari”.

Akhirnya aku gak bisa menahan rangsangan lebih lama dan,

“Dan, Vivi nyampe, aah”, teriakku dan kemudian aku terduduk lemas dipangkuannya.

Hebatnya dia belum ngecret juga, kayanya ronde kedua membuat dia bisa ngentot lebih lama.

“Cape Vi”, tanyanya tersenyum sambil terus memelukku.

“He eh”, jawabku singkat.

Pelan dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga aku berdiri, penisnya lepas dari jepitan vaginaku. Penisnya masih keras dan berlumuran cairan vaginaku. Kembali aku dimintanya nungging dipinggir ranjang, doyan banget dia dengan doggie style. aku sih oke aja dengan gaya apa saja karena semua gaya juga nikmat buat aku.

Dia menjilati kudukku sehingga aku menggelinjang kegelian, perlahan jilatannya turun ke punggung. Terus turun ke pinggang dan akhirnya sampe dipinggulku. Otot perutku terasa tertarik karena rangsangan jilatan itu. Mulutnya terus menjilati, yang menjadi sasaran sekarang adalah pantatku, diciuminya dan digigitnya pelan.

Apalagi saat lidahnya mulai menyapu daerah sekitar lubang pantatku. Geli rasanya. Jilatannya turun terus kearah vaginaku, kakiku dikangkangkannya supaya dia bisa menjilati vaginaku dari belakang, Aku lebih menelungkup sehingga pantatku makin menungging dan vaginaku terlihat jelas dari belakang. Dia menjilati vaginaku, sehingga kembali aku berteriak2 minta segera dientot,

“Dan, nakal deh kamu, ayo dong Vivi cepetan dientotnya”. Dia berdiri dan memposisikan penisnya dibibir vaginaku dan dienjotkannya kedalam dengan keras sehingga nancep semua dengan sekali enjotan. Dia mulai mengenjot vaginaku dengan penisnya, makin lama makin cepat.

Aku kembali menggeliat2kan pantatku mengimbangi enjotan penisnya divaginaku. Jika dia mengejotkan penisnya masuk aku mendorong pantatku kebelakang sehingga menyambut penisnya supaya nancep sedalam2nya di vaginaku. Toketku berguncang2 ketika dia mengenjot vaginaku. Dia merems2 toketku dan memlintir2 pentilnya sambil terus mengenjotkan penisnya keluar masuk.

“Terus Dan, nikmat banget deh”, erangku lagi.

Enjotan berjalan terus, sementara itu aku mengganti gerakan pantatku dengan memutar sehingga efeknya seperti meremes penisnya. Dengan gerakan memutar, itilku tergesek penisnya setiap kali dia mengenjotkan penisnya masuk. Denyutan vaginaku makin terasa keras, diapun melenguh,

“Vi, nikmat banget empotan vagina kamu”. Akhirnya kembali aku kalah, aku nyampe lagi dengan lenguhan panjang,

“Aah nikmatnya, Vivi nyampeee”.Otot perutku mengejang dan aku ambruk ke ranjang karena lemesnya.

Aku ditelentangkan di ranjang dan segera dia menaiki tubuhku yang sudah terkapar karena lemesnya. Pahaku dikangkangkannya dan segera dia menancapkan kembali penisnya di vaginaku. Penisnya dengan mudah meluncur kedalam sehingga nancep semuanya karena vaginaku masih licin karena cairan yang berhamburan ketika aku nyampe.

Dia mulai mengenjotkan lagi penisnya keluar masuk. Hebat sekali staminanya, kayanya gak ada matinya ni orang. Aku hanya bisa terkapar menikmati sisa kenikmatan dan rangsangan baru dari enjotan penisnya. Dia terus mengejotkan penisnya dengan cepat dan keras. Dia kembali menciumi bibirku, lherku dan dengan agak membungkukkan badan dia mengemut pentilku.

Sementara itu enjotan penisnya tetap berlangsung dengan cepat dan keras. Aku agak sulit bergerak karena dia agak menindih badanku, keringatku sudah bercampur aduk dengan keringatnya. Enggak tau sudah berapa lama dia mengentoti ku sejak pertama tadi. Dia menyusupkan kedua tangannya kepunggungku dan menciumku lagi.

Penisnya terus saja dienjotkan keluar masuk. Pertutku mengejang lagi, aku heran juga kok aku cepet banget mau nyampe lagio dientot dia. Aku mulai menggeliatkan pantatku, kuputar2 mengimbangi enjotan penisnya. Vaginaku makin mengedut mencengkeram penisnya, pantatku terkadang terangkat menyambut enjotannya yang keras, sampe akhirnya,

“terus Dan, yang cepet, Vivi udah mau nyampe lagi”, teriakku. Dia dengan gencarnya mengenjotkan penisnya keluar masuk dan,

“Aah Vivi nyampe lagi”, aku berteriak keenakan. Berbarengan dengan itu terasa sekali semburan pejunya yang kuat di vaginaku.

Diapun ngecret dan ambruk diatas badanku. Kami sama2 terkulai lemes, lebih2 aku karena aku udah nyampe 3 kali sebelum dia akhirnya ngecret divaginaku.

“Dan, kamu kuat banget deh ngentotnya, mana lama lagi. Nikmat banget ngentot ama kamu. Kapan kamu ngentotin Vivi lagi”, kataku. Dia tersenyum mendengar sanjunganku.

“Kalo ada kesempatan ya aku sih mau aja ngentotin kamu. vagina kamu yang paling nikmat dari semua cewek yang pernah aku entot”, jawabnya memuji. Dia kemudian meninggalkanku terkapar telanjang karena nikmat.

Malemnya, aku sudah tertidur, terdengar garukan di pintu kamarku. Aku terbangun,

“Siapa” kataku lirih.

“Aku Vi”, terdengar suara Dani, rupanya dia belum puas ngentotin aku tadi siang, minta nambah lagi malem ini. Gak ada matinya rupanya dia. Aku bangun dan membukakan pintu. Segera dia masuk dan memeluk tubuhku yang hanya terbalut cd minim.

“Vi, aku pengen ngerasain empotan vagina kamu lagi ya, boleh kan”, katanya.

Aku kalo tidur hanya pake CD saja karena gerah hawanya dikamar. Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku mulai jongkok di atasnya dan menciumi nya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum,

”Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah.

Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Kaosnya kusingkapkan dari bawah lalu kuciumi dadanya.

“Hmmmhhh… aduh Vi enak ..” rintihnya.

Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya risleting celana pendeknya kubuka, kusingkapkan CDnya, penisnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok2,

“Ahhhhh… Hhhh…. Hmmhmh… Ohhh Vi…” dia cuman bisa mendesah doang. Penisnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya,

“Ehmm… Ehmm…” Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut penisnya, kemudian aku bilang,

“Dan… sekarang giliran kamu yach?” Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sembari memelorotkan celana pendek dan celana dalamnya, sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran.

Dia mulai nyiumin bibirku, aku mencoba ngelepasin kaosnya, lalu dia langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Dia pun mulai menciumi leherku sementara tangannya meraba-raba toketku dan diremasnya.

“Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan. Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua.

Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku dan ingin memelorotkan CDku. Aku mengangkat pantatku, lalu dia memelorotkan CDku. Dia langsung menciumi vaginaku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati vagina dan itilku. “Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan.

Sesekali kudengar “slurrp… slurrp…” dia menyedot vaginaku yang sudah mulai basah itu.

“Ahhhh… Dan… Enak …” desahan ku semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar. Napsuku sudah sampe ubun2, dia kutarik untuk segera menancapkan penis besarnya di vaginaku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake penis.

Pelan-pelan dia memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh penisnya dalam vaginaku.

“Uh… uhhh…. Ahhhhhhh…nikmat banget Dan” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam vaginaku. Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya penisnya di vaginaku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe,

“Ah…Dan…Aku sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan penisnya divaginaku,

“Bareng nyampenya ya Vi, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah.

Enjotan penisnya makin cepat saja, sampe akhirnya, “Dan, Vivi nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa vaginaknu berdenyut2 meremas penisnya sehingga diapun menyodokkan penisnya dengan keras,

“Vi, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres divaginaku. Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku.

Setelah istirahat sejenak, dia mencabut penisnya , memakai pakaiannya dan keluar meninggalkan aku terkapar telanjang di ranjang. Sejak itu setiap ada kesempatan, aku selalu minta dientot sama dia. Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Ngesex Pembantu, Cerita Mesum Pembantu, Cerita Sex Pembantu, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

 

 

Baca Juga Cerita Sex Pembantu Lainnya : Nikmatnya Menyetubuhi Pembantu Sange

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.