Cerita Sex Binalnya Dua Tante Muda

SEXCRIT.COM situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Binalnya Dua Tante Muda – Sebut saja namanya Abel usia 35 thn dan Melda 33 thn. Seperti yg sudah-sudah, aku mengenal sosok Abel dari seringnya aku online sebagai chatter.

Aku bisa menilai, Abel adalah sosok yg hot dalam bercinta. Dengan ciri-ciri tinggi 169cm dan berat badan sekitar 60kg, berdada sintal, berpinggul sexy dan kelihatan sekali dia adalah seorang wanita yg suka sekali senam sehingga badannya terasa padat berisi.

Cerita Sex Ngentot Binalnya Dua Tante Muda

Cerita Sex Tante, Cerita Mesum Tante, Cerita Ngentot Tante, Cerita Ngesex Tante, Ngentot Tante Binal

Itu semua aku ketahui setelah dia kirim aku foto dan aku tahu kalau dia penganut sex bebas juga dengan para karyawan-karyawan yg ada di surabaya, itupun aku ketahui setelah Abel banyak cerita tentang kehiduapn sexnya.

Singkat cerita, kita janjian untuk ketemuan, dengan catatan dia harus bawa teman karena menurut dia, tidak pernah ada acara copy darat sendirian. Dan gilanya lagi dia sudah booking hotel, saat acara ketemuan nanti. Itu karena supaya dia tidak ketahuan suaminya, dia pilih Hotel. Karena menurut Abel, Hotel adalah tempat yg paling aman.

Sesuai dengan hari yg sudah dibicarakan bersama, akhirnya aku bergegas meluncur menuju hotel yg dia booking. Setelah di depan hotel, aku berusaha menelpon dia untuk menanyakan di kamar nomor berapa.

“Hallo Ferry, kamu ada dimana” tanya Abel.

“Aku sudah di depan lobby, Mbak Abel di kamar no. Berapa?”aku berusaha mencari tahu.

“Naik aja lift ke lantai 3, terus cari nomor 326,” suara Abel dengan jelas.

“Ok Mbak, aku segera naik,” jawabku.

“Ok aku tunggu,” suara Abel dengan ceria.

Setelah aku tutup celluler ku, bergegas aku menuju kamar yg disebut oleh Abel.

“Tok-tok-tok” aku mengetuk pintu yag betuliskan nomor 326.

Setelah pintu terbuka, aku sedikit terpana dengan tubuh Abel yg tinggi semampai.

” Ferry ngapain bengong, masuk dong,” sambil menggapai lenganku.

Sesampai di dalam kamar, ternyata benar Abel bersama dengan temannya, sesuai dengan janji dia.

“Ferry” aku ulurkan tanganku.

“Ferry, ini temenku Melda” Abel mengenalkan temannya dan sambari begitu, si Melda bangkit dari duduknya langsung menyalami aku.

Keadaan berikutnya memang sedikit kaku karena aku juga kikuk, mengingat dalam kamar itu ada kami bertiga. Seandainya cuman berdua dengan Abel aku lebih berani.

“Ferry, kamu nggak seperti di foto deh, sepertinya kamu lebih berisi” Abel membuka omongannya.

“Jangan-jangan yg difoto bukan kamu” tuduh Abel.

“Tidak kok Mbak, itu memang foto Ferry,” aku coba membela diri.

“Ferr, kata Abel kamu jago banget ya.. Ngesexnya?” tanya Melda.

Pertanyaan itu bagaikan menghantam dadaku. Deg! jantungku terasa berhenti sekian detik.

“Mmm anu biasa kok Mbak,” jawabku gugup.

“Nggak apa-apa kok Dan, santai aja Melda sama kok seperti Abel” hibur Debby.

Pembicaraan semakin menjurus ke arah yg berbau sex, kedua wanita sebaya ini aku tafsir merupakan wanita-wanita yg doyan banget ngesex.

Aku sempat memutar otak dengan keadaan ini dan bertanya dalam hati, suami mereka itu gimana kok ‘menelantarkan’ istri-istri sexy begini. Apalagi Melda, sepertinya membiarkan mataku melihat bongkahan paha mulus di balik rok mininya.

Sesekali dia merubah posisi duduknya tanpa harus riskan dengan aku yg duduk di depannya. Disaat aku melamun tentang khayalan aku, tiba-tiba Abel sudah berada di pangkuan aku, jantungku berdetak semakin kencang.

“Ferr, buktikan omongan kamu di chatting selama ini,” pinta Abel sambil menempelkan dadanya ke muka wajahku. Aroma parfumnya yg begitu membangkitkan gairahku mengusik adik kecilku yg menghentak-hentak dinding celana dalamku.

“Mbak” belum sempat aku selesaikan jawaban itu, bibir Abel yg tipis segera melumat bibirku. Aku sedikit gugup menerima serangang yg mendadak ini. Tetapi aku berusaha mengontrol keadaan aku. Disaat bibir Abel sedang asyik menikmati bbibirku, tanganku yg nakal mulai mengelus punggung wanita paruh baya tersebut.

Dengan kemahiran gigiku, aku melepas kancing blus belahan rendah yg ada pada dada Abel. Sampai akhirnya 4 kancing atas blus Abel terbuka, dan mulailah aku bisa mengusasi keadaan. Dengan belaian yg halus dan penuh perasaan, jari-jemariku mulai membuka pengait kancing BH Abel.

Dengan sedikit sentuhan, ‘tess’ BH Abel yg berwarna hitam terbuka. Dan muncullah 2 bukit yg masih kencang didepan mukaku lengkap dengan sepasang puntingnya yg memerah. Aku bisa membaca apa yg sedang terjadi pada diri Abel, dengan jilatan maut lidahku membuatnya merintih,

“Ughh, geli sayg”

Jilatan lidahku yg mendarat di puting Abel, membuat wanita itu menggeliat tidak beraturan. Karena Abel masih menggunakan baju kantor (baca: rok mini). Tanganku semakin berani untuk mengelus pahanya yg putih mulus.

Sesekali tubuhnya yg sintal bergoyg dipangkuan aku dan sekitar 15 menit aku di posisi itu, semua inderaku bekerja sesuai fungsi masing-masing.

Disaat aku sedang melakukan foreplay, Melda masih duduk di tempatnya semula. Akan tetapi sekarang kedua kakinya yg jenjang dibuka lebar sedangkan tangannya meremas buah dadanya sendiri

“Mm.. ” sesekali Melda merintih, mendesah melihat adegan Abel dengan aku.

Setelah 25 menit, aku mencoba menyandarkan tubuh Abel ke dinding kamar. Posisi ini sangat menguntungkan aku untuk mulai menikmati setiap cm tubuh Abel. Aku lumat bibir Abel, kemudian turun ke lehernya dan berlanjut ke buah dadanya yg sintal. Aku menjongkokkan tubuhku untuk menjilati puser Abel.

“Akhh.. Ferr, beri aku janjimu sayg.. Ughh,” lidahku mulai nakal menjelajahi perut Abel. Sampai akhirnya aku mencium aroma bunga di lubang surga Abel. Tanpa melepas celana dalam yg dipakai, aku segera memainkan lidahku diatas kemaluannya.

Dan bersamaan dengan itu kepala Abel menggeleng kekanan-kekiri, seperti iklan sampho clear yg lagi berketombe di diskotik. Dengan sentuhan perlahan, aku melepas Abel, karena posisinya berdiri sangat mudah sekali melepas celana dalam warna putih berenda yg dikenakan.

Tanganku berusaha membuka kedua kaki Abel yg masih menggunakan sepatu hak tingginya. Sehingga memudahkan lidahku untuk mengocok lubang kewanitaanya.

“Srupp.. Srupp, crek.. Crek” lidahku mulai menghujam memek Abel.

“Ferr, kamu memang asyik.. Geli sekali.. Ooohh” Abel merintih panjang saat lidahku mulai, mengulum, menjilat dan menghisap clitorisnya yg sudah mulai membesar dan berwarna merah.

Aku mulai merasakan sesuatu akan meletup dalam diri Abel. Dengan segala pengetahuan aku dalam ilmu bercinta, aku angkat satu kaki Abel keatas pangkuan pundakku sehingga lidahku bisa leluasa menikmati cairan yg mulai meleleh di lubang surgawinya.

Dengan posisi berdiri kaki satu, aku semakin mempercepat jilatan lidahku, sampai akhirnya Abel tidak kuasa membendung orgasmenya.

“Ferr, aku keluar.. Aakkhh” bersamaan dengan itu pula cairan kental muncrat ke wajahku.

Dan diisaat aku masih bingung untuk membasuh wajahku tiba-tiba dari belakang Melda mengangkatku sambil berkata “Ferr, sekarang giliranku”.

Rupanya Melda dari awal sudah memainkan jarinya diatas clitorisnya sambil menonton adegan antara aku dengan Abel. Terbukti Melda tidak lagi menggunakan celana dalam yg tadi dikenakannya. Melda membungkukkan badannya ke bibir meja, sehingga belahan merah pada selangkangannya terlihat jelas dari belakang. Bagaikan segerombolan tawon yg melihat madu, lidahkan langsung menari-nari di lubang kemaluan Melda.

“Ferr, enak.. Sekali sayg.. Akhh” Melda merintih.

Dengan posisi aku duduk di lantai menghadap selangkangan Melda, yg membuka lebar pahanya. Memudahkan aku beroperasi secara maksimal untuk menekan lidahku lebih dalam, sedangkan tanganku meremas pantat Melda yg sexy.

Disaat aku sedang asyik menikmati lubang memek Melda, tiba-tiba Abel sudah memereteli celanaku. Sehingga adikku yg berukuran 16 cm kurang dikit dan mempunyai bentuk yg sedikit bengkok ke kiri, menyembul keluar setelah sekian menit dipenjara oleh celana dalam ketatku merk GT-MAN.

“Waow Ferry, gila banget besar sekali sayg.. Mmm” selanjutnya tidak ada suara lagi karena penisku sudah dilahap oleh mulut Abel yg rakus. Aku merasakan betapa pandainya lidah Abel menari di batang kemaluanku. Sesekali aku melepas kulumanku di memek Melda, karena merasakan kenikmatan permainan oral dari mulut Abel.

Melda sudah mulai bocor pertahanannya dan berkata sambil mendesah,

“Ferry.. Aku.. Aku.. Mau.. Kelu.. Arr.. Aahh,” tangan Melda yg tadinya beroperasi dibuah dadanya sekarang menekan kepalaku dalam-dalam pada selangkangannya, seolah memohon jangan dilepas isapan fantastis itu.

Untuk yg kedua kalinya wajahku belepotan oleh cairan wanita sebaya yg keluar dari lubang surgawi mereka. Disaat aku sedang membasuh wajahku yg penuh cairan, tiba-tiba Abel menarik lenganku, hingga badanku berdiri.

“Ferr, aku ingin style berdiri,” ajak Abel sambil menarik tanganku untuk mengikuti dia berdiri.

Sambil bersandar di dinding, aku langsung mengarahkan adik kecilku dari bawah. Sehingga posisi berdiri tersebut sempurna sekali, dan itupun ditambah posisi Abel yg masih belum melepas sepatu hak tingginya. Karena dengan demikian posisi Abel lebih tinggi dari posisi aku berdiri.

“Bless” suara adik kecilku menembus belahan kecil diselangkangan Abel

“Ferr, enakk bangett.. Punyamu ” erangan Abel.

Gerakan maju mundurku semakin mentok di pangkal memek Abel, hal itu disebabkan karena pantat Abel ditahan oleh dinding.

“Crekk.. Crekk.. Sslleepp” suara penisku menghujam keluar masuk dalam lubang memek Abel. Buatku, Abel termasuk orang yg bisa megimbangi permainan sex. Buktinya dengan posisi sulit seperti itu, dia juga sedikit mendoyongkan tubuhnya ke dinding sehingga batang penisku benar-benar masuk semua.

Keadaan ini berlangsung sampai akhirnya di menit ke 45, Abel berteriak

“Ferry.. Ampun.. Aku.. Mau.. Kelu.. Ar lagi.. Gila” rintih Abel.

Tubuh Abel mendekapku erat-erat seolah tidak mau lepas dari batang penisku yg masih menancap lubang surgawinya. Dan sedetik kemudian tubuh Abel merosot ke bawah dengan lunglai.

Aku berjalan menghampiri Melda yg sedang menyandarkan tangannya untuk melihat keluar jendela. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, sambil memeluk dia dari belakang, penisku yg masih kencang menerobos liang memek Melda sehingga membuat dia terpekik.

“Aaowww.. Ferr kamu nakal deh, aku masih capek.. Uuughh” aku tidak mempedulikan erangannya.

Seraya meremas buah dadanya yg kencang dari belakang, pinggulku mulai bergerak maju mundur. Posisi seperti ini benar-benar membuat aku melayg, lubang Melda yg sedikit sempit dan seret dibanding punya Abel. Dan hal itu membuat aku lebih bernafsu untuk menyetubuhinya. Itu wajar karena Melda belum punya anak walaupun sudah menikah beberapa thn.

Selang beberapa menit, “Ferry.. Aku nggak tahann.. Gila banget punya kamu terasa masuk sampai ulu hatiku.. Aaugghh,” rintih Melda panjang, sambil tetap menggoyg pinggulnya. Dengan posisi setengah nungging dengan berdiri, memudahkan aku untuk memasukan penisku secara maksimal.

“Ughh.. Mbak.. Asyik banget punya Mbak” desah kenikmatanku untuk memuji kedua wanita itu sering keluar dalam mulutku.

“Ferr.. Ampunn.. Aku.. Akkhh” Melda merintih panjang.

Melda merapatkan pahanya sehingga penisku terasa tersedot ke dalam semua. Gila, terasa copot penisku dibuatnya. Karena hebatnya permainan itu hingga tak terasa dinginnya AC yg ada dalam kamar itu. Aku coba mengambil segelas air es di kulkas, Abel yg tadi terkulai menarik tanganku. Cerita Sex Tante, Cerita Mesum Tante, Cerita Ngentot Tante, Cerita Ngesex Tante, Ngentot Tante Binal, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.