VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Cerita Sex Janda Molek Pembantu Kakakku

VIMAX ASLI Obat Kuat

sexcrit.com Menyediakan Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Sex Ngentot | Cerita Mesum HOT | Cerita Seks ABG | Cerita Bokep | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa | Foto Sex secara gratis dan selalu terupdate || Cerita Sex Janda Molek Pembantu Kakakku

Aku melihat jam di tanganku. Masih lama rupanya. Kira-kira setengah jam lagi waktu kuliah habis. Siang tadi kakak iparku nelepon, memintaku datang ke rumahnya setelah kuliah. Aku bertanya-tanya, karena biasanya hanya abangku saja yg menelponku, menanyakan sesuatu atau memintaku untuk menjaga rumahnya jika dia ada urusan keluar kota.

Rintik-rintik hujan mulai turun semakin lebat. Mbak Nilma yg bekerja di rumah abangku ini bergegas ke halaman belakang untuk mengambil jemuran. Kemudian, “Den Fuad!”, teriaknya keras dari belakang rumah. Aku berlari menuju arah suaranya dan melihat Mbak Nilma terduduk di tepi jemuran. Kain jemuran berhamburan di sekitarnya.

Cerita Sex Janda, Cerita Ngentot Pembantu

“Den Fuad, tolong Mbak Nilma bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil menyeringai mungkin menahan sakit.

“Mbak tadi tergelincir”, sambungnya.

Aku hanya mengangguk sambil mengambil kain yg berserakan lalu sebelah tanganku coba membantu Mbak Nilma berdiri.

“Sebentar Mbak. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya memegang kain yg berada di tangan Mbak Nilma. Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak Nilma. Ketika aku menghampiri Mbak Nilma lagi, dia sudah separuh berdiri dan mencoba berjalan terhuyung-huyung. Hujan semakin lebat seakan dicurahkan semuanya dari langit.

Cerita Sex Terbaru – Aku menuntun Mbak Nilma masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi. Dadaku berdetak kencang ketika tanganku tersentuh buah dada Mbak Nilma. Terasa kenyal sehingga membuat darah mudaku tersirap naik. Kuakui walau dalam usia awal 30-an ini Mbak Nilma tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kakak iparku yg berusia 25 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan potongan badannya yg masih menarik perhatian lelaki. Tidak heran, pernah Mbak Nilma kepergok oleh abangku bermesraan dengan laki-laki lain.

“Tolong ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Nilma ketika aku masih termangu-mangu.

Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan kuberikan kepadanya.

“Terima kasih Den Fuad”, katanya dan aku cuma mengangguk-angguk saja.

Kasihan Mbak Nilma, dia adalah wanita yg paling lemah lembut. Suaranya halus dan lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak tersenyum. Rajin dan tidak pernah sombong atau membantah. Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Tak pernah ada yg menyuruhnya karena dia tahu tanggung jawabnya.

Kadang-kadang saya memberinya sedikit uang, bila saya datang ke sana. Bukan karena apa, sebab dia mempunyai sifat yg bisa membuat orang sayg kepadanya. Abangku tidak pernah memarahinya. Gajinya setiap bulan disimpan di bank.

Pakaiannya dibelikan oleh kakak iparku hampir setiap bulan. Memang dia cantik, dan tak tahu apa sebabnya hingga suaminya menceraikannya. Kabarnya dia benci karena suaminya main serong. Hampir 6 tahun lebih dia menjanda setelah menikah hanya 3 bulan. Sekarang dia baru berusia 33 tahun, masih muda.

Kalau masalah kecantikan, memang kulitnya putih. Dia keturunan Cina. Rambutnya mengurai lurus hingga ke pinggang. Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada kelebihannya. Kelebihan Mbak Nilma ialah sikapnya kepada semua orang. Budi bahasanya halus dan sopan.

Mbak Nilma berdiri lalu mencoba berjalan menuju ke kamar mandi. Melihat keadaannya masih terhuyung-huyung, dengan cepat kupegang tangannya untuk membantu. Sebelah tanganku memegang pinggang Mbak Nilma. Kutuntun menuju ke pintu kamar mandi. Terasa sayg untuk kulepaskan peganganku, sebelah lagi tanganku melekat di pinggangnya.

Mbak Nilma menghadap ke diriku saat kutatap wajahnya. Mata kami saling bertatapan. Kulihat Mbak Nilma sepertinya senang dan menyukai apa yg kulakukan. Tanganku jadi lebih berani mengusap-usap lengannya lalu ke dadanya.

Kuusap dadanya yg kenyal menegang dengan puting yg mulai mengeras. Kudekatkan mulutku untuk mencium pipinya. Dia berpaling menyamping, lalu kutarik lagi pipinya. Mulut kamipun bertemu. Aku mencium bibirnya. Inilah pertama kalinya aku melakukannya kepada seorang wanita.

Erangan halus keluar dari mulut Mbak Nilma. Ketika kedua tanganku meremas punggungnya dan lidahku mulai menjalari leher Mbak Nilma. Ini semua akibat film BF dari CD-Rom yg sering kutonton dari rumah teman.

Mbak Nilma bersandar ke dinding, tetapi tidak meronta. Sementara tanganku menyusup masuk ke dalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup. Kuhisap dan kugelitik langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan. Tanganku bergerak bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri bersandar di dinding.

Kami terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu. Aku merasa tubuh Mbak Nilma menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Mbak Nilma kubuka. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam. Daging kenyal yg selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan.

Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Kuhisap puting yg mengeras itu hingga memerah. Mbak Nilma semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yg membusung. Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”.

Puting payudaranya yg merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya. Lidahku kini bermain di pusar Mbak Nilma, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya. Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak Nilma semakin kuat menarik rambutku.

“Den Fuaddd…, Den Fuad”, suara Mbak Nilma memanggilku perlahan. Aku terus melakukan usapanku. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah. Tanganku mulai menyentuh daerah vaginanya. Rambut halus di sekitar vaginanya kuusap-usap perlahan.

Ketika lidahku baru menyentuh vaginanya, Mbak Nilma menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu. Pandangannya ditujukan ke tempat tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Nilma seraya menuntun Mbak Nilma menuju tempat tidur. Bau vaginanya merangsang sekali. Dengan satu bau khas yg sukar diceritakan.

“Den Fuaddd…”, bisiknya perlahan di telingaku. Aku terdiam sambil mengikuti apa yg kuinginkan. Mbak Nilma sepertinya membiarkan saja. Kami benar-benar tenggelam. Mbak Nilma kini kutelanjangkan. Tubuhnya berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya cukup menggiurkan. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh.

Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yg telah melahirkan. Memang Mbak Nilma tidak memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan. Kakinya merapat. Karena itu aku tidak dapat melihat seluruh vaginanya. Cuma sekumpulan rambut yg lebat halus menghiasi bagian bawah.

Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. ritsluiting jeans-ku kuturunkan. Aku telanjang bulat di hadapan Mbak Nilma. Kontolku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Nilma. Buah dada yg membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya. Mbak Nilma telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik.

Cerita Mesum – Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Nilma. Sungguh lembut tubuh mungil Mbak Nilma. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yg kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Kontolku menyentuh pinggang Mbak Nilma. Kudekatkan kontolku ke tangan Mbak Nilma. Digenggamnya kontolku erat-erat lalu diusap-usapnya.

Memang Mbak Nilma tahu apa yg harus dilakukan. Maklumlah dia pernah menikah. Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film BF, itu saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya. Terasa berlendir basah di vaginanya.

Aku beralih dengan posisi 69. Rupanya Mbak Nilma mengerti keinginanku. Lalu dipegangnya kontolku yg sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Mbak Nilma melumat kepala kontolku dengan lembut. Kontolku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibaygkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Mbak Nilma terasa menarik-narik batang kontolku. Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat.

Kubuka lebar-lebar paha Mbak Nilma sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yg telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Mbak Nilma mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku.

Kulumat dengan mulutku. Liang vagina Mbak Nilma semakin memerah. Bau vaginanya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya. Tentu Mbak Nilma sudah cukup terangsang, pikirku.

Aku kembali pada posisi semula. Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Mbak Nilma memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya.

Kedua Kaki Mbak Nilma mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh vaginanya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Mbak Nilma terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.

Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Mbak Nilma semakin membuka pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Mbak Nilma sudah tidak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk mencari tempat-tempat yg bisa mendatangkan kenikmatan baginya.

Erangan Mbak Nilma semakin kuat dan nafasnya pun yg terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Aku bertanya, “Gimana Mbak rasanya?”, suaraku lembut dan sedikit manja. Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan kontolku ke arah lubang vaginanya yg kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya.

Kugesek-gesekan kepala kontolku di cairan yg membanjir itu. Perlahan-lahan kutekan ke dalam. Tekanan kontolku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Nilma menggelinjang seperti kesakitan.

“Pelan-pelan Den Fuadd!”, Mbak Nilma berbicara dengan nafas sesak. Aku sekarang mengerti. Vagina Mbak Nilma sudah sempit lagi setelah 6 tahun tidak disetubuhi, walaupun dia sudah tidak perawan lagi. Memang aku belum berpengalaman kerena ini merupakan pertama kalinya aku menyetubuhi seorang wanita walau usiaku sudah matang.

Kutekan lagi. Kumasukkan kontolku perlahan-lahan. Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Lalu Mbak Nilma memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang. Hanya sebagian kontolku yg masuk. Kubiarkan sebentar kontolku berhenti, terdiam. Mbak Nilma juga terdiam. Tenang.

Sementara itu, kupeluk tubuh Mbak Nilma dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut. Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang.

Lalu kemudian aku bertanya dengan suara lembut, “Mau diteruskan…?”. Mbak Nilma membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yg menggairahkan.

Kutekan kontolku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit vagina Mbak Nilma, mencengkram seluruh batang kontolku. Kontolku terasa seperti tersedot di dalam vagina Mbak Nilma. Kami makin terangsang!

Kontolku mulai memasuki vagina Mbak Nilma lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan. Mata Mbak Nilma terbuka menatapku dengan pandangan yg sayu ketika kontolku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya.

Sedikit demi sedikit kontolku masuk sampai ke pangkalnya. Mbak Nilma mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya kontolku di vaginanya. Kadang-kadang punggung Mbak Nilma terangkat-angkat menyambut kontolku yg sudah melekat di vaginanya.

Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan kontolku seiring dengan nafas kami yg tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak Nilma mengejang dengan mata yg tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan. Denyutan di vaginanya terasa kuat seakan melumatkan kontolku yg tertanam di dalamnya.

Goyganku semakin kuat. Kasur Mbak Nilma bergoyg mengeluarkan bunyi berdecit-decit. Leher Mbak Nilma kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yg menandakan air maniku akan keluar. Denyutan yg semakin keras membuat kontolku semakin menegang keras. Mbak Nilma mengimbanginya dengan menggoygkan pinggulnya.

Goyganku semakin kencang. Vagina Mbak Nilma semakin keras menjepit kontolku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja. Bersandar pada tubuhku, Mbak Nilma lunglai seperti tidak bertenaga. Kugoyg terus hingga tubuh Mbak Nilma seperti terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku itu. Nafasnya semakin kencang.

Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat ke dalam vagina Mbak Nilma. Bergetar badanku saat maniku muncrat. Mbak Nilma mengait pahaku dengan kakinya. Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat.

Waktu aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke dalam. Kulihat Mbak Nilma menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa segala-galanya. Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa tusukan tadi memang membuat kami sampai ke puncak bersama-sama. Memang hebat. Sungguh puas.

Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama. Mbak Nilma lah wanita pertama yg mendapatkan air perjakaku. Walaupun dia seorang janda, bagiku dia adalah wanita yg sangat cantik. Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana. Mbak Nilma memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yg tidak pernah merasakan kenikmatan persetubuhan, bagiku Mbak Nilma betul-betul memberiku surga dunia.

Cerita Sex TOP : Hamili Pembantuku Yang Bahenol

Aku terbaring lemas di sisi Mbak Nilma. Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang Mbak Nilma. Kulihat Mbak Nilma tertidur di sebelahku.

Kejadian yg tidak pernah kuimpikan, terjadi tanpa dapat dielakkan. Mbak Nilma juga telentang dengan mata tertutup seperti kelelahan, mungkin lelah setelah dapat menghilangkan keinginan batinnya sejak menjanda 6 tahun yg lalu.

Kami masih berpelukan. Kemudian Mbak Nilma terasa seperti mengusap mukaku. Kubuka mataku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Seolah-olah kami tidak merasa aneh berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuh kami. Dia mencium bibirku.

Dia berbisik ketelingaku, “Terima kasih ya Den Fuad. Mbak…” Belum sempat dia menghabiskan kata-katanya, aku bertanya, “Mbak puas…?”. Dia tersenyum dan mengangguk. “Dua kali!”, jawabnya ringkas.

“Den Fuad kamu memang hebat, kontolmu juga besar! Panjang!”, katanya.
Sementara itu ia mengocokkan batang kontolku. Suaranya membangkitkan gairahku.

“Mbak suka?”, tanyaku. Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka. Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus kontolku. Kontolku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi.

“Mbak mau lagi?”, tanyaku dengan suara manja. Dia tersenyum manis. Apa yg kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka selimutnya. Kulihat kaki Mbak Nilma sudah mengejang.

Sedikit demi sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah. Segunduk daging mulai terlihat. Ufff…, detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati kembali tubuh Mbak Nilma tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yg bersih, dengan bulu-bulu tipis yg mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilat di depanku.

Kurentangkan kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Mbak Nilma. Kedua belahan bibir mungil vaginanya kubuka. Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yg telah menanti.

Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yg lebih jelas. Memang indah membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yg menghambat nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir vagina Mbak Nilma dengan bibir dan lidahku.

Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian vagina Mbak Nilma. Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yg dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging kecil yg menonjol di mulut vaginanya, Mbak Nilma mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup perlahan. Beberapa kali kulihat Mbak Nilma mengejangkan kakinya.

Aku sangat menikmati bau khas dari liang vagina Mbak Nilma yg memenuhi relung hidungku. Membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan lidahku ke lubang vagina Mbak Nilma yg kini sedikit terbuka. Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi, tapi tidak bisa. Mungkin karena lidahku kurang keras. Tetapi, kelunakan lidahku itu membuat Mbak Nilma beberapa kali mengerang karena nikmat.

Dalam keadaan sudah terangsang, kutarik tubuh Mbak Nilma ke posisi menungging. Ia menuruti permintaanku dan bertanya dengan nada manja.

“Den Fuad mau diapakan badan Mbak?”, bisiknya.

Aku rasa dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya dulu. Aku diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga kusut. Air mani Mbak Nilma sudah membasahi vaginanya. Kubuka pintu vaginanya. Kulihat dan perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak pernah melihat vagina wanita serapat itu. Kucium vagina Mbak Nilma. Bau anyir dan bau air maniku bercampur dengan bau asli vagina Mbak Nilma yg merangsang. Bau vagina seorang wanita!

Jelas semua! Bulu vagina Mbak Nilma yg lembab dan melekat berserakan di sekitar vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi ruang. Kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang vaginanya. Kumain-mainkan di dalamnya.

Kulihat Mbak Nilma menggoyg punggungnya. Kucium dan kugigit daging kenyal punggungnya yg putih bersih itu. Kemudan kurangkul pinggangnya. Kumasukkan kontolku ke liang vaginanya. Pinggang Mbak Nilma seperti terhentak.

Perlahan-lahan kutusukkan kontolku yg besar panjang ke lubang vaginanya dengan posisi “doggy-style”. Tusukanku semakin kencang. Nafsu syahwatku kembali sangat terangsang. Kali ini berkali-kali aku mendorong dan menarik kontolku. Hentakanku memang kasar dan ganas. Kuraih pinggang Mbak Nilma. Kemudian beralih ke buah dadanya. Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan.

Lama juga Mbak Nilma menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir setengah jam. Maklumlah ini adalah kedua kalinya. Tusukanku memang hebat. Kadang cepat, kadang pelan. Kudorong-dorong tubuh Mbak Nilma. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya memanjang. Berkali-kali. Seperti orang terengah-engah kecapaian. “Ehh.. ek, Ekh, Ekh.”

Akirnya aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu kurangkul kedua bahu Mbak Nilma sambil menusukkan kontolku ke dalam. Tenggelam semuanya hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan spermaku. Kutarik lagi, dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali kugoyg seperti itu. Mbak Nilma terlihat pasrah mengikuti hentakanku.

Cerita Ngentot – Kemudian kupeluk tubuhnya walaupun kontolku masih tertancap di dalam vaginanya. Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami berciuman. Begitu lama hingga terasa kontolku kembali normal. Mbak Nilma sepertinya kelelahan. Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang miring sambil berpelukan. Mbak Nilma terlihat lemas lalu tertidur.

Melihat Mbak Nilma begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Kurangkul tubuh Mbak Nilma dan aku bermain sekali lagi. Kali ini Mbak Nilma menyerah. Dia tidak menolak. Kumainkan vaginanya sampai puas. Bau di kamar ini adalah bau air mani kami. Bunyi tempat tidur pun berdecit-cit.

“Ahh… aaghh.”

Sesudah itu perlahan-lahan aku berdiri dan memakai kembali pakaianku. Aku keluar dari kamar Mbak Nilma menuju ke ruang depan. Sewaktu aku keluar, barulah aku sadar pintu kamar Mbak Nilma tidak tertutup rapat.

Rupa-rupanya kakak iparku sudah pulang. Mendadak aku pucat kalau-kalau kejadian tadi disaksikan oleh kakak iparku. Aku keluar sambil mencoba berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku duduk di sofa. Sebentar kemudian kakak iparku datang membawa minuman. Kulihat mukanya biasa saja. Kuyakinkan diriku bahwa kakak iparku tidak tahu apa yg telah terjadi tadi antara aku dengan Mbak Nilma.

Aku bertanya, “Abang tidak pulang sama Mbak?”

“Tidak. Dia ke Singapore 4 hari!”, jawabnya. Dia tersenyum.

“Minumlah!”, dia mempersilakanku.

Kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya. Aku duduk dan menonton film “Airforce One”. “Mbak sebentar lagi mau pergi, ambil mobil di sana. Nanti malam tolong kamu tidur di sini ya, sekilan jaga rumah!”, katanya pendek.

Memang bagitulah biasanya. Kalau abangku tidak ada, aku yg jadi sopir kakak iparku untuk membawa Mercedez-nya ke mana-mana. Malam itu aku tidak pulang ke flatku. Tidur di rumah abangku! Memang ada kamar khusus untukku di rumahnya yg cukup besar itu. Tapi yg lebih spesial lagi bagiku adalah tidur dalam pelukan Mbak Nilma.

Cerita Sex Janda, Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Mesum Janda, Cerita HOT Janda, Cerita Janda Terbaru, Ngentot Janda Binal, Cerita Ngesex Pemabantu “Cerita Sex Janda Molek Pembantu Kakakku” HOT 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.