Cerita Sex Perkosaan Istriku Di Airpot

SEXCRIT.COM situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Perkosaan Istriku Di Airpot – Dua tahun yang lalu aku dan Metta bertamasya ke Disney World di Orlando, Amerika Serikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline (selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi).

Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7 malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di Kuala Lumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John F Kennedy (JFK) di New York .

Cerita Mesum Perkosaan Istriku Di Airpot

. Cerita Sex Perkosaan, Cerita Mesum Perkosaan, Cerita Ngentot Perkosaan, Cerita Ngesex HOT, Ngentot Wanita Binal

Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi di Dubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal ini sebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalani pada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwa kami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur .

Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami di Dubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja.

Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja.

Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiri tas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilik koper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya.

Petugas tersebut memandangi Metta cukup lama. Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah Boby yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Metta. Tangan pria itu (sebut saja si Boby) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper.

“What is this?” tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti.

Metta menjawab gugup, “Coffee.”

Alis si Boby mengkerut. Matanya menatap tajam Metta. Lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Boby (dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.

Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Boby masih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga.

“Who are you?” aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut.

“I’m her husband. What’s the problem, sir?”

Ia terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugas lain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, “Follow me!”

Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Boby sedang yang satunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Boby. Si Boby berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC.

Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisi cermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atas meja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Boby) telah masuk ke dalam ruangan. Pria yang memiliki Garang lebat menutup pintu lalu menguncinya.

Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksa di ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku (mungkin tak beda jauh dengan benak Metta).

Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Boby mengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah “stand”, “wall” (dan “against” setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Metta yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Boby.

Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin di depan kami, aku melihat si Garang dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap (sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami ditempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kaki kami agar bergeser menjauh.

Si Garang mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanaku dikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah.

Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Metta dari atas ke bawah. Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Metta walau hanya sebentar.

Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Metta. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalam kesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dada Metta, toh dadaku juga diperiksa oleh si Garang, pikirku.

Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Metta. Meja itu dipenuhi oleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kami berdua.

Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Boby (yang ternyata adalah atasan si Garang dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruh kami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Metta masih belum dapat mengira-ngira perkataan si Boby itu.

Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Boby. Namun si Boby membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): “Jangan macam-macam! Cepat laksanakan!” Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalah “Don’t play” dan “Quick”.

Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Boby. Mata Metta membesar dan mulutnya terbuka sedikit karena kaget.

Si Tegap dan si Garang sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami dengan pandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Garang. Pandanganku tertumpu pada pistol yang menggantung di pinggang tersebut.

Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang. Pada saat aku melepaskan kemejaku, Metta masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya.

Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.

Si Boby berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Metta dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengan tembok di hadapan kami. Tangan si Garang menahanku ketika aku hendak mengikuti Metta. “Don’t move!” katanya kepadaku dengan sangat jelas.

Aku masih dapat melihat Metta (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh di sebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku.

Lalu si Garang menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembok cermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadap Metta.

Si Garang yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi oleh celana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Boby.

Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Metta. Dengan jelas aku melihat tangannya meremas payudara Metta selama beberapa detik. Tangannya bergerak ke bagian bawah tubuh Metta. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Metta dan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Metta memejamkan matanya. Alisnya sedikit mengkerut.

Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yang dikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Boby (lagi-lagi aku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka).

Si Boby berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh si Garang. Belum sempat kaget, aku mendengar Metta menjerit kecil. Rupanya celana dalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan si Garang terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Metta dan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kali dengan keras sehingga lepas dari tubuh Metta.

Secepat kilat Metta menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kami berdua berdiri tegang. Si Boby berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arah Metta. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Metta mulai akan menangis.

Si Boby memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdiri menantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.

Sambil mengatakan sesuatu, si Boby mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawa oleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Metta yang menutupi buah dadanya. Aku dapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Boby kembali memandangi Metta dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku.

Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Metta. Metta hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?). Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Boby menurunkan celana dalam Metta dari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Metta untuk merenggangkan kakinya sehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya.

Pada saat si Boby mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatku untuk mencegahnya. Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Boby, si Tegap dibantu oleh si Garang menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.

Aku meneriaki si Boby untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengan tamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri.

Tak beberapa lama setelah itu, si Boby berjongkok di depan Metta sehingga aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat dari bayangan di cermin bagian belakang tubuh si Boby yang sedang berjongkok di antara kedua paha Metta.

Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dan cepat. Metta tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi.

Metta tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istriku memang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotes sedikit pun atas perbuatan si Boby terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Boby tidak melakukan apa-apa saat itu, batinku.

Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah), “Hhwwhhh…” Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidak lagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.

Setelah itu, si Boby berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengan tangannya kepada si Tegap dan si Garang untuk meninggalkan ruangan itu.

Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Boby mengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apa yang telah dilakukan si Boby terhadap istriku.

Si Boby berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasa inggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (“may pass”), namun aku yakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkan kami untuk melanjutkan perjalanan kami.

Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, aku semakin yakin.

Aku menyuruh Metta untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulai menangis terisak-isak sambil mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masih menangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elus rambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudah berakhir.

Sesampai kami di hotel (di Orlando), Metta akhirnya menceritakan apa yang diperbuat si Boby terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Boby menggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Boby memasukkan satu – dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali.

Metta mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Boby. Setelah beberapa saat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu. Mendengar pertanyaan itu, Metta langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalam rajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.

Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Boby basah pada saat ia menghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Metta menjawab bahwa jari-jari itu basah karena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihat dirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karena telah berpikiran seperti itu.

Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Boby dapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Boby bukan basah oleh ludah melainkan oleh cairan yang meleleh dari kemaluan istriku.

Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Metta agar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu. Cerita Sex Perkosaan, Cerita Mesum Perkosaan, Cerita Ngentot Perkosaan, Cerita Ngesex HOT, Ngentot Wanita Binal, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.