Cerita Sex Rengekan Tante Nova

SEXCRIT.COM situs yang menyediakan Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Ngentot, Cerita Mesum HOT, Cerita Seks ABG, Cerita Bokep, Cerita Porn, Cerita Seks Dewasa, Foto Bugil, Foto Sex secara gratis dan selalu update || Cerita Sex Rengekan Tante Nova – Cerita ini di mulai waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA di kota B. Usia saya sekarang 33 tahun, berarti kejadian ini terjadi 16 tahun yang lalu.

Panggil saya Kadek, ketika itu saya mempunyai kelompok belajar yang selalu rutin belajar di salah satu rumah teman kami, Bima. Saya, Bima, Hendra, Julian dan Rizki setiap akan ulangan selalu belajar berkelompok sambil menginap, karena anak kelas satu masuk sekolah selalu pada siang hari.

Cerita Sex Ngentot Rengekan Tante Nova

Cerita Sex Tante, Cerita Mesum Tante, Cerita Ngentot Tante, Ngesex Tante Girang, Ngentot Memek Tante

Teman saya, Bima, memang dari keluarga yang lebih dibanding teman-teman yang lain. Dia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara (2 pria dan 2 wanita), dari ayah seorang pejabat Depkeu.(drs.E) dan Ibu dosen fakultas sastra di universitas negeri di kota B, yang biasa kami panggil Tante Nova. Otomatis kami selalu tidur, makan dan mandi di sana, malah kalau keluarga drs.E berpesiar, kami suka diajak.

Bila Bima sedang di bawah (karena kamarnya memang di lantai 2), kami selalu membicarakan sangkakak no.3 yang bernama E. Hal-hal yang dibicarakan tidak lain adalah wajah yang good looking serta body yang aduhai disertai kulit putih mulus terawat.

Tapi anehnya, saya kok lebih suka memperhatikan Tante Nova, yang diusia 42 tahun lebih menimbulkan hasrat serta fantasi-fantasi seksual yang membuat perasaan risih. Karena walau bagaimanapun Tante Nova adalah ibu kandung dari teman baikku. Jadi, saya hanya bisa berkhayal dan tidak berani cerita pada orang lain.

Karena keluarga drs.E adalah pencinta sport, maka setiap weekend selalu diisi dengan kegiatan berolahraga, terutama olah raga tennis. Karena saya cukup mahir bermain tennis, saya selalu diajak untuk bermain tennis. Karena saya dianggap paling jago, maka saya sering berpasangan dengan Tante Nova apabila bermain double.

Selain badan Tante Nova yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 165 cm, pakaian tennis Tante Nova memang sexy dengan rok pendek serta atasan model tank top, pelukan-pelukan serta sentuhan, apabila kami memenangkan game membuat hati saya berdebar-debar dan hasrat seksual terhadap Tante Nova semakin menjadi-jadi. Malah, setiap selesai bermain tennis saya bermasturbasi dengan membayangkan wajah Tante Nova serta bersetubuh seperti film BF yang biasa saya tonton.

Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. “Ah Sial..” ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM.

Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM.

Ketika saya tiba di rumah Bima, sambil hujan-hujanan suasana rumah tampak sepi, tidak ada mobil atau pun suara televisi yang menandakan adanya kehidupan. Dengan hati lemas saya pijit bel rumah 2 kali,

“Tingtong.. tingtong..”

Tidak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Siapa..?” Hati saya berdebar, karena saya sangat mengenal suara itu.

Kemudian saya menjawab, “Kadek, Tante.. maaf malam-malam Tante. Saya mau pinjam telepon, mobil saya mogok, Tante.”

Terdengar gerendel pintu berbunyi, dan ketika pintu terbuka tampak sebuah sosok yang sangat saya kenal, sosok yang selalu hadir disetiap fantasi seksual saya.

“Aduh Kadek kenapa? kasian malam-malam gini hujan-hujanan, ayo cepat ke kamar Bima, kalo udah selesai ke ruang makan yach! Tante buatin minuman hangat.”

Sambil mengeringkan badan dan mengganti baju, masih terbayang siluet badan Tante Nova ketika tadi membuka pintu, yang membayang dari gaun tidur yang tipis.Dalam hati saya bertanya,

“Kok sepi sekali, yang lain pada ke mana yach.”

Sambil menghirup coklat panas yang dihidangkan Tante Nova, akhirnya saya beranikan untuk bertanya.

“Tante, Oom, Bima dan yang lain pada ke mana? Keliatannya rumah kok sepi sekali.”

“Ini lho, adiknya Oom yang di J, sedang sakit, karena si Mbok juga lagi pulang, terpaksadech Tante jadi hansip dulu. Eh.. kamu jadi telepon nggak.”

“Eh iya Tante, kok jadi lupa nih.”

“Makanya, jangan suka ngelamun, dari tadi Tante perhatiin kamu kok bengong terus, ada apa sih?”

“Nggak ada apa-apa kok Tante!”

Saya langsung bergegas ke ruang keluarga, dan segera telepon ke rumah. Saya coba berulangkali tetap telepon tidak bisa aktif. Tiba-tiba terdengar suara Tante Nova,

“Bisa nggak Dek? Kalo hujan begini biasanya jaringan telepon di sini memang suka ngadat.”

“Udah deh, kamu tidur sini aja, Tante juga jadi ada yang nemenin.”

“Iya Tante.”

Setelah itu, saya dan Tante Nova segera beranjak untuk meneruskan obrolan di ruang keluarga. Sebelum saya sempat duduk di sofa, Tante Nova berkata,

“Dek, tolong dong Tante ajarin lagu Turkish March-nya Bethoven, Tante masih kagok tuh perpindahan jari-jarinya.”

“Kapan Tante?”

“Ya sekarang dong! Kapan lagi coba kamu punya waktu untuk ngajarin Tante.”

Kemudian kami menuju piano dan duduk sama-sama di kursi piano yang tidak terlalu lebar. Karenasaya mengajari perpindahan jari-jari tangan, otomatis saya selalu memegang jari tangan Tante Nova yang halus dengan kuku-kuku yang terawat dengan baik. Jantung saya terasa makin lama makin berdebar, apalagi setiap menarik nafas harum tubuh Tante Nova, sepertinya memenuhi rongga dada dan membuat adik kecilku mengeras secara perlahan.

“Kamu kok suaranya bergetar Dek, lagi nggak enak badan yah?”

“Nggak kok Tante, saya hanya..”

“Hanya apa hayo! nggak mau ya lama-lama temenin Tante, atau kamu udah ada janji malem mingguan.”

“Saya nggak punya pacar kok Tante, nggak kayak Bima ama yang lainnya.”

Sambil terus duduk berdekatan, tiba-tiba kepala Tante Nova bersandar pada bahuku dan bertanya,

“Dek, Tante mau tanya apa Bima pernah cerita nggak kalo ayahnya punya istri lagi yang jauh lebih muda dari Tante, usianya sekitar 25 tahunan lah.”

“Masa sih Tante, keliatannya Tante sama Om mesra-mesra aja!”

Ketika tangan Tante Nova bergeser untuk bertumpu pada pahaku, secara tidak sengaja menyentuh adikku yang sejak tadi makin mengeras saja dan membuatku berteriak kecil,

“Ah..” Sambil Tante Nova memandangku yang tertunduk malu dengan wajah sendu dan sensual, Tante Nova kembali bertanya,

“Dek, kamu udah pernah berhubungan seksual belum?”

“Be..be..be..lum pernah Tante!”

“Mau nggak Tante ajarin? sebagai ganti kamu ngajarin piano sama Tante.”

Saya diam seribu bahasa, dan tiba-tiba bibir Tante Nova telah menyerbu bibirku secara bertubi-tubi sambil lidahnya terus berusaha menjilat dan meracau,

“Ah..ah..ah..” Sambil terus mencium bibirku, tangan Tante Nova terus meremas telinga dan rambutku.

Tiba-tiba Tante Nova berkata, “Dek! kita pindah ke kamar yuk..”

Sambil bibir kami terus berpagutan, kami pindah ke kamar tidur dan langsung merebahkan badan dengan badanku ditindih Tante Nova. Selanjutnya Tante Nova segera melucuti baju tidurnya dan membentanglah suatu pemandangan indah, payudara yang proporsional (kira-kira 36B) dengan puting warna merah maron dengan dibungkus kulit putih yang mulus tanpa cacat, dan yang lebih lagi adalah selangkangan dengan bulu-bulu hitam yang tidak begitu lebat dengan belahan merah muda yang mempesona.

Dalam keadaan masih bengong, tiba-tiba tangan Tante Nova menarik tanganku danlangsung dibimbingnya ke arah payudaranya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, saya langsung meremas dengan halus sambil memilin puting susunya yang makin tegak dan mengeras.

“Ah.. ah.. ah.. terus Dek, buat Tante puas Dek..” Sambil terus meracau Tante Nova segera melucuti seluruh bajuku, dan mulai meraba-raba daerah selangkanganku serta mulai meremas adikku yang terasa nikmat sekali.

“Punya kamu besar juga ya Dek”

“Boleh nggak Tante jilatin biar makin besar?”

“Emangnya Tante mau gitu..?”

Lansung posisi Tante Nova berubah dan mulai turun perlahan dengan terus menjilati tubuhku, dari leher, dada, perut, dan tiba-tiba kurasakan cairan hangat mulai membasahi batang dan kepala adikku. Dan ketika saya memberanikan diri untuk melihat, rupanya kemaluanku sedang dijilati Tante Nova, kadang-kadang dikulumnya sambil kurasakan kepala kemaluanku menyentuh ujung kerongkongan Tante Nova.

Tiba-tiba Tante Nova merubah posisinya, sambil terus mengulum dan menjilat kemaluanku, Tante Nova memutar badan dengan selangkangannya menghadap wajahku. Terlihatlah suatu pemandangan indah, bulu hitam dengan belahan merah dan segumpal daging merah kecil yang berkilau.

“Jilat Dek, jilat Dek,” pinta Tante Nova.

Tanpa sungkan-sungkan dan membantah, langsung saja kuarahkan lidahku untuk menjelajah sambil terus menghirup harumnya kemaluan Tante Nova yang bagaikan candu itu. Usai kegiatan saling menjilat, Tante Nova segera berbaring dan memintaku untuk bangkit sambil tangannya terus menggenggam adikku dan dituntunnya ke arah kemaluannya.

“Masukkan Dek, masukkan Dek!” pinta Tante Nova, seperti anak kecil yang sedang merengek-rengek.

Sesuai permintaanku, segera Tante Nova menekan tubuhku hingga adikku terarah dengan sempurna, dan terasalah suatu rasa yang sensasional ketika kulit kemaluanku bersentuhan dengan dinding kemaluan Tante Nova yang sudah basah dengan cairan hangatnya.

“Ah.. ah.. ah..” suaraku dan suara Tante Nova memecah kesunyian dandinginnya malam. Sambil saya terus memompa Tante Nova tidak lupa saya meremas-remas seluruh tubuh Tante Nova yang memelukku dengan goyang pinggul yang seirama.

Tanpa berkata apa-apa, Tante Nova membantingku dan tiba-tiba Tante Nova telah menduduki tubuhku dan mulai bergerak turun naik memutar. Saya semakin takjub saja melihat kedua payudara Tante Nova seperti bergejolak untuk memuntahkan isinya.

Sambil kami terus meracau dengan kata-kata yang menunjukkan kepuasan, Tante Nova memintaku untuk membalikkan badannya ke posisi semula sambil memintaku untuk memompa lebih cepat. Lalu kurasakan kemaluanku semakin berdenyut dan kemaluan Tante Nova juga kurasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian tubuh kami mengejang, dan seperti di komando kami berteriak,

“Ah.. ah.. ah..” sambil dari kemaluanku kurasakan keluar cairan nikmat dengan denyut kenikmatan dari dalam kemaluan Tante Nova dan kami saling berpelukan dengan erat sambil terus menikmati kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Usai adegan yang tak mungkin kuhapuskan dari ingatanku, Tante Nova bertanya, “Kamu suka Dek? Mau kan lain kali kita ulangi lagi.”

“Mau Tante.. kapan pun Tante mau, saya akan meluangkan waktu untuk Tante.”

Tidak lama kemudian kami tertidur sambil terus berpelukan hingga keesokan harinya.

Rekan-rekan pembaca, usai kejadian itu kami masih terus melakukan affair. Hal ini berakhir ketika saya menikah 4 tahun yang lalu. Beliau berkata,

“Jangan hianati istrimu, karena Tante sudah merasakan bagaimana dihianati suami.”

Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Saya sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya saya sangat menghargai Tante Nova sebagai istri dan ibu yang baik. Cerita Sex Tante, Cerita Mesum Tante, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex HOT, Ngesex Tante Girang, Ngentot Memek Tante, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.