VIMAX ASLI
Casino Online
Bandar Q
 Poker Uang Asli
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Cerita Seks Digilir Montir-Montir Perkasa

VIMAX ASLI Obat Kuat

sexcrit.com Menyediakan Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Sex Ngentot | Cerita Mesum HOT | Cerita Seks ABG | Cerita Bokep | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa | Foto Bugil Terupdate || Cerita Seks Digilir Montir-Montir Perkasa

Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku, Risa baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yg bernama Winston datang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yg sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yg kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Risa.

Pas sekali saat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu. Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston. Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yg kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup.

Cerita Sex Perkosaan, Cerita Sex Threesome

“Wah…udah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun, siapa tau masih keburu” kata Risa.

“Tanyain dulu Ci, kita tunggu lu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil lu ikut kita jalan aja” Winston memberi saran.

Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yg sedang mendorong pintu.

“Mas…mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yg Hyundai warna merah yg dititip kemarin Selasa itu loh !” kataku dengan terburu-buru.

“Tapi kita udah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi” katanya

“Ayo dong, mas katanya di telepon tadi udah bisa diambil, tolong dong bentar aja yah, saya sudah kesini jauh-jauh nih !” desakku

“Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol” kata seorang pria yg muncul dari samping belakangnya.

Kebetulan sekali pria itu adalah montir yg menangani mobilku ketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama Rozi, agaknya dia tergolong montir yg cukup senior di sini.
Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk mengambil mobilku itu padanya.

Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan.

Aku melambaikan tangan ke arah Risa dan Winston yg menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Rozi menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah mobil yg sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat (sory…aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu).

Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu.

Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yg cukup luas ini tinggallah aku dengan Pak Rozi serta beberapa montir yg sedang menyelesaikan pekerjaan yg tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yg satu-satunya wanita.

“Masih banyak kerjaannya ya Mas ?” tanyaku iseng-iseng pada montir Tampan di dekatku yg sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang.

“Dikit lagi kok Non, makannya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai” jawabnya sambil terus bekerja.

Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Rozi sedang berjongkok di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yg cuma kelihatan kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka.

Hari itu aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yg dadanya agak rendah, lekuk tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yg menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yg aneh kalau para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku.

Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Rozi:

“Masih lama ya Pak ?”

“Hampir Non, ini yg susah tuh melepas yg lamanya, habis sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok”

“Perlu saya bantuin gak ? Bosen daritadi nunggu terus” tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya.

Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yg kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui sedang diintip.

“Oohh…ngga….ngga kok Non” jawabnya terbata-bata.

“Hhoii…obeng kembang dong” sahut montir yg dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong.

Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip,

“Kenapa ? kok bengong ? liatin apa hayo…?” godaku dengan tersenyum nakal.

Kemudian kuraih tangan si montir yg sedang berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yg masih tertutup CD.

“Ooohhh…” desahku merasakan remasan pada kemaluanku.

Pak Rozi menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta langsung menempelkan bibirnya yg tebal dan kasar pada bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yg menggelikitik membuat birahiku semakin naik.

Payudaraku yg masih tertutup baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digeraygi dengan gemas, putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin.

“Hei, ngapain tuh, kok ga ngajak-ngajak !” seru si montir Tampan yg memergoki kami sedang berasyik-masyuk.

Montir di belakangku melambai dan memanggil si Tampan untuk ikut menikmati tubuhku. Si Tampan pun dengan girang menghampiri kami sambil mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka seluruh pakaiannya.

Cerita Sex Popular : Tersengat Nafsu Membara Janda Jablay

Wow…bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yg lebih membuatku terpesona adalah bagian yg mengacung tegak di bawah perutnya, pasti tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam dengan kepala k0ntol kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok dan celana dalamku.

“Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka Meki kaya gini” si Tampan mengomentari memekku.

Pak Rozi dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yg sudah menegang, namun aku tetap lebih suka milik si Tampan karena nampak lebih menggairahkan, milik Pak Rozi juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekeras si Tampan, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat dan bra-ku yg sudah tersingkap.

Kaki kiriku diangkat ke bahu si Tampan yg berjongkok sambil melumat memekku. Teman Pak Rozi yg dipanggil ‘Boy’ itu menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku.

Pak Rozi sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku menggenggam k0ntol Pak Rozi dan mengocoknya perlahan.

“Oookkhh…jangan terlalu keras” rintihku sambil meringis ketika Pak Rozi dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya.

Sementara si Tampan di bawah sana menyedoti dalam-dalam memekku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam memekku sehingga memberi sensasi geli yg luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan dan digelikitik dengan lidahnya.

Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Boy yg mau melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya.

Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu ^_^. Boy langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Rozi yg menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Boy pun akhirnya mengalah dari Pak Rozi yg lebih senior itu. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan k0ntolnya padaku.

Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil mengocok batangnya. Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepala k0ntolnya. Pak Rozi yg sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkan k0ntolnya pada bibir memekku kini sudah mengarahkan k0ntolnya ke liang senggamaku.

Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yg sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku mengemut k0ntol si Boy, kumainkan lidahku di sekujur k0ntol itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yg memanjakan ‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata :

“Oooh…terus Non, enak banget….yahhh !”

Tanganku yg lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si Tampan yg pada saat yg sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan yg meninggalkan jejak merah di kulitnya yg putih. Sungguh kagum aku dengan k0ntolnya dalam genggamanku, yg benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada k0ntol Boy dan berkata pada si Tampan:

“Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya !”

Si Tampan langsung menggantikan Boy dan menyodorkan k0ntolnya padaku. Hmm…inilah yg kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si Boy menggosok-gosokkan k0ntolnya yg basah ke wajahku.

Sambil dioral, tangan si Tampan yg kasar dan berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Rozi melepaskan sepatu bersol tinggi yg kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yg mulus. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini.

Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu di buka dari dalam dan keluarlah seorang yg hanya memakai singlet dan celana pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Rozi dengan jenggot seperti kambing.

Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya pernah lihat sebelumnya, ooohh…iya itu kan montir yg mendengar dan mencatat masalah yg kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini. Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan. Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yg dia lihat tapi kemudian dia mendekati kami.

“Weleh-weleh…gua sibuk cuci baju di belakang, lu-lu malah pada enak-enakan ngentot” katanya “lho, ini kan si Non cantik yg mobilnya diservis itu !”

“Udah jangan banyak omong, mau ikutan ga !” kata si Tampan padanya

Buru-buru si montir yg bernama Dea itu melepaskan celananya dan kulihat k0ntolnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yg melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat deh PR gua, demikian kataku dalam hati.

Pak Dea mengambil posisi di sebelah kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali.

Pak Rozi dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannya pada memekku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yg semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tanganku semakin kencang mengocok dua batang k0ntol di genggamanku yaitu milik Pak Dea dan Bang Boy.

Boy juga menggeram makin keras dan crot…crot…cairan putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali. Setelah dia cabut k0ntolnya, diturunkannya juga kakiku.

“Gantian tuh, siapa mau Meki ?” katanya

Si Tampan langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia menjilati dan menyedot cairan memekku dengan rakus bagaikan menyantap semangka. Pak Rozi menaiki dadaku dan menjepitkan k0ntolnya yg sudah licin diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yg dia lakukan terhadap memekku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku yg tergulung juga ikut kecipratan cairan itu.

Pak Rozi mengelap spermanya yg berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah. Si Tampan minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang senggamaku dengan jari. Tanganku yg lain membimbing batang itu memasuki liang itu.

Aku menggigit bibir dan mendesis saat k0ntol itu mulai tertancap di memekku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku, rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu, aku dapat merasakan urat-uratnya yg menonjol itu bergesekan dengan dinding memekku. Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoygkan tubuhku naik-turun.

Mataku merem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih k0ntol Pak Dea di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan k0ntol Pak Rozi, batang yg sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Boy yg entah kapan sudah di belakangku.

Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Dea memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala k0ntol itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak mengurangi keaktifanku menggoyg tubuhku dan mengocok k0ntol Pak Rozi dengan tangan kiriku.

Payudaraku yg ikut bergoyg naik-turun tidak pernah sepi dari jamahan tangan-tangan kasar mereka. Sepertinya Bang Boy mau main belakang karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yg tak lain kepala k0ntolnya melesak masuk ke dalamnya.

Ketiga lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga k0ntol. K0ntol Pak Dea dalam mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yg sudah basah oleh sperma Bang Boy dan Pak Rozi jadi tambah belepotan oleh spermanya yg lebih kental dari milik dua orang sebelumnya.

“Aahh…aahh…dikit lagi Bang !” desahku karena sudah akan klimaks lagi

Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga kemaluanku bersamaan dengan k0ntol si Tampan yg terasa makin membengkak dan sodokannya yg makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si Tampan. Cairan hangat dan kental menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang memekku.

Akhirnya tubuhku kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yg bidang berbulu itu dengan k0ntol masih menancap, sementara dari belakang Bang Boy masih getol menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Rozi mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yg adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya.

“Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak ?” tanyaku heran

“Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih” jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si Tampan untuk menyiapkan selang air.

Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di lantai marmer itu.

“Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah” katanya sambil membantuku melepaskan kaosku yg tergulung.

Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yg masih tersisa di tubuhku. Si Tampan menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku.

“Awww…dingin !” desahku manja merasakan dinginnya air yg menyemprot padaku.

Pak Dea melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku yg masih disemprot si Tampan, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yg lengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih.

Beberapa menit lamanya si Tampan menyirami kami dengan air dingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggeraygiku. Pak Dea mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pingggangnya dan memasukkan k0ntolnya ke memekku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri.

Pak Rozi merangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang Boy berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yg terangkat dengan gemasnya. Si Tampan menggeraygi payudaraku yg lain sambil menggelikitik telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu.

Cerita Sex TOP : Perkasanya Sopir Angkat Yg Ganteng

Beberapa menit kemudian Pak Dea klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam memekku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah.

Bang Boy membentangkan pahaku dan menancapkan k0ntolnya ke memekku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika k0ntol itu melesak ke dalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir memekku. Aku kembali orgasme yg kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut k0ntolnya dan menumpahkan isinya di atas perut rataku.

Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah. Mereka juga sudah kecapean semua, ada yg duduk mengatur nafas, ada juga yg mengelap badannya yg basah. Pak Rozi memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yg basah.

Setelah Pak Rozi dan Bang Boy selesai memasang onderdil yg tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Rozi yg ternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas daritadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka berempat.

Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.

Cerita Sex Perkosaan, Cerita Sex Threesome, Cerita Sex Bergilir, Cerita Sex Fantasi, Cerita Sex Terbaru, Cerita Seks Dewasa, Cerita Mesum Birahi, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex Mesum, Cerita Seks Lucah, Cerita Sex Ngentot, Foto Telanjang Artis, Foto Bugil ABG, Foto Sex Model “Cerita Seks Digilir Montir-Montir Perkasa” HOT 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.