VIMAX ASLI
VIMAX
OBAT PEMBESAR PENIS
ezgif-com-resize-1
ezgif-com-resize
obatpembesarpenis

Cerita Ngentot Penjaga Rental Sex

VIMAX ASLI

sexcrit.com Menyediakan Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Sex Ngentot | Cerita Mesum HOT | Cerita Seks ABG | Cerita Bokep | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa | Foto Bugil Terupdate || Cerita Ngentot Penjaga Rental Sex

Sebut saja namaku Arman (samaran). Aku kuliah di YK semester tengah-tengah. Aku mempunyai wajah yang ganteng dan berat badan yang seimbang dgn tinggi badan, seketar 171 cm. Dan penis yang ukurannya dapat mengerangkan nafsu para cewek-cewek yang gila sama SEX. Aku termasuk orang gila sama ngesex, sering sekali aku melakukan onani (baik dgn sabun, body lotion, tangan kosong), tapi aku atur sedemikian rupa agar aku terus fit.

Hobby-ku nonton film xxx sambil mengocok-ngocok penis yang sudah tidak sabaran mengeluarkan sperma. Setiap hari penisku harus kulatih dgn mengelus-elus dan mengocok-ngocok pelan dan halus (tidak sampai keluar) agar tetap pada kondisi ready stock. Aku mengeluarkan sperma biasanya pada saat nonton BF, aku telanjang sambil tiduran, lama-lama penisku menjadi tegang dan kuimbangi dgn kocokan lembut di batang penisku, biasanya kuletakan penisku di antara dua telapak tangan dan kumaju-mundurkan tangan kanan dan kiri berlainan arah.

Cerita Ngentot ABG, Cerita Ngesex ABG, Cerita Sex Perawan, Ngentot ABG Sange, Ngesex ABG Birahi

Cerita Ngentot | Waahhhh.. nikmat sekali, dan kalau aku sudah sampai orgasme, aku lalu mencari adegan waktu ceweknya di atas cowok di bawah, dan ceweknya bergerak liar memutarkan memeknya di kemaluan cowoknya. Lalu aku semakin puncak dan kupercepat kocokan dan sampailah,

“Creett.. ah.. ccrreet..” Muncratlah spermaku sampai 4–5 kali, dan wah.., badanku lemas, dan aku tertidur dgn bugil, dan sperma dimana-mana (di dada, paha, karpet, tangan dan bantal).

Kejadian yang sungguh mengesankan buatku, saat kupinjam VCD BF ke salah satu rental VCD di daerah Yogya. Pinjam CD BF ini aku rutin satu minggu sekali, dan pinjam paling tidak 5 VCD (puas nek..). Saat aku masuk rental itu, terlihat yang jaga rental seorang cowok dan cewek, lalu kudatangi yang cowok (maklum kalau sama si cewek agak malu kucing).

“Mas.., full..” kataku sambil melepas helm dan duduk di kursi yang disiapkan.

“Oh.. ya..,”

Tidak lama cowok itu mengambil map warna merah yang di dalamnya berisi pilihan gambar CD BF dgn nomor pemesanan. Sesaat kupilih-pilih BF yang ada dari halaman pertama, sambil mencuri-curi pandang ke arah cewek yang sedang baca novel, maklum saat itu sedang sepi, jadi mereka bisa santai, kuperhatikan cewek disitu yang masih muda.

Ya sekitar sama dgnku, mungkin tingginya tidak begitu tinggi, sekitar 158 cm, dan berat badan yang montok sekitar 54 kg. Yang membuatku tidak kuat melepas pandangan dari dia adalah ukuran payudaranya yang cukup besar dan menggantung bebas di balik kaos ketat. Wah.., ini pepaya yang besar dan kenyal serta empuk kalau dihisap putingnya, maklum saja ukuran 36B, mana tahan kalau penis ini tidak naik.

Penisku saat itu lagi pemanasan, ya.. tegang-tegang sedikit selain akibat pilih-pilih VCD dgn gambar yang bugil ditambah lagi suguhan susu yang montok itu.

Tiba-tiba si cowok bilang,

“Yang mana Mas..?”

Aku menjadi kaget, terganggu perhatianku terhadap susu montok itu,

“Oh.., Ya.. ini nomer 27, Mas..”

“O.., Lis.. nomer 27..” Segera si cewek itu berdiri dan berbalik mencari VCD ******* nomer 40.

Wow.., ternyata dia memiliki pinggul yang oke, tidak kalah lagi pantat yang super menonjol dan semok. Aku terus tidak henti-hentinya mengamati belahan pantat cewek itu yang kutahu namanya Lilis. Belahan pantat Lilis terpampang jelas, karena dia pakai celana kain ketat.

“Oh.. tidak ada, kelurar..” kata Lilis sambil kembali duduk.

Terus aku tidak malu-malu pindah duduk ke dekat Lilis biar jelas nomor berapa yang mau kupinjam.

“Sebentar Mbak.., ini nomer 13 ada nggak..?”

“Sebentar saya cariin..”

Lilis lalu berdiri lagi dan membelakangiku. Dia mencari cari atas sampai bawah, setelah lama mengurut, dia menemukan nomor 21 tersebut.

“Ah.. ini Mas ada kok..”

“Oh ya..,”

Aku lalu memeriksa VCD itu, kucuri pandang ke susu yang montok itu. Memang kalau makin dekat makin jelas tonjolan susu Lilis ini, putingnya nampak tonjolannya di tengah-tengah gundukan payudaranya. Lilis mengerti gelagatku yang terus mengamati susunya itu.

“Mas.., mana lagi..? Kok jadi bengong..!”

“O.. ini Mbak.., nomer 40,” aku kaget sekali tiba-tiba diperingatkan seperti itu.

Aku sengaja memesan nomor yang baling bawah, sehingga Lilis nanti bisa menunging membelakangiku. Lilis berdiri, dan ternyata dia langsung mencari cari deret yang paling tengah, otomatis dia sedikit menungging. Wow.., ini baru pemandangan yang tidak kalah serunya deh.. Pantat dan belahan pantat Lilis benar-benar asli dan oke sekali, kelihatan di selakangannya agak menjorok ke dalam gundukan tempat memeknya singgah. Wah.. penisku tidak sadar sudah setengan tegak pengaruh dari pantat montok Lilis itu.

“Ini Mas.., nomer 40..”

“Oh.. ya.. Mbak sekalian 45, 50, 49 deh..”

Biar dia agak lama menungging, dan aku dapat menikmati belahan pantat Lilis yang montok itu, dan sekilas gundukkan memek yang tertutup celana ketat Lilis.

“Ini Mas.., 45, 50, 49 ada lagi.”

“Udah cukup Mbak..”

Aku periksa, mungkin VCD nya tergores atau tidak.
“Masnya sering pinjem BF di sini ya..?”

“Ya.. lumayan sih.., Kalo nggak seminggu sekali baru kemari..”

“Emmhmm.. rutin ya.. suka nonton BF ya.. Mas..?”

“Ya.., kalo lagi perlu nganggur aja, lagi bete nih..!”

“Kok bete.. kenapa..?”

Aku mulai akrab dgn Lilis, dan kalau ngomong sudah tidak nanggung-nanggung lagi, aku yakin dia sudah mengerti masalah sex.

“Ya.. kalo nggak dikeluarin bisa pusing nih..!”

“Ha.. ha.. ya.. keluarin aja..!” kata cowok yang ada di sebelah Lilis, ternyata cowok itu mendengar percakapanku dgn Lilis.

“Lah.. ya.., makannya aku pinjem BF ini, alat perangsang..”

Setelah itu aku pulang dan menyalakan komputer dan nonton BF itu, tidak lupa aku telanjang dan menyiapkan handuk kecil untuk spermaku nanti muncrat dan body lotion sebagai pelicin. (Khayalan batang kemaluanku di dalam memek cewek) Dan pada hari itu aku menghabiskan waktu dgn onani party di kamarku, nikmat dan puas.

Lalu esoknya aku kembalikan VCD BF itu. Sesampainya di depan rental X ini, kelihatan sepi-sepi saja, lalu aku masuk dan ternyata aku hanya melihat cowok saja yang jaga.

“Mas, kembaliin VCD nih..!”

“I.. ya. Se.. bentar ya.., tang.. gung..” sambil nafas yang terengah-engah.

Aku curiga cowok ini kenapa, dia duduk dan kedua tangannya menggenggam kursi dgn erat dan dia kok melihat ke bawah terus.

“Ya.., tung.. gu ya.. Mas.. Ah.. ye.. ter.. us..” tidak lama cowok itu mengejang, dan,

“Aku.. ke.. luar.., ah.. ah.. ah..”

Setelah itu tidak lama kemudian keluarlah seorang cewek dari bawah tempat duduk cowok itu, wah.. ternyata Lilis. Kelihatan sperma cowok itu ada di mulut Lilis dan sebagaian di rambutnya.

“Halo Mas.., kembaliin VCD ya..?” Lilis menyapa dgn santainya.

“E.. i.. ya.”

Lilis lalu menuju ke kamar mandi yang letaknya di belakang rental X ini. Lilis masih berpakaian lengkap, oo.. ternyata dia baru mengkaraoke batang kemaluan cowok ini.

“Ya Mas, ada yang bisa saya bantu..?” sapa cowok yang baru dipuaskan oleh Lilis lewat mulut binalnya, sambil berdiri dan memasukkan penisnya yang masih basah karena sperma yang keluar terlalu banyak.

“Iya.. ini VCD nya.”

“Oh.., sebentar ya, Mas..” Cowok ini memeriksa VCD apa ada yang tergores atau tidak.

Lalu kucoba untuk memberanikan diri bertanya sesuatu pada Mas ini, aku menjadi yakin kalau rental ini benar-benar xx.

“Mas maaf ya.., mau tanya.”

“Ya.., kenapa..?”

“Tadi itu..” sebelum aku selesai ngomong,

“Oh.., tadi itu Lilis minta oral sama penis ini, biasa kok Mas, disini nyantai aja.”

“O.., jadi siapa saja bisa ya..?”

“Bisa aja, kalo sekedar oral, kocok penis, emut penis dan elus-elus aja.”

“Kalo.., sorry ya Mas.., kalo nge-sex sungguhan gimana..?”

“Ya, tanya aja ama Lilis, temennya banyak kok. Dia seneng banget kalo nge-sex. Ya.. kan enak sih.”

“Jadi kalo onani disini bisa ya..?”

“Kalo itu sih para pelanggan BF sering Mas. Si Lilis tuh yang sering ngocokin penis cowok. Ya.., kalo Lilis nggak capek aja dan lagi ‘MUT’.”

Dan tidak lama kemudian Lilis kembali dari kamar mandi, kelihatannya dia baru keramas rambutnya, maklum terkena muncratan sperma cowok penjaga rental.

“Halo Mas. Pinjem BF lagi..?”

“Oh.., nggak kok.”

“Lis.., ini Mas mo kenalan ama kamu lebih dalam..” kata cowok rental X itu.

Aku kaget sekali cowok itu bilang seperti itu, “Ya Mbak.., boleh nggak..?”

“Itu Lis.., Mas ini mo kocokan binal kamu, kamu mau nggak..?”

“Bisa..” kata Lilis sambil mengeringkan rambutnya dgn handuk.

“Ya.. udah sana ajak ke atas aja Lis.., biar rentalnya kutunggu.”

Wah.., ini waktunya menguji perkasaanku, sudah lama penisku tidak ketemu sama sahabat karib si memek.

Lalu aku dan Lilis naik tangga menuju lantai dua, dan Lilis membawa satu VCD BF dari rental itu. Sesampai di sebuah kamar, Lilis mempersilakanku untuk duduk di ranjang yang cukup besar juga. Lilis lalu mengunci pintu, dia meletakkan handuknya di kursi dan menyalakan TV dan VCD player, dan memutar VCD BF itu dgn volume yang cukup keras.

Tidak lama kemudian terdengarlah erangan nafsu, dan terlihat adegan bugil-bugil dari VCD tersebut, ini membuat batangku yang tidak sabar lagi melihat kemolekkan tubuh Lilis. Lilis lalu membuka jendela selebar-lebarnya, agar suasananya lebih natural. Cerita Mesum

“Gimana Mas, e.. nama kamu siapa sih..?”

“Aku Arman, kamu pasti Lilis to..?”

“Kok tau..?”

“Ya.. tau dong..,”

Tidak lama kemudian Lilis mendekatiku, dan duduk di sampingku, dan tidak segan-segan lagi tangan kanan Lilis memegang batang kemaluanku yang masih terbungkus celana pantangku, dielus-elus dan kadang-kadang diremas-remas.

“Arman suka sex ya..?”

“Ya. Ah.., kamu pinter deh nge-sex..!”

“Ah.., kata siapa..?” sambil tetap mengocok-ngocok kemaluanku, dan aku masih pasif merasakan gesekan tangan Lilis.

“Ya, ah.., hemm.., kata Mas di bawah tadi.”

“Ooo, Mas Ucok toh..,”

Sekarang Lilis duduk di hadapanku, dan menjongkok sambil tangannya tetap mengocok habis batang kejantananku yang sudah setengah tegang itu.

“Ar.., udah dibuka ya..? Biar penis kamu nggak tersiksa ama celana dalam kamu, biar ngacengnya sempurna.”

“Ya.., udah.. buka aja..”

Lilis pelan-pelan membuka celanaku dari sabuk sampai membuka resleting-nya, setelah celanaku terbuka, aku sedikit mengangkat pantatku untuk memudahkan Lilis melepas celana, dan sekarang aku tinggal menggunakan Celana dalam biruku, dan pakaianku masih terpakai. Lemparkan celanaku di kursi dan Lilis mulai duduk kembali di selakanganku, dan aku masih dalam keadaan duduk di pinggir ranjang rental X.

“Hemm.., ah.. penis kamu kelihatanya besar juga Ar..,” puji Lilis sambil mengelus-elus naik turun penisku yang masih terbungkus Celana dalam.

“Ah.. ya.. hem.. oughg.. ye..” erangan yang tidak dapat kutahan lagi, ditambah erangan dari VCD BF yang dinyalakan oleh Lilis tadi menambah hot suasana di kamar rental X.

Lilis sedikit demi sedikit membuka Celana dalam ku, dan terlihatlah batang kemaluanku yang sudah mengacung keras seperti rudal siap lepas kendali.

“Wow.., Ar.. penismu lumayan juga nih..” sambil tetap mengocok naik turun kejantananku,

“Kamu rawat ya..? Kok tegaknya sempurna banget sih..? Keras lagi..,”

“Ah.., te.. rus.. Lis.. don.. stop..!”

Lilis mulai mengocok keras, cepat, dan tiba-tiba pelan, keras lagi, pelan lagi. Wah.. ini membuat aku menjadi kelabakan, ternyata Lilis ahli juga membuat cowok melayang, hampir saja aku keluar tapi aku tetap bertahan.

Kemudian Lilis mulai mengocok batang kemaluanku dgn tangan kiri dan tangan kanannya mengelus-elus telur. Wa.., ini nikmat sekali, geli-geli gimana ya..! Kadang-kadang dia menusuk-nusuk anusku dgn telunjuk kanannya.

“Ah.. ya.. te.. rus.. Sel.. kamu.. ahli deh..!”

Sekarang Lilis mulai dgn mulutnya, perlahan-lahan dimasukkan penisku ke mulut binalnya. Saat masuk mulutnya,

“Ah.., hemm.. ye.. ah..”

Aku sedikit mengangkat pantatku, terasa dingin geli dan enak sekali, lain dgn onani. Perlahan-lahan Lilis mengkocok penisku dgn mulutnya dan lidahnya yang lincah.

“Ha.., ough.., ehmm.., ye.. te.. rus..” kupegangi rambutnya, aku tarik turunkan kepalanya untuk mengatur kocokan mulutnya di penisku.

“Ehhmm.., Eh.. em..,” suara mulut Lilis yang penuh dgn batangku.

Tidak lama dia menarik nafas, dan mengeluarkan penisku dari mulutnya.

“Ah.., hemm.., kamu kuat sekali Ar.. Biasanya cowok-cowok kalo Dioral dikit udah keluar..”

Lalu dia melanjutkan dgn menyedot telurku, dan dilepaskan sampai bersuara,

“Ploks.. ploks..”

tarian lidah Lilis di ujung kepala penisku dan sampai anusku juga tidak ketinggalan dari nafsu seksnya itu. Dan setelah beberapa menit lamanya aku bertahan dari tarian lidah Lilis di penisku, aku mulai merasa tidak kuat menahan spermaku yang mau keluar.

“Ah., Lis.., aku.. mo.. ah.. ye.. keluaarr..!”

Dan Lilis mulai memasukkan semua penisku di mulutnya, dan dikocoknya dgn cepat dan keras. Tidak lama kemudian,

“Ahh.. crroot.. crroott.. ah.. ye.. yes..!”

Lilis menutup mulutnya rapat-rapat supaya spermanya tidak keluar dari mulutnya. Dan selama 30 detik lamanya dia menekan mulutnya tetap di penisku, dan meyakinkanku tidak keluar lagi. Lalu dia melepaskan mulutnya dari penisku, dan menelan semua spermaku walaupun ada yang keluar sedikit dari mulutnya.

Aku lemas dan telentang di atas ranjang dgn telanjang bawah saja, dan aku merasa panas dan aku melepas semua pakaianku. Sekarang aku bugil, telanjang tanpa sehelai benang di hadapan Lilis yang menikmati spermaku.

“Kamu lumayan juga Ar..! Bisa bertahan beberapa menit lamanya.”

“Ah.. biasa aja tuh..!”

“Kamu pake obat ya..? Irex kali..?”

“Ah.. nggak juga.”

“Udah.., kamu istirahat dulu. Aku mo bersihkan mulutku nih.. Eh, makasih spermanya lho.. gurih..!” katanya sambil terseyum.

Dia menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Ternyata dia sikat gigi, biar tidak bau kali. Aku beristirahat sambil telanjang menunggu Lilis keluar dari kamar mandi. Dgn ditemani VCD BF yang dari tadi tidak usai-usai, menambah batang kejantananku tidak mau tidur, penisku masih tegak walaupun tidak sekeras tadi. Tidak lama kemudian Lilis keluar dari kamar mandi, dia tetap berpakaian lengkap, kaos ketat dan celana kain ketat. Lilis mendekatiku yang lagi telentang telanjang di ranjang, dia duduk di sampingku.

“Lho.., penis kamu kok nggak turun-turun sih..?”

“Ya.., itu lihat BF mana bisa turun, apalagi susu kamu yang montok itu menggoda penisku.”

“Ah.., kamu bisa saja.” candanya sambil langsung tangan kanannya mengocok-ngocok pelan batangku yang sudah setengah tegak.

Perlahan-lahan dia menunduk dan mencium bibirku dgn bibir tebalnya itu. Aku langsung melumat habis bibirnya, permainan lidah Lilis memang mahir, dan aku imbangi saja dgn permainan lidah yang tidak kalah mahirnya.

Sekitar beberapa menit kami bermain kiss dan kiss, dan Lilis tetap mengocok penisku, aku mulai menjelajahi susunya yang montok itu, kuremas dgn tanganku yang dari tadi gatal sekali. Terasa kenyal dan empuk sekali susu Lilis, kuelus-elus dan kugesek-gesek halus putingnya dari luar kaos. Sekarang Lilis melepaskan lumatan bibirnya, dan mengerang merasakan tarian tanganku di susunya itu.

“Ah.., ye.. em.. enak.. Ar.. te.. rus.. ya.. itu.. ough..” tangan Lilis tetap mengocok-ngocokku dan aku berusaha melepaskan kaos Lilis dan dia langsung membantunya dgn melepaskan sendiri kaos ketatnya itu.

Nah.., sekarang terpampang susu Lilis yang tertutup BH 36 itu.

“Lis.. aku buka ya.. biar terlihat bebas..”

“Buka aja..”

Lilis lalu mengangkat kedua tangannya memudahkanku melepas kaitan BH yang ada di belakang, susu Lilis yang montok itu terpampang bebas di depan wajahku, dan aku langsung saja melahap habis susu Lilis yang besar sekali. Kusedot, kuremas dan pelintir putingnya.

“Ah.. ye.. oug.. hem.. te.. rus.. Ar..!” mulai tidak jelas ucapan Lilis.

Kami mulai duduk berhadap-hadapan, dan selakangan Lilis mulai dibuka lebar, dan aku duduk di antaranya, sehingga aku puas mempermainkan susu montok Lilis. Kupegang kedua puting Lilis yang cukup menonjol itu, dan kupelintir bebarengan.

“Ah.. ye.. ah.. aow.. yes.. no.. ough..”

Kepala Lilis bergerak tidak karuan, ke kanan ke kiri. Kurebahkan Lilis dan kududuk di perutnya, aku mengarahkan penisku di belahan susu Lilis, dan kurapatkan susu Lilis yang besar itu untuk menjepit penisku dan aku maju-mundurkan penisku.

“Ah.. Lis.. su.. su.. ah.. ye.. em.. puk enak..” aku mulai kocok susu Lilis sampai susu Lilis berwarna merah.

Ternyata Lilis menikmati ini, dan aku tidak sabaran lagi ingin menikmati memek cewek ini. Aku mulai turun dan mengelus-elus memek Lilis dari luar celana ketatnya, terasa sekali memeknya sudah becek sekali akibat permaian panas kami. Kusuruh Lilis berbalik telungkup, dan terlihat resleting celananya masih tertutup rapat. Kumulai menurunkan resleting itu, Lilis sedikit mengangkat pantatnya agar memudahkanku untuk melepas celananya, dgn posisi menungging ini pantat Lilis kelihatan makin montok dan bahenol.

Tidak lama kulepas celana ketat Lilis. Wah.., ternyata Lilis benar-benar terangsang sekali. Celana dalam kuning tipisnya bawah total, dgn posisi menungging ini bongkahan memek makin terlihat, apalagi Lilis merenggangkan selakangannya. Aku mengelus-elus bongkahan itu dgn tangan telunjukku, Lilis sedikit mengangkat pantatku akibat rangsangan tanganku, dan biasanya pantat Lilis otomatis maju mundur dgn sendirinya.

Lalu aku melepas Celana dalam kuning tipis mulik Lilis itu dgn pelan-pelan, dan Lilis memberi sensasi dgn memutar-mutarkan pantatnya, wowo.. woo.., ini baru sex dan super model sex, dia pintar sekali meningkatkan nasfu sex lawannya. Terlepas sudah Celana dalam Lilis, terlihat bebas pantat yang putih mulus tanpa cacat dan memek yang memerah basah dan berambut rapih. Aku mulai mengelus-elus permukaan pantat Lilis.

“Ah.. Ar.. ehmm.. ouhghh.. ah.. ye.. langsung aja Ar.., aku.. nggak.. tahan.. oh.. ye..” sambil merem melek Lilis menahan nafsunya.

Langsung aku mendekatkan wajahku di belahan pantat Lilis, dan langsung melumat habis memek Lilis dalam posisi menungging.

“Ah.. ye.. dalam.. Ar.. ough.. ye.. oh.. ye..” sambil meliuk-liukkan tubuh semok-nya itu Lilis mengerang tidak karuan, karena kupermainkan klit-nya Lilis dgn lidahku.

Kunaik-turunkan lidahku di penjolan daging itu. Belahan memek Lilis lumayan tebal, dan merah warna dalan memeknya dan becex sekali. Beberapa saat kemudian aku memasukkan dua jariku , yang satu kumasukkan di memek Lilis dan yang satu lagi kumasukkan di anusnya.

Pelan-pelan kumasukkan,

“Hemmah.. pelan.. pelan.. Ar.. ya.. te.. rus di.. kit..lagi.. ough..” Lilis mengangkat pantatnya sebagai reaksi jari masuk di memek dan anusnya. Pelan-pelan kukocok anus dan memek Lilis dgn jariku.

“Yac.. ah.. le.. bih.. cepat.. Ar, oh.. ye.. oh.. no.. ye.. ya.. oug.. hemmh.. cepet..!”

Aku mulai mempercepat kocokanku di kedua lubang kenikmatan Lilis. Sementara itu aku tidak menyia-nyiakan susu yang menggelantung bebas. Dalam posisi nunggi ini aku dapat melihat dgn bebas gerakkan tubuh Lilis yang bahenol dan montok. Kuremas dan pelintir putingnya.

“Ah.. Ar.. aku.. kee.. ke.. lu.. ar.. nggaa.. kuu.. at..”

Aku merasa Lilis mulai dalam kondisi orgasme yang memuncak, kupercepat kocokan tanganku di memek dan anus Lilis. Tidak lama kemudian Lilis mengejang dan mengangkat badannya dgn gemetaran, dan terasa cairan hangat dari dalam memek Lilis.

“Serr.. serr..” lumayan banyak sampai keluar dari permukaan memek Lilis.

Lilis lelah dan terkulai lemas di ranjang dgn posisi telungkup telanjang. Lalu tanganku kucabut dari memek dan anus Lilis, terlihat cairan yang lumayan kental dan putih di jariku, lalu kuusapkan ke kejantananku sebagai pelicin. Kukocok-kocok pelan dan lembut penisku agar tetap tegang dan tegak berdiri.

Sementara itu Lilis telanjang dan membelakangiku, aku lalu membalikkan dia.

“Lis, orgasme kamu hebat banget deh..”

“Oh.. ah.. kocokan jari kamu hebat sekali, kamu belajar dimana sih..? Kok tau kelemahanku..?” sambil terus mengocok penisku.

“Ya.. nonton BF aja kan udah pengalaman.”

“Ah.. kamu bisa aja.” katanya sambil menggantikan tanganku untuk mengocok batangku yang mau keluar lagi.

“Lis, boleh aku coba memek kamu ini..?” sambil kuelus-elus memeknya.

“Boleh..”

Lalu kulebarkan selakangan Lilis, dan kurangsang dulu dgn oral di memeknya. Lidahku menyusuri memeknya dari atas ke bawah dan ke atas lagi dan seterusnya. Lilis mulai mendesah keenakan.

“Ehhmm.. ah.. ye.. Ar.. sekarang aja penismu masukin deh..!”

Lalu kupegang kedua paha Lilis, lalu kuangkat ke atas, terlihat jelas memek Lilis yang sudah membuka lebar dan becek. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke memek Lilis.

“Ouhg.. hemm.. ah.. ye..” erangan Lilis menerima sodokan pertama penisku.

Aku mulai memaju-mundurkan penisku dgn pelan-pelan.

“Oh.. ye.. shiit.. ah.. ye..” erangku.

Enak benar memek Lilis, dindingnya berdenyut-denyut. Aku mulai percepat kocokanku, dan semakin cepat.

“Ah.. Ar.. yes.. oh.. no.. ough.. hemm.. ya.. ya.. te.. rus.. Ar.. dalam..” kepala Lilis yang tidak karuan ke kanan dan ke kiri.

Kuvariasi kocokanku dgn pelan-pelan, lalu tiba-tiba cepat sekali, pelan lagi cepat lagi dan seterusnya, biasanya kuputar pantatku agar penisku memutar di memek Lilis.

“Ya.. ini.. oke.. Ar.. te.. rus.. ough.. ye.. hem..” Lilis menyukai gerakan memutar dari pantatku.

Sekitar 3 menit gerakan ini berlangsung, kubalikkan Lilis dgn posisi menungging, dan kutancapkan lagi penisku di memek Lilis dari belakang. Dgn pegangan pinggul Lilis yang semok itu aku langsung percepat.

“Oh.. ye.. Lis.. memekmu oke..”

“Penis kamu.. ouhg.. hemm.., hebat.. Ar.. te.. rus.. da.. lam..!”

Setelah beberapa saat, tiba-tiba, “Ah.. Ar.. aku akan, aku.. ke.. luar..!”

“Ta.. han.., nanggung nih! Ah.. ye.. hemm..!”

Terasa aku sudah sampai, kusuruh Lilis untuk duduk di atasku, dan dia memegang penisku, dan dimasukkannya ke memeknya.

“Ouh.. ya.. Lis.. kamu.. hebat..!”

“Ya.. Ar.., cepet ya..! Aku, keluar.. ah.. hemm..!”

Lalu Lilis mempercepat gerakannya dgn sangat liar, dia merangkulku dan menggerakkan pantatnya untuk mengocok batang kejantananku dgn cepat.

“Oh.. Ar.. aa.. ku.. ngga.. k.. tahan.. keluar.. hem..!”

“Ki.. taaa.. samaannn.. aku.. keluarrr.. juga..”

Dalam hitungan tiga detik, “Crreet.., crreett.. ah.. ah.. ye..”

“Seerr.., sreerr..” kumuncratkan spermaku ke dalam rahim Lilis, dan terasa sekali semburan cairan hangat Lilis di kepala penisku. Lilis lemas di dadaku, dan kami tertidur di ranjang itu dgn bertelanjang ria Setelah istirahat beberapa jam, aku terbangun, ternyata Lilis sudah tidak ada di sampingku. Lalu kukenakan bajuku dan turun ke tempat rental, dan ternyata Lilis ada disana.

“Mas Arman udah bangun ya..? Nggak mandi dulu Mas..?”

“Oh.., nggak Lis, makasih.”

“Nggak pinjem BF lagi..?”

“Ah.. tidak dulu. Lagi pembuangan besar-besaran tadi di atas.”

Lilis tersenyum, lalu aku pulang ke kostku dan aku langsung mandi. Besok-besoknya aku ke rental X itu untuk kocokan penis saja sama Lilis. Setelah beberapa bulan aku tidak kesana, kuketahui Lilis tidak di situ lagi. Kutanya sama Mas yang jaga di rental X itu dimana Lilis berada, ternyata Lilis ke Jakarta. Wah.., nyesal sekali nih.. mulai nih.. tidak ada pemuasan sex selain onani deh.

 

Cerita Ngentot ABG, Cerita Ngesex ABG, Cerita Sex Perawan, Ngentot ABG Sange, Ngesex ABG Birahi, Cerita Sex HOT, Cerita Mesum HOT, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Mesum, Cerita Sex Terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita HOT Ngentot, Cerita Seks Lucah, Cerita Seks Remaja, Cerita Dewasa Populer, Cerita Sex Janda, Cerita Seks Tante, Foto Telanjang ABG, Foto Sex Model, Foto Bugil Terupdate “Cerita Ngentot Penjaga Rental Sex” HOT 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.